“Universitas Stanford seperti bahan bakar yang menggerakkan mesin besar bernama Silicon Valley. Terus menerus memberikan tempat ini orang-orang baru, ide-ide baru, dan berbagi hasil penelitian yang bermanfaat bagi perkembangan industri teknologi, dan menjadi yang terdepan melahirkan inovasi-inovasi baru”

– catatan editor-

Artikel asli dalam Bahasa Inggris oleh: Alexandra Wolfe

Ditranslasikan ke dalam Bahasa Indonesia oleh: Edy Kesuma

Dicek dan ditinjau ulang oleh: Reopan editor


Pernah suatu waktu, kuliah di kampus seperti Harvard, Yale atau Princeton adalah jalan bagi seseorang agar bisa menjadi bagian komunitas orang-orang elit East Coast, Amerika. Namun saat ini, kuliah di Universitas Stanford bisa membuat para mahasiswanya menjadi seorang milyuner.

Berdasarkan penilaian dari para alumni Stanford yang berkumpul di lantai tiga ruang Huang Engineering Center bulan Mei lalu – CEO Yahoo Marissa Mayer, co-founder Instagram Mike Krieger, diantaranya – para mahasiswa Stanford seperti mendapatkan berbagai gelar Sarjana di Silicon Valley. Dan jika orang-orang ini (berada disana untuk merayakan ulang tahun ke-25 program Pasca Sarjana mereka, yaitu Symbolic System) adalah penandanya, maka Stanford telah menggeser Ivy League (8 Universitas ternama di Timur Laut Amerika) dalam hal output dari alumninya. Melalui Stanford Computer Forum, yang berperan dalam menyelaraskan antara area teknologi perusahaan dengan penelitian-penelitian Stanford, ke Institut Desain Universitas, ke 40 program kewirausahaan dan beberapa modal ventura, ekuitas swasta dan klub-klub aplikasi iPhone, Stanford telah menjadi lahan subur bagi penggiat Startup.

Universitas Stanford

Universitas Stanford

Di hari kedua konferensi Symbolic System, dimana mahasiswa dan alumni “Sym Sys” menghormati program Stanford yang mengeksplorasi ilmu kognitif, kecerdasan buatan dan interaksi manusia dengan komputer. Ini adalah kebebasan sains yang pararel dengan kebebasan seni: Para mahasiswa Sym Sys mengambil pelatihan dalam beberapa rentang ilmu seperti ilmu komputer, linguistik, psikologi dan filosofi. Dalam sejarah perjalanan 25 tahun program ini, terdapat persentase yang signifikan dimana 725 alumninya telah menjadi tokoh-tokoh penting dalam bidang teknologi, dan saat ini, para eksekutif dari perusahaan ternama di Silicon Valley – sedang mendapatkan penghormatan di atas podium.

Audien yang datang benar-benar memperhatikan apa yang disampaikan oleh rekan alumni mereka, mendengarkan apa yang mereka peroleh saat mengikuti program tersebut. Wakil presiden software iPhone Apple, Scott Forstall, memberitahukan bahwa studi dari Sym Sys “memberikan keyakinan kepadanya bahwa kita bisa membangun sebuah keyboard layar sentuh yang mudah digunakan dan dapat bekerja dengan baik.” Dia menutup pidatonya dengan mengatakan, “Saya rasa ini adalah jawaban panjang lebar untuk memberikan penghargaan kepada Symbolic System untuk peranannya dalam pengembangan iPhone dan iPad.

Marissa Mayer yang pergi meninggalkan Google untuk menjadi CEO baru di Yahoo, berdiri dan berkata satu-satunya alasan dia dipilih untuk bekerja di perusahaan antarmuka pengguna adalah karena bosnya mengetahui dia mengambil studi psikologi, sebuah persyaratan dalam Sym Sys. Kelas lain, Filosofi 160A yang terkenal sulit, katanya, “memberikan saya banyak kepercayaan diri pada saat-saat krisis pada awal-awal masa berdirinya Google.”

Kemudian setelah itu, Mike Krieger berdiri di atas podium dan memberitahukan semua pekerjaan yang pernah dia jalani, termasuk ketika mendirikan Instagram, adalah karena program Symbolic System. Bersama co-foundernya di Instagram, Kevin Systrom, yang juga memperoleh manfaat dari program “Stanford Mayfield Fellow,” sebuah program seleksi kerja-belajar yang dijalankan dalam program kampus “Technology Venture Program.” Mereka membuat koneksi dengan industri dan mampu mengumpulkan kunci modal pendanaan. “Saya rasa Symbolic System adalah standar untuk menciptakan wirausaha yang ideal,” katanya.

Hoffman, seorang investor yang produktif mengatakan dengan ringkas: “Apa yang sedang anda bangun adalah kumpulan orang-orang yang akan anda ajak menjalaninya bersama-sama.

Apakah Universitas Stanford yang menjadi pemicu terjadinya ledakan teknologi atau sebaliknya industri-industri yang menempatkan Stanford seperti itu ibaratnya mana yang lebih dulu ada, antara ayam atau telurnya, yang menjadikannya sebagai pertanyaan yang ditanyakan kembali setelah melewati masa seabad lebih. Perusahaan besar pertama di area teknologi, yaitu Federal Telegraph, didirikan oleh seorang lulusan Stanford tahun 1909, membuatnya menjadi pemimpin kawasan dalam pengembangan radio tabung vakum. Lalu di tahun 1939, lulusan Stanford William Hewlett dan David Packard memulai perusahaan Hewlett-Packard, yang kemudian menelurkan perusahaan-perusahaan teknologi lain yang terus tumbuh dan semakin banyak. Di tahun 1954, salah satu investor semikonduktor, William Shockley, pindah ke daerah itu untuk mencari insinyur-insinyur yang bisa membantunya mengerjakan teknologi transistor baru, dan kemudian anggota-anggota stafnya memulai perusahaan Fairchild Semiconductor, yang menjadi penanda dimulainya era Silicon Valley. Di akhir tahun 60an, kawasan tersebut telah menjadi pusat dari inovasi Amerika, lingkungan alami untuk pengembangan industri komputer dan munculnya teknologi internet.

Ketika di masa dimana transisi ketenaran kampus dari skala regional menjadi skala nasional terjadi melalui prestasi olahraga atletiknya yang tidak terkalahkan, Stanford memperoleh popularitasnya, dari departemen komputer sainsnya. Dimulai di tahun 1965, mengikuti departemen teknik yang bekerja lebih dekat dengan dunia industri. Di tahun 1968, professor emeritus dan mantan rektor William Miller membantu mendirikan “Stanford Computer Forum,” yang mengijinkan perusahaan-perusahaan seperti IBM, General Electric dan HP melihat penelitian awal dari para mahasiswa Stanford. “Itu adalah awal dari hubungan yang kuat antara departemen komputer sains dengan dunia industri,” kala Miller di kantornya di kampus bisnis Knight Management Center. “Hubungan tersebut menjadi semakin intensif sejak saat itu, khususnya di 15 tahun terakhir.”

Dengan kemunculan perambah atau web browser di awal tahun 1990, internet membuat Silicon Valley mem-booming. Dan itu karena dua lulusan komputer sains Stanford, Sergey Brin dan Larry Page, yang mengembangkan salah satu perusahaan paling sukses dan paling signifikan di era internet, yaitu: Google.

Lalu terjadi bencana ledakan dot-com di tahun 2000. Itu adalah tahun pertama setelah kejatuhannya, ketika dunia berpikir bahwa teknologi telah mati, tetapi menjadi landasan bagi startup mania berada. Teknologi open-source baru membuat harga membangun sebuah website menjadi lebih terjangkau. Di pertengahan tahun 2000, rata-rata biaya yang diperlukan untuk memulai perusahaan internet telah mengalami penurunan dari $5 juta menjadi$500.000, terima kasih kepada berbagai perpaduan faktor. Pertama, perusahaan-perusahaan besar seperti Yahoo! dan Google memberikan antarmuka pemrograman mereka kepada umum. Lalu revolusi front-end membuat halaman web lebih dinamis. Dan akhirnya, bandwith dengan cepat diperluas. Pendirian dari WordPress.com sendiri di tahun 2005, membuat munculnya jutaan situs web baru hanya dalam satu tahun. Seperti yang Jon Callaghan, yang perusahaannya True Ventures, yang awalnya diinvestasikan untuk platform blogging, katakan, “Tiba-tiba, untuk memulai sebuah perusahaan teknologi, anda tidak perlu harus menjadi eksekutif darj Intel dengan pengalaman kerja 10 tahun dan memiliki salah satu koneksi dengan perusahaan dari Sand Hill untuk mendanai perusahaan anda.”

Perkembangan teknologi yang cepat dikarenakan oleh adanya para insinyur-insinyur Stanford. “Stanford benar-benar menjadi salah satu mesin yang menggerakkan industri teknolobi,” kata Toni Schneider, CEO dari Automatic, perusahaan yang memiliki WordPress. “Terdapat suntikan konstan dari orang-orang baru, ide-ide baru dan berbagai penelitian.” Pada saat yang sama, Stanford mengijinkan terjadinya “transfer teknologi,” memperbolehkan perusahaan yang dirintis dan dibuat di dalam kampus, seperti Google, dan kemudian pindah ke area pasar usaha yang sesungguhnya untuk berkembang. “Mereka menjadi kampus pelopor yang terbuka akan ide-ide komersial,” kata Schneider.

Beberapa akselerator startup paling sukses dibangun oleh StartX, inkubator bisnis non-profit yang dimiliki oleh mahasiswa Stanford itu sendiri. Y Combinator, perusahaan pendanaan awal yang menginkubasi DroBox dan Airbnb, adalah cara pemberi modal venture Paul Graham untuk mendorong mahasiswa mendirikan perusahaan dibandingkan mengambil kerja magang selama masa libur kuliah. Dan Dave McClure seorang angel investor mendirikan 500 Startups, perusahaan pendanaan awal yang berfokus pada pengembangan produk aplikasi sama seperti kelas yang dia ajarkan di Stanford.

Mahasiswa yang memulai mendirikan perusahaan di Stanford cenderung untuk tinggal di Silicon Valley, membangun hubungan saling menguntungkan antara kampus dan komunitas. Di tempat dimana tingkat kegagalannya sangat banyak dan tingkat kesuksesannya yang lebih ekponensial, kedua hal ini berada saling mengurangi satu sama lain. Dan garis batas selisih diantara mereka merepresentasikan jalan yang akan bisa dimasuki. Mantan rektor, William Miller mengatakan Stanford bisa bertahan terus karena mengajarkan para mahasiswanya bahwa bukanlah masalah untuk mencoba dan gagal. “Orang-orang akan selalu mempunyai keinginan untuk bereksperimen, dan hal itu yang kemudian menciptakan sikap keterbukaan,” kata Miller.

Setelah Eric Schmidt mengundurkan diri sebagai CEO Google, dia begitu saja menjalankannya. Dan ketika dia bertemu dengan seorang mahasiswa, muda dan berprospek cerah di kelas modal usaha kewirausahaan yang diajarkannya, dia mengajaknya sebagai rekan bisnisnya di akhir semester. Dror Berman, 33 tahun, saat ini menjalankan perusahaan investasi mereka yaitu Innovation Endeavors. “Semua teman-teman kelas saya menjadi wirausahawan,” kata Berman. Sejauh ini dia telah membantu memberikan dana kepada lebih dari 30 perusahaan, dan banyak dari mereka didirikan oleh teman-temannya saat di Stanford.

Universitas Stanford telah disadari dengan baik sebagai tempat untuk mendapatkan peluang atau kesempatan untuk memiliki jaringan dengan orang-orang berbakat dan berpotensi. Di tahun 1998, Tom Byers memulai program Stanford Technology Venture, sebuah pusat kewirausahawan di kampus Teknik yang mengorganisasi seminar-seminar, konferensi, dan Mayfield Fellows Program yang prestisius. Para pendiri Instagram adalah orang-orang yang terpilih masuk sebelumnya. “Ini seperti ikatan kewirausahawan dalam Navy Seal,” kata Byers.

Kembali ke konferensi Symbolic System, saat Krieger menyelesaikan presentasinya, ruangan menjadi semakin penuh oleh orang-orang yang berhasrat untuk mendengarkan tips yang akan dia bagikan. Dari kesemuanya, pertanyaan yang membumbung di udara adalah apakah penjualan milyaran dolar dari aplikasi bagi fotonya baru-baru ini adalah tanda dari gelembung teknologi yang akan datang lagi, mencakup semua kampus dalam Stanford. Namun dalam tempat dimana kewirausahawan telah mengalami demokrasi dan kegagalan adalah sesuatu yang bisa diterima, banyak mahasiwa yang bertanya, apa hal paling buruk yang bisa terjadi jika mereka meninggalkan kampus dan memulai mendirikan sebuah perusahaan dan kemudian gagal, bisakah mereka kembali dan menyelesaikan kuliahnya?

Faktanya: tingkat penerimaan untuk para mahasiswa tingkat akhir di tahun 2016 adalah 6,6 persen, terendah dalam sejarah kampus tersebut.

Berikut ini adalah beberapa Technopreneur luar biasa dari Universitas Stanford:

Para alumni Stanford telah menciptakan (dan kemudian membantu pendanaan) beberapa perusahaan yang paling penting dan paling berpengaruh di Silicon Valley. Seperti rantai keselarasan antara Universitas Stanford dan Silicon Valley yang membuat ekosistem teknologi terus berputar.

Angkatan ‘88: Reed Hastings
Gelar: Master Sains Ilmu Komputer
Perkiraan Kekayaan Bersihnya: $414 juta
Perusahaan: cofounder Netflix tahun 1997 dan masih menjabat sebagai CEO-nya

Angkatan ‘88: Tim Westergren
Gelar: Sarjana Ilmu Politik
Perkiraan Kekayaan Bersihnya: $63 juta
Perusahaan: co-founder Pandora tahun 2000, saat ini sebagi kepala pelaksana strateginya

Angkatan ‘90: Reid Hoffman
Gelar: Sarjana Ilmu Kognitif
Perkiraan Kekayaan Bersihnya: $2.5 milyar
Perusahaan: Pendiri PayPal, sebagai wakil presiden; cofounder LinkedIn tahun 2002

Angkatan ‘06, Angkatan ‘08 dan ‘09: Kevin Systrom & Mike Krieger
Gelar: Systrom, Sarjana Ilmu Manajemen dan Teknik; Krieger, Sarjana dan Master dari program Symbolic System
Perkiraan Kekayaan Bersih: Systrom, $375 juta; Krieger, $95 juta
Perusahaan: Menjual Instagram seharga 1$ milyar

Angkatan ‘89 dan ‘92: Pete Thiel
Gelar: Sarjana Filosofi, JD
Perkiraan Kekayaan Bersih: $2.5 milyar
Perusahaan: co-founder PayPal tahun 1998, menjualnya ke eBay tahun 2002

Angkatan ‘95 dan ‘98; Angkatan ‘98: Sergey Brin dan Larry Page
Gelar: Keduanya, Master Sains Ilmu Komputer; Brin, PhD Ilmu Komputer
Perkiraan Kekayaan Bersih: Brin, $17,7 milyar; Page, $17,8 milyar
Perusahaan: mendirikan Google tahun 1998

 

Print Friendly, PDF & Email