“Di era 80-90an produk elektronik Jepang merambah hampir setiap kehidupan sebuah negara di seluruh dunia. Pergerakan inovasi Jepang seakan menjadi kiblat perkembangan teknologi pada masa itu. Namun saat ini keadaan sudah sangat jauh berbeda. Perusahaan-perusahaan besar di Jepang bahkan tengah berjuang keras untuk mempertahankan eksistensinya. Dan perusahaan-perusahaan baru masih sulit untuk berkembang dan berinovasi seperti yang sebagaimana terjadi di Silicon Valley”

 – catatan editor –

Artikel asli dalam Bahasa Inggris oleh: Kevin Ready

Ditranslasikan ke dalam Bahasa Indonesia oleh: Edy Kesuma

Dicek dan ditinjau ulang oleh: Reopan editor


Selama 50 tahun terakhir, Jepang telah ikut membentuk lanskap teknologi dunia. Bisa dilihat dari dampak masif global yang dibuat oleh perusahaan-perusahaan teknologi seperti Sony, Toshiba dan lainya. Namun jika kita melihatnya saat ini, kita bisa melihat perbandingan yang menarik dari perkembangan teknologi di Silicon Valley dan Amerika Serikat dengan yang terjadi di Jepang. Sementara Silicon Valley dihuni oleh perusahaan-perusahan yang banyak berawal dari Startups selama beberapa dekade terakhir, di sisi lain lanskap teknologi Jepang masih sangat condong ke bagian atas atau perusahaan besar yang sudah ada dan hanya memiliki sedikit kisah sukses yang berkonsep dari “sebuah ide menjadi sebuah perusahaan.” Perusahaan-perusahaan besar memiliki kuasa atas kumpulan talenta, Undang-Undang, akses pasar, dan ribuan aspek lain ekonomi yang sulit untuk dilihat secara kasat mata. Dan bagaimana jika kita berbicara tentang gaya Startup Silicon Valley yang mungkin membawakan perubahan dan menyusun kembali lanskap teknologi dan budaya yang ada di Jepang. Perubahan dari bawah ke atas sangat jarang terjadi di Jepang. Atau apakah ini hanya masalah waktu?

Sementara beberapa Startup seperti Facebook, Amazon, Tesla dan Google yang mengubah cara hidup orang Amerika, dan memberikan pengaruh yang sangat besar pada ekonomi Amerika Serikat yang berfungsi secara menyeluruh. Satu hal yang bisa diketahui, model inovasi yang mengguncang dari kelompok pemula masih belum umum terjadi di Jepang.

Mengapa begitu? Padahal sumber dana, bakat SDM, dan kerangka hukum yang dapat diandalkan semua telah ada di Jepang. Jadi apa yang belum ditemukan di tempat ini? Elemen apa yang masih diperlukan oleh Jepang untuk mulai menstimulasi efek yang lebih generatif, menguncang, dan lebih ekonomis untuk mendorong ekosistem inovasi yang kuat dan aktif?

 

industri teknologi jepang

Budaya Kerja di Jepang

Tantangan inovasi Jepang terkait dengan Startups, dan proses yang mampu menumbuhkan mereka adalah terutama soal budaya. Dan seperti yang kita ketahui, setiap pembahasan mengenai hal ini seringkali diperbandingkan dengan tempat dimana roda generator inovasi berjalan begitu pesat, yaitu Silicon Valley. Apa saja norma-norma yang berlaku di Silicon Valley yang mendorong semakin banyaknya inovasi dan siklus perbaikan terus-menerus dan bahkan dimana ide-ide yang gagal didaur ulang dalam beberapa iterasi? Ada beberapa norma-norma budaya dan sosial yang mendukung terjadinya inovasi semacam ini di Silicon Valley, namun di Jepang hal ini masih sangat baru.

Norma-Norma Budaya Yang Mendorong Inovasi:

Toleransi Pada Kegagalan

Startups rentan terhadap resiko. Mereka membutuhkan pengujian hipotesis dengan mencoba ide-ide dan melihat apa yang terjadi – dan menurut definisi tidak semua ide-ide akan mampu berjalan seperti apa yang diharapkan. Norma budaya tentang toleransi terhadap resiko masih merupakan hal yang sulit untuk diterima dalam banyak kebudayaan termasuk di Jepang, yang mana sudah sejak lama tertanam penolakan yang kuat pada kegagalan. Salah satu kekuatan Silicon Valley adalah merayakan ‘gelar kegagalan’ sebagai lencana prestasi dalam bagian budaya startup. Di Jepang, norma budaya yang dominan dalam suatu perusahaan adalah menerapkan nilai risiko yang rendah, peningkatan setahap demi setahap, dan kemampuan prediktabilitas. Struktur sosial di Jepang sangat menghargai para pemimpin yang dapat meramalkan dengan tepat antara aksi dan hasil, dan kerangka kontrol di dalam organisasi dapat dengan cepat melucuti pemimpin mereka ketika prediksi yang diharapkan gagal terwujud. Dalam sebuah budaya di mana kegagalan mungkin menjadi pertanda titik akhir dari karier seseorang, bidang inovasi murni seringkali mengalami kegagalan untuk bisa berkembang.

Seorang enterpreneur menempatkan hubungannya dengan orang tua, sahabat, keluarga, dan rekan-rekannya di risiko serius ketika mereka melakukan sesuatu yang tidak biasa, menyimpang dari harapan sosial yang ada dan menyatakan niat untuk membangun sesuatu yang baru – dan di Jepang harga sosial untuk berani mengambil langkah ini masih sangat, sangat tinggi.

Budaya Mencontoh Atau Penyampaian Kisah Teladan

Jika anda tinggal di Amerika Serikat, anda pasti telah mendengar kisah tentang bagaimana Mark Zuckerberg memulai Facebook di Harvard? Anda mungkin memilikinya. Di manapun anda melihatnya saat ini, Startups adalah bagian dari narasi sosial pada setiap tingkatan. Di Silicon Valley dan di seluruh Amerika Serikat, ada narasi sosial yang kuat tentang pembangunan perusahaan startup dan bagaimana menjadi seorang pengusaha. Ketika budaya ini telah menjadi bagian dalam kehidupan di Amerika, sebaliknya belum ada budaya kuat tentang narasi kisah pengusaha Startup yang sukses di Jepang. Sementara narasi sosial di Amerika secara aktif mendukung gagasan bahwa adalah mungkin untuk menciptakan usaha baru dari nol (bahkan jika itu sulit!), pola narasi di Jepang belum mendukung kemungkinan visi ini. Belum ada ‘lisensi sosial’ yang mengatakan kepada setiap calon pengusaha berbakat bahwa “tidak masalah untuk menentukan pilihan” untuk mengejar mimpi dan melakukan sesuatu yang sangat berbeda seperti memulai sebuah perusahaan baru yang benar-benar berbeda.

Beberapa hal mengalami perubahan di Jepang, namun kelaziman sosial jenis ini belum terucap, dan belum ada secara luas – di waktu kini yang berpusat di kalangan mahasiswa muda di seluruh Universitas terkemuka di negara itu, terutama di Tokyo.

Penghalang Untuk Percaya

Ketika seorang pengusaha berusaha untuk menciptakan sesuatu yang baru tanpa adanya teladan atau adanya kelompok pendukung (seperti yang ditemukan dalam sebuah perusahaan), dia harus mensintesis hubungan baru secara spontan dan dengan biaya yang rendah untuk mengambil banyak langkah yang diperlukan untuk mengambil peruntungan baru bersama-sama. Bantuan hukum untuk pembentukan perusahaan, perangkat lunak, keahlian teknik desain, pemasaran, penyampaian pesan, ketajaman bisnis – berbagai keterampilan merupakan kontribusi terfokus dari kumpulan individu ketika mereka datang bersama-sama untuk menciptakan sebuah bisnis baru. Ketika sumber daya yang terbatas tersedia, anda perlu menempatkan penghalang sekecil mungkin yang bisa meningkatkan kepercayaan dan kerja sama di jaringan sosial anda agar bisa lebih mendorong mereka semua untuk bekerja bersama-sama. Penghalang-penghalang agar mau mempercayai hal ini masih relatif tinggi di Jepang, menjadikannya sebagai salah satu alasan mengapa inovasi masih sulit untuk berkembang.

Membuat Sebuah Perubahan

Di tahun 2015 sebelumnya, di Universitas Stanford, sebuah komunitas akademisi, investor, dan pelaku industri berkumpul untuk membahas Jepang dan ekosistem inovasinya. Acara ini disebut “Moment 2015” disponsori oleh Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Industri Jepang (METI) bersama-sama dengan Deloitte Touche Tohmatsu LLC, World Innovation Lab (WIL), dan Pusat Penelitian Shorenstein Asia-Pacific Stanford University (APARC). Pemikiran awalnya adalah dengan melalui kebebasan bertukar ide, menciptakan hubungan yang melalui Samudera Pasifik dari Silicon Valley ke Tokyo, dan melalui pendidikan yang lebih luas, Jepang dipercaya dapat mempercepat pengembangan ekosistem inovasi. Akankah peristiwa dan pembuatan organisasi seperti ini bisa membuat perbedaan? Mereka tentu bagian dari solusi. Apa yang lebih penting bagi dasar pertumbuhan inovasi di Jepang khususnya bagi individu adalah untuk belajar dan berubah, untuk berbicara satu sama lain, untuk mencoba, gagal, dan merayakan perjalanan kewirausahaan.

Bagi Jepang, seperti kita juga: Menentukan Langkah Selanjutnya Selalu Menjadi Salah Satu Hal Yang Paling Penting.