“Internet adalah simbol keterbukaan. Sedangkan di satu sisi, Korea Utara adalah negara yang menutup diri dari informasi dunia luar. Terdapat hubungan yang kontras ketika dua sisi ini bertemu. “

– catatan editor –

Artikel asli dalam Bahasa Inggris oleh: Michael Grothaus

Ditranslasikan ke dalam Bahasa Indonesia oleh: Edy Kesuma

Dicek dan ditinjau ulang oleh: Reopan editor


Internet Korea Utara

Internet Korea Utara

Artikel ini berisi wawancara dengan Martyn Williams, Jurnalis dari John S. Knight dan para jurnalis di Stanford University dan editor blog “North Korea Tek”; dan Bowerman, konsultan IT dan editor blog “Opening Up North Korea”.

Mungkin telah  banyak yang tahu bahwa rakyat Korea Utara terasingkan dari berbagai bentuk teknologi. Dimana Hal ini berbanding terbalik dengan saudara dekat mereka di Korea Selatan. Disana perkembangan teknologi berjalan dengan lambat dan sangat dibatasi dalam kehidupan rakyat Korea Utara.

Kemarin kami telah melakukan penyelidikan dimana hanya sedikit orang yang tahu, yaitu  tentang sistem operasi “Red Star”. Namun, apa yang sebenarnya dirasakan rakyat Korea utara saat mereka mendapatkan akses komputer atau telepon dan kemudian berinteraksi secara online?

Menurut Martyn William, “ Rata-rata rakyat Korea Utara menganggap internet tidak ada”. Alih-alih akses ke internet, negara ini menggunakan Intranet, sebuah kumpulan jaringan komputer server yang hanya bisa diakses dari dalam perbatasan Korea Utara. Intranet ini disebut Kwangmyong, yang jika diterjemahkan ke bahasa inggris berarti “bright” atau “terang” dalam bahasa Indonesia.

Intranet Kwangmyong

Seperti yang umum diketahui tentang Korea Utara, hanya sedikit informasi yang dapat diperoleh tentang Kwangmyong dari para kelompok pembelot Korea Utara. Bahkan wisatawan asing yang berkunjung dilarang untuk mengaksesnya.

Kwangmyong adalah layanan gratis untuk warga negara itu, walaupun kurang dari 10 persen populasi dipercayai pernah mengakses layanan tersebut. Penggunaan komputer diluar ibu kota Pyongyang hampir tidak pernah terdengar dan bahkan kebanyakan dari mereka tidak mungkin memiliki komputer di rumah.

Diperkirakan sekitar 1000 sampai dengan 5000 website ada di Kwangmyong. Konten web mereka berisi tentang propaganda berita, pendidikan, materi referensi, dan arsip-arsip yang telah diseleksi. Diluar karakteristiknya sebagai tempat hosting website-website tersebut, Kwangmong juga memiliki mesin pencari, group berita, dan bahkan sistem pesan mirip email.

“Intranet yang mereka miliki menghubungkan berbagai hal seperti universitas, sekolah-sekolah dan perpustakaan,” kata Williams, ” Hal ini tentu saja berjalan secara terpusat dan anda tidak dapat menempatkan pekerjaan anda begitu saja dan menempatkan website tanpa tahu apa yang akan dilakukan dalam intranet tersebut. Semuanya sangat ketat. “

Pemerintah menentukan aturan penggunaan bahkan untuk hal-hal terkecil dari Kwangmyong, termasuk kode HTML yang digunakan pada setiap website. Suatu teks yang berisikan kata Kim Jong Il, Kim Il Sung, atau nama Kim Jong Un, ukuran huruf mereka di website tersebut akan menjadi 20% lebih besar dari teks yang lain di halaman tersebut.

Yang lebih mengejutkan lagi mengingat level kendali negara atas seluruh intranet yang dimiliki pemerintah Korea Utara dalam enam atau tujuh tahun terakhir, telah mengijinkan sekelompok orang terpilih untuk mengakses internet luar seperti yang juga kita gunakan saat ini.

Koneksi menuju ke internet yang sebenarnya sangatlah terbatas dan hanya untuk beberapa “elite” yang memang sudah diketahui. Mereka adalah orang-orang dalam keluarga Pyongyang yang telah memiliki koneksi tingkat tinggi dalam pemerintahan atau militer. Pemerintah juga memberikan akses internet yang lebih luas kepada para ilmuwan dan mahasiswa. Khusus untuk kasus ini internet akses diberikan karena memungkinkan ilmuwan dan mahasiswa untuk mengumpulkan sumber informasi dan belajar dari para ahli di luar negeri, dimana nantinya untuk membantu mencapai tujuan negara dalam bidang-bidang seperti teknik, inovasi teknologi, ekonomi dan pertanian.

Jadi apa alasan dari negara dengan kontrol sosial paling ketat di planet ini, berani memberikan kesempatan kepada ilmuwan dan mahasiswanya (orang-orang yang alaminya memiliki keinginan untuk mengetahui kebenaran) untuk mengakses informasi yang ada di dunia luar?

Pemerintah percaya bahwa rasa takut akan membuat mereka tetap pada jalurnya. “Pada banyak kasus, semua orang yang memiliki akses internet biasanya berada pada sebuah ruangan dan dengan sebuah ruangan kecil di sebelahnya dimana ada seseorang yang duduk secara real time, memonitor apa yang setiap orang lihat, “ kata Williams. “ Mereka menyadari jika mereka sedang berinternet, mengunjungi dan melihat website atau berita gratis berbahasa Korea adalah perbuatan bodoh, mereka bisa ditangkap dengan cepat karena hal itu.

Jaringan 3G Koryolink

Mempertimbangkan langkah-langkah pemerintah Korea Utara yang selalu membatasi informasi yang sampai ke tangan rakyatnya, hampir tidak dapat dibayangkan bahwa negara tersebut mengijinkan rakyatnya untuk memiliki telepon seluler. Namun, hal itu adalah salah satu sarana penting untuk mempromosikan demokrasi yang ideal.

Selain itu, struktur internet Korea Utara memiliki jaringan 3G yang berkembang dengan pesat yang dinamakan Koryolink. Diperkenalkan pada tahun 2008, dimana jaringannya merupakan kerja sama gabungan antara Korea Post and Telecommunications Corporation (KPTC) dengan perusahaan mesir Global Telecom Holding. Dalam enam tahun sejak didirikan basis pelanggan meningkat dari 5.000 hingga menjadi 2 juta orang (total populasi mencapai 25 juta orang). Saat ini, jaringannya telah mencakup antara enam sampai dengan 100 kota di negara tersebut.

Tapi sama seperti komputer, telepon seluler pelanggan Koryolink terputus dari internet yang sebenarnya. Pengguna hanya dapat melakukan panggilan ke pengguna lain di dalam negeri, dan juga mengakses intranet – bukan internet. Sedangkan akses telepon ke luar negeri atau internet global adalah tidak memungkinkan. Dan seperti yang dibayangkan, pelanggan Koryolink menerima pesan propaganda harian yang mendukung kebaikan dan kebesaran pemimpin negara mereka.

Akibat kurangnya industri maju, semua telepon seluler Korea Utara hampir pasti tidak dibuat di dalam negeri. Dan tampaknya seperti ponsel tipe low end yang diimpor dari China. Dengan tidak adanya yang mengetahui bahwa ponsel yang terkoneksi ke Koryolink dibuat diluar Korea Utara, dapat diyakini secara jelas bahwa ponsel tersebut adalah kumpulan berbagai macam handphone tipe flip dan beberapa smartphone. ponsel high end seperti iPhone dan smartphone Samsung diimpor secara ilegal, meskipun begitu mereka tampaknya tetap menggunakannya secara terbatas.

Sebagian besar smartphone diasumsikan dijalankan oleh versi Android. Hal ini didukung oleh fakta bahwa negara ini telah memamerkan komputer tablet berbasis Android yang disebut Samjiyon. Perangkat ini dibuat oleh perusahaan domestik Chosun Computer. Namun sejak Korea Utara kurang memiliki fasilitas manufaktur, banyak orang percaya bahwa tablet tersebut diimpor juga dari China.

Senjata Pembunuh Korea Utara

Walaupun pemerintah Korea Utara dapat menjamin bahwa tidak ada seorang pun di jaringan Koryolink 3G dapat mengakses dunia luar, orang-orang bertanya apakah mereka melihat ancaman ketika mengijinkan warganya berkomunikasi satu dengan yang lain dalam media semi-anonim. Bagaimanapun juga, sulit dipercaya bahwa pemerintah Korea Utara memiliki teknologi atau sumber daya manusia yang dapat memonitor komunikasi harian dari 2 juta pengguna jaringan seluler.

Namun sesuai pernyataan Dan Bowerman, seorang konsultan IT dan editor dari blog “Opening Up North Korea”, menunjukkan meskipun mungkin negara secara aktif memonitor komunikasi seluler di media atau militer, dengan kata lain mereka yang mengungkapkan perbedaan pendapat bisa menyebabkan efek buruk pada rezim yg sudah ada. Negara tidak perlu secara aktif memonitor setiap orang karena telah ada kultur rasa takut dan paranoid yang menjaga setiap orang berada padsa garisnya.

Hal tersebut adalah suatu pemikiran persuasif yang telah ada dalam kultur mereka. Mereka memiliki model saling melaporkan dalam sistem yang sangat besar, dimana anda tidak pernah tahu siapa yang sedang mengawasi anda. Teman baik anda mungkin suatu hari disadap oleh agen rahasia untuk tetap mengawasi anda dan melaporkan apa yang sedang anda lakukan. Hal semacam ini sering terjadi sepanjang waktu sesuai dengan informasi yang diberikan oleh para pembelot Korea Utara.

Bowerman mengatakan walaupun rakyat Korea Utara mulai mempercayai keamanan mereka satu sama lain dan mulai berkomunikasi lebih terbuka dalam rumah mereka dengan menggunakan telepon seluler, pemerintah tidak terlalu mengalami masalah untuk mengambil semua telepon mereka. Bagaimanapun juga, mereka sudah pernah melakukan hal tersebut sebelumnya.

Telepon seluler pernah ada pada tahun 2003 di Korea Utara, dan saat itu begitu populer. Mereka menjadi suatu daya tarik. Hal tersebut berjalan baik untuk sementara waktu. Semua kader Pyongyang mendapatkan telepon seluler. Mereka menjadi sebuah hit, dan kemudian tiba-tiba saja, terjadi pelarangan besar-besaran. Pemerintah mengunci seluruhnya dan mengambil semua telepon seluler yang ada.

Alasan dari tindakan penyitaan tersebut dikarenakan kecurigaan adanya usaha pembunuhan terhadap Kim Jong-Il di tahun 2004.

Tidak ada pernyataan lengkap mengenai kejadian tersebut, tetapi beberapa rekaman yang ada mengatakan, mereka akan menggunakan telepon seluler untuk meledakkan bom dan membunuh Kim Jong Il. Kecurigaan inilah yang terjadi pada saat itu. Sehingga penggunaan telepon seluler hilang selama beberapa tahun, sederhananya karena kecurigaan bahwa bom yang dikirimkan tersebut diperkirakan akan menghantam kereta api yang membawa Kim Jong Il (Dan bom tersebut ditemukan ketika kereta Kim Jong Il telah melewatinya sejam yang lalu). Bom ini menggunakan telepon seluler sebagai alat pemicu. Hal inilah yang menyebabkan telepon seluler dikunci rapat-rapat.

Pyongyang “Spring”

Penyitaan telepon seluler dari 2 juta orang di tahun 2014 mungkin akan lebih sulit dilakukan dibandingan dengan yang terjadi pada beberapa dekade lalu. Pemerintah tampaknya menyadari bahwa rakyatnya tahu bagaimana kemajuan yang akan terjadi di masa mendatang. Beberapa dari mereka akan bepergian ke China. Dan sebagian akan menonton drama dan film selundupun dari Korea Selatan, atau membuka website seperti Wikipedia yang dapat disimpan dalam stik USB dan jika diumpamakan seperti balon udara helium yang mengambang memasuki negara yang dilepaskan melewati perbatasan. Di Utara dekat dengan perbatasan China, beberapa orang mungkin mengambil resiko dengan mencoba terkoneksi dengan jaringan Wifi yang tersedia atau jaringan 3G China yang dapat diakses dengan telepon seluler selundupan untuk mengakses internet secara langsung. Saat ini, lebih dari sebelumnya, rakyat Korea Utara ingin mengetahui bagaimana sebenarnya kehidupan yang terjadi di luar perbatasan.

Tetapi ini bukan hanya tentang kesadaran dari kemajuan teknologi dunia luar yang dapat membuat rezim Korea utara dapat berhenti sesaat, sebelum melakukan penyitaan telepon seluler di masa sekarang.

Kemajuan teknologi di dalam negara diperlukan lebih dari sebelumnya sebagaimana Korea Utara semakin putus asa mendapatkan dana asing, dimana kasarnya, mereka memerlukannya untuk tetap bertahan hidup. Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Bowerman. Mereka seharusnya memperbolehkan import dari China. Mereka seharusnya memperbolehkan import dari Russia. Mereka harus membuatnya lebih mudah untuk diakses bagi negara-negar luar. Dan beberapa hal tersebut secara tidak langsung lambat laun akan berefek ke warga negara tersebut.

Jika teknologi ini dan informasi yang datang membawa keberlanjutan sampai ke bawah, akankah mungkin memicu terjadinya “Pyongyang Spring” sebagaimana terjadinya “Arab Spring” yang terjadi di Timur Tengah?
Saya rasa pasti ada potensi di Korea Utara untuk hal itu, sangat aktual, mendekati titik kritis dan kemudian tiba-tiba akan ada banyak orang yang berbalik melawan pemerintah, kata Martyn Williams. Namun dia mencatat sebuah masalah potensial akan muncul di Korea Utara dimana di Timur Tengah tidak mengalaminya, tapi tidak dengan level yang sama.

Penyitaan telepon seluler dari 2 juta orang di tahun 2014 mungkin akan lebih sulit dilakukan dibandingan dengan yang terjadi pada beberapa dekade lalu.

Di negara lain orang-orang sudah mampu untuk mengorganisasi dirinya sendiri, dimana di Korea Utara berbanding terbalik dikarenakan komunikasi dalam negeri selalu diawasi. Namun, di negara ini mata dari seluruh dunia selalu memperhatikan mereka. Jika anda masih ingat kejadian Tiananmen Square, ketika para mahasiswa berada di lapangan dan sementara rakyat Cina mencoba memahami apa yang harus dilakukan, kamera TV dari berbagai belahan dunia sedang menyiarkan secara langsung dari lokasi tersebut. Ini adalah kondisi yang sulit bagi China. Akan tetapi di Pyongyang, walaupun anda dapat mengatur 10.000 orang di tengah kota melakukan protes melawan pemerintah, saya pikir militer dapat menyingkirkan dan menembak mati mereka semua dan kita hanya dapat menemukan berita tersebut melalui rumor yang beredar tiga minggu setelahnya. Semua hal itu membuat segalanya tampak mudah bagi pemerintah untuk menjaga kondisi tetap terkendali.

Namun tetap, dengan adanya peningkatan kesadaran orang-orang akan teknologi, dan pengakuan dari rezim bahwa lebih mendekatkan dengan teknologi adalah diperlukan untuk membalikkan perekonomian yang rapuh. Banyak yang percaya bahwa informasi yang terlalu lama dibatasi untuk rakyat Korea Utara hanya akan membuat hal tersebut semakin meningkat. Dan dengan adanya informasi akan mendatangkan sebuah keinginan untuk mempromosikan perubahan di salah satu negara dengan masyarakat paling terkekang di planet ini.

Saya pikir hal tersebut akan terjadi, kata Williams. Pertanyaannya adalah akankah terjadi di tahun ini atau akan terjadi 20 tahun dari sekarang? Apa yang diperlukan jika anda berada dalam tipe masyarakat yang takut akan peraturan? Secara logika anda hanya dapat dipengaruhi saat anda berada pada kumpulan massa orang-orang dimana berada pada momentum tidak terhentikan yang memperbolehkan anda bangkit dengan relatif aman. Hal tersebut tentu membutuhkan waktu. Tetapi kapanpun hal tersebut akan terjadi, seperti apa yang terjadi di Eropa Timur di tahun 1989 ketika hampir semua negara runtuh dengan cepat, saya pikir hal itu akan terjadi dan cukup cepat.