“Jika mendengar energi nuklir, banyak yang membayangkan akan bahayanya dimana bencana radiasi mengakibatkan lingkungan di sekitarnya menjadi rusak. Terlebih lagi biayanya yang tidak sedikit dan proses pembangunannya yang memakan waktu bertahun-tahun. Namun demikian, dibaliknya tersimpan sumber energi listrik yang melimpah dibanding bahan bakar fosil yang masih banyak digunakan saat ini. Sebuah sumber energi yang bersih dan dan mampu memberi kelangsungan pasokan energi di masa depan”

 – catatan editor –

Artikel asli dalam Bahasa Inggris oleh: Nick Stockton

Ditranslasikan ke dalam Bahasa Indonesia oleh: Edy Kesuma

Dicek dan ditinjau ulang oleh: Reopan editor


Akhir tahun ini, sebuah reaktor tenaga nuklir akan dibuka di Amerika untuk pertama kalinya dalam dua dekade terakhir. Tapi reaktor ini, yang disebut dengan Watts Bar Unit 2 (salah satu dari dua unit yang ada di dekat Spring City, Tennessee) tidaklah benar-benar baru. Sebagian besar dibangun pada tahun 1970an dan 1980an bersama-sama dengan Unit 1, dimana mulai beroperasi pada tahun 1996 dan telah tampil sempurna. Kedua reaktor ini pada dasarnya identik dalam hal keamanan, teknologi, dan output yang dihasilkan. Namun terdapat perubahan besar dalam 20 tahun terakhir, terlepas dari pembukaan kedua reaktor ini yaitu: dampak luas penggunaan bahan bakar fosil pada perubahan iklim dan kebutuhan mendesak untuk mengurangi beban ekonominya yang besar.

Di tahun-tahun dimana pembangkit listrik Watts Bar 2 belum mulai berjalan, para pembuat kebijakan dan ahli iklim telah berjuang untuk mengetahui seperti apa bentuk energi terbarukan di masa depan. Saat ini mereka memiliki tiga pilihan yaitu antara menemukan cara untuk membersihkan batubara, membangun baterai yang mampu menyimpan energi dengan efektif dari energi terbarukan yang berubah-ubah, atau menggunakan energi nuklir. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Tapi nuklir adalah pesaing kuat karena hanya teknologi ini yang benar-benar ada dan dapat direalisasikan. Pembangunan Reaktor Watts Bar akan mampu memberi kekuatan kepada 1,5 juta rumah tangga, dan satu-satunya emisi gas rumah kaca mereka berasal dari mobil yang digunakan karyawan untuk bepergian.

tenaga nuklir

Salah Satu Contoh PLTN

Memang menjadi pilihan yang bagus, namun tetap saja terdapat halangan untuk mewujudkannya. Hanya dengan menunjukkan beberapa pasang menara pendingin reaktor nuklir, maka setidaknya akan ada beberapa orang yang melihatnya sebagai potensi bencana atom yang mengerikan pada lingkungan di sekitarnya. Katakanlah seperti ikan yang bermata tiga akibat terkena radiasi, hutan kering tanpa daun, dan orang Soviet yang berada di rumah sakit dengan kulit seperti mayones yang berkilau. Tenaga nuklir mungkin menghasilkan output yang bersih, namun masih banyak orang mempertanyakan apakah hal itu, memang cukup aman.

Ketakutan bencana nuklir mungkin akan selalu diperdebatkan. Namun meskipun begitu masalah akan keamanan dan kecemasan yang muncul tidak menyebabkan pembangunan Watts Bar Unit 2 tertunda selama bertahun-tahun. Faktor ekonomi menjadi pendukungnya. Terlepas dari semua ketakutan itu, tenaga nuklir masih memiliki rekam jejak teraman dari sumber tenaga listrik manapun.

Sisi Berbahaya Energi Nuklir

Energi nuklir berbahaya karena mereka memancarkan radiasi (proses dimana partikel dan energi yang terlepas dari molekul yang tidak stabil yang mencoba untuk stabil). “Pancaran radioaktif tersebut dapat menyerang tubuh manusia dan merusak sel atau DNA makhluk hidup,” kata David Lochbaum, Direktur Proyek Keselamatan Nuklir dari UCS (Union of Concerned Scientist). Radiasi yang cukup akan mampu membuat anda terkena kanker, atau mungkin bahkan mewariskan mutasi genetik pada anak-anak anda. Radiasi yang terlalu banyak bisa membunuh anda langsung.

Namun pembangkit listrik seperti Watts Bar tidak melepaskan banyak radiasi ke lingkungan. Di dalam sistem reaktor pembangkit listrik tenaga nuklir, bahan radioaktif memanaskan air, yang berubah menjadi uap, dan kemudian memutar turbin besar untuk menghasilkan listrik. Pembangkit listrik tenaga nuklir secara teratur melepaskan sebagian dari air dan uap tersebut pada tingkat yang ditentukan oleh Komisi Regulasi Nuklir AS, dan jika anda tinggal di hilir sungai atau berada di tempat dimana anginnya berhembus, radiasi yang terdapat di dalamnya memiliki potensi mampu meningkatkan peluang anda terkena tumor hanya dengan nilai kemungkinan sepersepuluh dari satu persen. Jika dibandingkan kembali, anda jauh lebih mungkin menumbuhkan tumor jika anda menghisap sebatang rokok secara berkala dan bahkan lebih tinggi lagi bagi seorang pencandu yang bisa menghisap rokok lebih dari satu kali dalam sehari.

Dilihat dari kemungkinannya, bisa saja anda memang tidak perlu cemas dengan output rutin dari pembangkit listrik tenaga nuklir. Namun anda pasti lebih takut pada kejadian yang terjadi pada Three Mile Island di Amerika, Fukushima di Jepang, atau Chernobyl di Soviet.

Bencana ini berasal dari sebuah krisis kebocoran, yang terjadi ketika sesuatu menghalangi kemampuan reaktor untuk mendinginkan proses pembakaran. Di Amerika, di mana hampir 20 persen listrik berasal dari 99 pembangkit nuklir, menggunakan uranium sebagai bahan bakarnya. Reaktor yang lebih tua (dimana setiap reaktor yang ada di Amerika, termasuk Watts Bar Unit 2) menggunakan pompa listrik untuk memindahkan air secara otomatis melalui sistem. Bencana nuklir di Fukushima menunjukkan apa yang terjadi jika anda memompa tapi tidak memiliki tenaga untuk menggerakkannya. Generasi yang lebih baru mengandalkan gravitasi sebagai penggantinya, menguras air pendingin dari tangki penyimpanan yang ditempatkan di tempat yang tinggi lalu mengirimkannya ke inti reaktor.

Dengan adanya pembaharuan tersebut berarti potensi terjadinya kecelakaan nuklir yang serius menjadi semakin langka. Sejak peristiwa Three Mile Island pada tahun 1979, Komisi Regulasi Nuklir Amerika menemukan bahwa rata-rata tingkat masalah matinya reaktor telah turun dari 2,5 per unit pembangkit per tahun menjadi sekitar 0,1. Bahkan Three Mile Island tidak sampai menjadi bencana besar, karena lapisan perlindungan berlapis telah ditanamkan pada sistem reaktornya.

Peristiwa bencana nuklir yang terjadi dan memang meledak sepenuhnya, hanya ada di satu lokasi: Chernobyl. Memang betul, bencana ini sangat mengerikan. Namun bagaimana dampak sebenarnya dari bencana tersebut? Organisasi Kesehatan Dunia WHO memperkirakan bahwa bencana tersebut memakan korban hingga 4.000 orang, sebuah angka dimana mencakup semua hal mulai dari korban langsung hingga orang-orang yang terlahir dengan kelainan genetika setelah terjadinya krisis pada tahun 1986. Sebagai perbandingan, partikel dari pembangkit listrik tenaga batubara membunuh sekitar 7.500 orang di AS setiap tahun. Radiasi seperti sebuah serangan hiu yang bisa terjadi di daerah yang berbahaya: Sebuah kejadian mengerikan yang bisa saja terjadi, namun memiliki kemungkinan jauh lebih kecil daripada, katakanlah, sebuah kecelakaan mobil.

Bahan bakar bekas (sekitar sepertiga dari uranium di inti reaktor diganti setiap dua tahun) menjadi perhatian yang lebih besar, karena industri nuklir AS tidak memiliki tempat untuk membuangnya. Batang bekas pembakaran ditempatkan di tangki pendingin selama lima tahun, sampai cukup dingin untuk dibungkus dalam tong kering. Bahan bakar itu tidak berbahaya kecuali anda jatuh ke dalam air. Atau kegagalan pipa saluran air. Batang bekas yang tersimpan di tong kering bahkan tidak terlalu mengkhawatirkan, karena kontainer penyimpanannya harus mendapatkan cukup udara masuk dan mampu menyebabkan terjadinya pembakaran.

Satu-satunya orang dengan argumen yang benar-benar layak menentang penggunaan energi nuklir adalah orang-orang yang menambang bahan bakar tersebut. “Penambang Uranium tampaknya adalah orang-orang yang memiliki tubuh terdampak yang bisa anda tunjuk secara langsung,” kata Lochbaum. Antara tahun 1950 dan 2000, pemerintah Amerika memperkirakan tingkat kanker paru-paru pada penambang Uranium enam kali lebih tinggi berpotensi dibandingkan populasi orang-orang pada umumnya.

Biaya Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir

Jadi bisa diambil kesimpulan bahwa energi nuklir sebenarnya tidak terlalu berbahaya. Ini tidak terlepas dari hal nyata seperti adanya teknologi beton, pipa saluran air, dan perawatan pencegahan rutin yang telah dirancang dengan sangat hati-hati! Sekarang kembali ke awal dan dengarkan ironinya: Industri nuklir adalah industri yang aman karena setiap unit pembangkit listrik tenaga nuklir menghabiskan miliaran dolar untuk proses perijinan, melakukan inspeksi, penetapan bahan materialnya, dan perancangan konstruksi khusus selama bertahun-tahun sebelum pembangkit ini bisa mulai menghasilkan sentakan pertama arus listriknya. Dan biaya itulah yang menjaga sumber energi berkelanjutan yang aman ini benar-benar bisa berjalan.

Watts Bar Unit 1 dan 2 seharusnya dibuka bersamaan. Tapi di tahun-tahun sejak konstruksi dimulai pada tahun 1973, permintaan energi listrik di wilayah tersebut mengalami penurunan. Kedua reaktor membutuhkan biaya yang terlalu mahal untuk penyelesaian pembangunannya, jadi mereka menyimpan dan menutupnya pada tahun 1988. Permintaan energi yang kembali meningkat menjadi alasan penyelesaian Unit 1 pada tahun 1996. Satu-satunya alasan pemiliknya, TVC (Tennessee Valley Authority), pada tahun 2007 memutuskan untuk melanjutkan pembangunan karena agensi tersebut dapat meyakinkan dewan pengurus dan pemegang saham bahwa ekonomi regional akan tumbuh cukup banyak di tahun-tahun mendatang sehingga mampu memenuhi permintaan energi yang diperlukan.

Hal ini mungkin saja menjadi risiko terbesar dalam pengembangan energi nuklir: Membutuhkan waktu yang begitu lama untuk mendapatkan keuntungan atas investasi yang telah dilakukan. Bayangkan anda mulai membangun pembangkit listrik tenaga nuklir saat ini. Jika, pada suatu saat dalam dua dekade berikutnya, beberapa jenius pekerja keras berhasil membuat sebuah inovasi baru dimana sebuah baterai yang efektif menyimpan energi angin atau matahari, atau sebuah teknologi yang mampu mengeluarkan karbon dari emisi batubara, atau sebuah metode yang bisa menyumbat metana yang bocor dari gas alam, maka pasar energi nuklir yang bisa anda dapatkan ketika konstruksi pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir telah selesai adalah sangat kecil, yang mana jauh dari harapan anda atau para investor untuk mendapatkan imbal baliknya.

“Apa yang telah kita amati dari tujuh tahun terakhir adalah sejumlah pembangkit listrik tenaga nuklir tua dimatikan dengan baik sebelum benar-benar dibutuhkan hanya karena mereka tidak dapat bersaing di pasar energi listrik,” kata M.V. Ramana, seorang fisikawan di Laboratorium Nuklir di Universitas Princeton.

Satu-satunya alasan pemakaian energi nuklir hingga 80 persen (dan semakin turun) di Prancis, dan pemakaian 30 persen setelah kejadian di reaktor Fukushima Jepang, adalah karena negara-negara tersebut tidak memiliki kekayaan sumber daya alam yang dimiliki Amerika. Dan bukan hanya karena keterbatasan batu bara dan gas alam (meski kebanyakan batu bara dan gas alam). Tenaga surya, angin, panas bumi, dan hidroelektrik Amerika tumbuh dengan cepat, dan harganya semakin murah. Saat ini, energi terbarukan menghasilkan lebih dari 13 persen pasokan energi di Amerika.

Bahkan orang-orang dalam industri nuklir menganggap ini adalah pilihan yang tidak praktis. “Anda dapat membuat argumen yang cukup kuat bahwa sangat bodoh untuk membakar sumber daya yang seistimewa energi nuklir untuk membuat sesuatu yang murah dan ada dimana-mana seperti listrik,” kata Arthur Ruggles, seorang profesor teknik nuklir dari Universitas Tennessee. Dengan proses yang lebih efisien dan peningkatan penggunaan energi terbarukan, masyarakat dapat menghemat Uranium untuk hal-hal bermanfaat lainnya seperti bahan bakar pesawat luar angkasa antar planet.

Dan kapal ruang angkasa mungkin saja diperlukan lebih awal dari yang anda perkirakan, jika masyarakat dunia tidak dapat menemukan solusi perubahan iklim yang mampu disepakati bersama-sama, yang mampu mencegah bumi dari kerusakan iklim.