“Terdapat kontradiksi yang mencolok di China, antara tingkat sensor konten dan jumlah pengguna internet di negara tersebut. Meskipun pengawasan dan sensor internet begitu ketat dilakukan oleh pemerintah, tidak menyurutkan penggunaan internet di negara tersebut menurun. Anehnya, meskipun tanpa Google, Facebook, Twitter dan situs-situs besar produk Barat lainnya, pengguna internet di China tetap bisa menggunakan layanan domestik lainnya yang menawarkan kemampuan yang sama. Namun tentu dengan hasil yang telah melewati proses sensor yang tidak membahayakan ideologi negara tersebut, memastikan agar setiap informasi berjalan sesuai dengan keinginan pemerintahannya”

 – catatan editor –

Artikel asli dalam Bahasa Inggris oleh: Simon Denyer

Ditranslasikan ke dalam Bahasa Indonesia oleh: Edy Kesuma

Dicek dan ditinjau ulang oleh: Reopan editor


Pertama ada Tembok Berlin. Sekarang ada Tembok Besar atau “The Great Firewall” China / Tiongkok, bukan berupa bangunan fisik yang mencegah orang-orang memasukinya, tetapi tembok virtual yang mencegah informasi berbahaya bagi Partai Komunis memasuki negara itu.

Seperti sejarah besar tembok pemisah yang telah jatuh sebelumnya, begitu juga dengan tembok lainnya yang suatu saat akan roboh, karena informasi sama seperti pemikiran orang-orang, tidak akan dapat dibendung untuk selamanya.

Atau kurang lebih begitu menurut pendapat tersebut.

Namun cobalah mengatakan hal itu kepada Beijing. Jauh dari tanda-tanda kejatuhan sistem sensor internet terbesar di dunia, China pada kenyataannya semakin percaya diri dalam arah yang berlawanan, memperkuat landasan hukum terhadap pembendungan informasi, menutup kebocoran dan memperkuat kendali situs dari balik dinding.

Sikap defensif bukan lagi tentang berapa jumlah sensor yang telah dilakukan, China menggaungkan visinya tentang “kedaulatan Internet” sebagai model untuk dunia dan membuatnya sah untuk diterapkan di setiap rumah. Pada saat yang sama, dan yang cukup membingungkan, Internet tetap mengalami perkembangan di China dimana jumlah pengguna hampir menyentuh 700 juta orang, menempatkannya sebagai 1 dari 4 populasi online dunia dibalik adanya tembok besar “Firewall.”

China adalah salah satu pemimpin dunia dalam E-Commerce, dengan volume penjualan ritel digital dua kali lipat dari Amerika Serikat dan yang cukup mengejutkan menguasai hampir 40 persen dari total di seluruh dunia, berdasarkan riset dari bisnis digital perusahaan eMarketer. Tahun lalu, China juga sesumbar menjadi 4 dari 10 perusahaan Internet dunia dalam peringkat kapitalisasi pasar, menurut situs Statista, dimana di dalamnya terdapat raksasa E-Commerce Alibaba, perusahaan media sosial dan game Tencent dan spesialis mesin pencari seperti Google, yaitu Baidu.

“Jalan ini adalah pilihan dari sejarah, dan pilihan dari rakyat, dan kita berjalan menyusurinya dengan lebih tegas dan penuh percaya diri,” kata Kaisar Internet China, Lu Wei, membual pada bulan Januari lalu.

Setelah dua dekade pembangunan Internet di bawah kepemimpinan perusahaan Partai Komunis, katanya, negaranya membentur keseimbangan antara “kebebasan dan ketertiban” dan antara “keterbukaan dan otonomi.” Ini adalah pengembaraan, katanya, dalam sebuah jalan antara “Pemerintahan Cyber dengan karakteristik penduduk China. “

 

Source: www.washingtonpost.com

Apa yang China sebut dengan “Golden Shield” adalah mekanisme sensor raksasa dan pengawasan yang menghalangi puluhan ribu situs yang dianggap bertentangan dengan pandangan dan kendali Partai Komunis, termasuk Facebook, YouTube, Twitter dan bahkan Instagram.

Pada bulan April, pemerintah AS secara resmi mengklasifikasikannya sebagai penghalang perdagangan, mencatat bahwa delapan dari 25 situs yang paling diperdagangkan secara global kini diblokir di sini. American Chamber of Commerce di China mengatakan bahwa 4 dari 5 perusahaan anggotanya melaporkan dampak negatif pada bisnis mereka akibat sensor internet.

Namun tidak ada jalan untuk kembali. Akhir tahun ini, China diperkirakan akan menyetujui Undang-Undang baru keamanan Cyber yang akan menyusun, mengatur dan memperkuat kendali Internet di negara tersebut.

China telah memperkenalkan aturan baru yang membatasi perusahaan asing dalam menerbitkan konten online dan memberikan aturan ketat yang mensyaratkan setiap website untuk mendaftarkan nama domain kepada pemerintah.

Apple adalah korban awalnya, dimana pada bulan April mengumumkan bahwa layanan iTunes Movies dan iBooks tidak lagi tersedia di China, enam bulan setelah peluncuran mereka di negara ini (meskipun tak lama setelahnya mengumumkan investasi $ 1 miliar dalam layanan kendaran mobil di China).

Demi mengejar penegakkan aturan yang tegas pada kebebasan berbicara dan masyarakat sipil, China telah memperketat aturan pada penyedia jaringan virtual privadi (VPN) yang mana dengan layanan ini memungkinkan orang bebas bergerak di bawah saluran Firewall.

Perubahan ini awalnya bukanlah disebabkan karena rasa takut, bukan langkah untuk memotong akses ke dunia luar ataupun membentuk intranet China, namun sebagi upaya untuk memperluas kendali hukum dan pengawasan atas apa yang diposting online di dalam negera ini, kata para ahli.

Memang, Tembok Besar “Firewall” China jauh lebih canggih dan memiliki banyak lapisan, tidak seperti tombol on-off sederhana yang bisa dimatikan dan dihidupkan hanya dengan satu tindakan: Ini adalah upaya untuk menjembatani salah satu kontradiksi negara yang paling mendasar – demi memiliki perekonomian yang terhubung berbelit-belit dengan dunia luar namun dengan budaya politik yang tertutup dari “nilai-nilai Barat” seperti kebebasan berbicara dan demokrasi.

Internet tiba di China pada Januari 1996, dan secara sistematis mulai memblokir beberapa situs asing pada bulan Agustus 1996. (Julukan The Great Firewall pertama kali dicetuskan oleh majalah Wired pada tahun 1997.)

Tetapi sistem yang ada seperti saat ini sebenarnya mulai dikembangkan dan diimplementasikan di awal tahun 2000-an. Google adalah yang pertama kali diblokir, selama sembilan hari, pada bulan September 2002. YouTube diblokir setelah kerusuhan di Tibet pada tahun 2008, lalu Facebook dan Twitter mengikuti setelah kerusuhan di Xinjiang pada tahun 2009.

Namun, selalu ada celah yang seperti disengaja dibuka.

Ambil contoh VPN, alat yang memungkinkan pengguna internet di China untuk membuat saluran internet rahasia melalui negara yang berbeda. VPN memungkinkan pengguna untuk mengenkripsi lalu lintas data, menghindari sensor dan memungkinkan penggunaan internet persis seperti jika mereka berada di Amerika Serikat sebagai contohnya, dan terdapat konsekuensinya yaitu kecepatan browsing menjadi lebih lambat.

Pemerintah China telah lama mengetahuinya dan menerima kenyataan bahwa terdapat persentase kecil dari populasi orang-orang dibalik penerapan Firewall yang menggunakan VPN. Jadi adalah penting mengetahui hal ini, bahwa bisnis domestik dan asing dapat mengakses informasi dunia diluar perbatasan, dan itu membuat para elit asing senang karena memungkinkan mereka melihat ke dunia luar melalui sebuah jendela kecil.

“Mereka bersedia untuk mentolerir sejumlah celah di Great Firewall, sepanjang mereka merasa bahwa ketika mereka perlu melakukan kontrol, mereka bisa menjalankannya,” kata Jeremy Goldkorn, direktur sebuah perusahaan media dan konsultan Internet Danwei.

Rapat tahunan parlemen China di bulan Maret, yaitu Kongres Rakyat Nasional, hanya sebuah waktu, dimana masalah keamanan diperhatikan sebagai pertimbangan. Kecepatan berselancar di internet melambat dan beberapa layanan VPN berjuang untuk bertahan hidup.

“Teknologi VPN adalah layanan yang cukup sederhana,” kata Nathan Freitas, pengembang terkemuka perangkat lunak open-source yang bertujuan untuk membantu mengatasi pengawasan secara online dan sensor. “VPN ada untuk menyenangkan Partai Komunis China.”

Partai Komunis lebih peduli dengan apa yang orang-orang biasa baca, dibandingkan dengan apa yang para pengguna elit selular mungkin temukan di Web.

Google masih diblokir di China, dan mesin pencari lokal Baidu memiliki hasil yang sangat banyak mengalami penyensoran. Namun perbedaan antara pencarian Baidu dalam bahasa China dan dalam bahasa Inggris untuk kata “Tiananmen,” atau frase “tank Tiananmen man,” mengungkapkan: Hasil pencarian dari mesin pencari China tidak menghasilkan link atau tautan ke berita pengunjuk rasa pro-demokrasi pada tahun 1989 atau seseorang yang sendirian, yang mencoba untuk mencegah tank maju ke alun-alun, namun informasi tentang sebuah lapangan alun-alun yang luas sebagai salah satu destinasi tujuan wisata.

“Berdasarkan hukum, regulasi dan kebijakan yang berlaku, beberapa hasil pencarian tidak ditampilkan,” Baidu menginformasikan kepada pembacanya jika mereka memasukkan kata pencarian “tank man.”

Tapi pencarian dalam bahasa Inggris menampilkan hasil yang sangat berbeda, dapat dilihat dari beberapa situs, termasuk galeri foto BBC, artikel Wikipedia dan beberapa sumber informasi asing lainnya.

Rogier Creemers, seorang Profesor Hukum dan Pemerintahan di Universitas Leiden, Belanda, mengatakan bahwa kebanyakan sistem sensor memiliki mekanisme yang sama, mencoba mengingat kembali komentar terkenal dari seorang pengacara penuntut di persidangan terhadap sebuah Novel yang cukup vulgar dari D.H Lawrence yang berjudul “Lady Chatterley Lover.”

“Apakah itu sebuah buku,” pengacara bertanya kepada hakim, “yang anda ingin untuk dibaca oleh istri atau pembantu anda?”

Prof. Creemers, salah satu pemegang otoritas dalam Internet China, mengatakan pertanyaan serupa mungkin perlu diajukan kepada Beijing.

“Apakah itu semacam situs web yang anda ingin orang-orang laobaixing [orang-orang biasa] untuk membacanya? Mungkin tidak, tapi kami dapat dipercaya untuk membacanya. “

Demikian pula, tingkat sensor internet tidaklah sama di seluruh China, menurut Vasyl Diakonov, kepala teknologi di KeepSolid VPN di Odessa, Ukraina.

Beberapa perantara IT di timur negara itu memiliki sensor yang relatif lebih sedikit, sementara daerah-daerah terpencil di China barat (dimana daerah dengan ketidakpuasan etnis yang masih cukup tinggi) diketahui hampir semua protokol VPN diblokir, katanya. Dan memang benar, hanya dengan mencoba menggunakan VPN untuk mengakses situs-situs yang diblokir bisa membuat anda berurusan dengan kantor polisi terdekat, kata seorang warga yang tinggal di daerah tersebut.

Pada bulan Desember, Beijing mempromosikan visinya pada Konferensi Internet Dunia di bagian timur kota bersejarah Wuzhen, pertemuan tahunan kedua yang dihadiri oleh para pemimpin dari Rusia, Pakistan dan beberapa negara lain yang tidak memiliki nilai tinggi pada indeks global kebebasan internet .

Meskipun telah gagal meyakinkan Barat, pergerakan terbaru dari China untuk melegalkan dan meningkatkan penghalang digital yang membawakan “Kedaulatan Internet,” kini telah semakin dekat dengan kenyataan.

“Salah satu hal yang sedang dicoba oleh pemerintah China adalah secara bertahap mengubah fakta di lapangan,” kata Creemers. “Jika mereka tidak bisa mendapatkan kesepakatan dalam lingkup internasional tentang kedaulatan Internet, maka hanya akan ada orang-orang yang harus menerima keadaan yang telah dibuat.”

Pada saat yang sama, pengungkapan fakta oleh Edward Snowden tentang skala pengawasan global melalui Internet oleh badan-badan intelijen AS (NSA), kata Prof Creemers, ibaratnya seperti menjadi “hadiah yang terus diberikan” untuk China yang mengacaukan aksi tipuan atau sikap berpura-pura bahwa orang lain benar-benar berjalan sesuai aturan yang berlaku atau klaim dari pihak Barat bertindak berdasarkan moral yang tinggi.

Bahkan perusahaan-perusahaan Barat yang ada di sini mengeluhkan pembatasan internet oleh Beijing, dimana jelas memberikan dampak pemotongan perekonomian di pasar domestik China.

“Konsekuensi bagi China dalam apa yang kita sebut ekonomi kreatif akan sangat besar, konsekuensi dalam hal “Software Power” China akan sangat substansial, tetapi untuk perekonomian secara keseluruhan, ini bukanlah ketegasan yang diperlukan,” kata Lester Ross, salah satu mitra yang bertugas di kantor Beijing WilmerHale, sebuah firma hukum internasional terkemuka di dunia, dan anggota senior dari Kamar Dagang Amerika di China.

Dalam kasus apapun, untuk kepemimpinan China saat ini yang lebih mengedepankan kebijakan lain, yaitu keamanan nasional dan menjaga partai yang berkuasa, menimbulkan kekhawatiran dari efek buruk tangan besi pemerintah di Internet, kata Ross.

Pernah pada suatu waktu selama dua jam singkat pada bulan Maret, Google tiba-tiba dapat diakses di China. Berita ini memicu kebingungan kegembiraan singkat di media sosial dan permintaan dari berbagai sumber yang tidak mungkin terjadi.

Hu Xijin, editor surat kabar Global Times milik negara nasionalis, menggunakan kesempatan itu untuk berpendapat bahwa sistem sensor Firewall, meskipun berguna dalam sehari, harus dilihat sebagai struktur darurat sementara.

“Kami tidak perlu terus memperkuat Firewall, tetapi setidaknya memungkinkan untuk memiliki celah dan bahkan memungkinkan untuk perlahan-lahan ‘ada dalam bentuk nama saja,'” tulisnya.

Hu menemukan dirinya mungkin sejalan dengan Tim Berners-Lee, penemu World Wide Web, yang berpendapat dua tahun lalu bahwa The Great Firewall suatu hari secara bertahap akan dibongkar, seperti Tembok Berlin yang akhirnya jatuh. Tapi editor China yang berpengaruh tersebut keluar dari opini yang ada dengan pendapat resmi.

Di situs microblogging Sina Weibo, postingannya telah dihapus oleh sensor, dan korannya segera sesudahnya menerbitkan sebuah opini yang membela adanya penghalang dan menyerang media Barat yang begitu banyak membenci sistem sensor internet ini.

Membutuhkan “kemampuan yang canggih” untuk menjaga ide-ide berbahaya tanpa merusak konektivitas global bangsa, tulis koran tersebut. “China telah mencapainya. Kita dapat berkomunikasi dengan dunia luar, sementara opini Barat tidak dapat dengan mudah masuk menembus sebagai alat penyebar ideologi.”

Prof. Creemers berpendapat bahwa prediksi kematian The Great Firewall dalam waktu dekat adalah produk konsensus pasca Perang Dingin yang keliru menilai bahwa kebebasan Barat dan demokrasi adalah sesuatu yang tak terelakkan dan dengan kebebasan aliran informasi melalui internet akan membantu membawa era baru di negara tersebut.

“Internet,” katanya, “sebanyak yang dimanfaatkan adalah alat untuk melakukan kontrol, pengawasan dan pertimbangan komersial seperti juga upaya untuk pemberdayaan.”