“Walaupun media sosial hanyalah cerminan diri di dunia maya, namun jalinan relasi yang telah dibangun disana bukanlah sesuatu yang bisa dipandang remeh. Mengekspresikan kebencian, amarah, ejekan atau hal-hal negatif lainnya bisa membawa orang-orang dalam lingkaran relasi media sosial anda berada pada persepsi yang salah akibat  ketidakpahaman akar permasalahannya atau karena sumber informasi yang tidak valid”

  – catatan editor –

Artikel asli dalam Bahasa Inggris oleh: Cherie Burbach

Ditranslasikan ke dalam Bahasa Indonesia oleh: Edy Kesuma

Dicek dan ditinjau ulang oleh: Reopan editor


kebencian di media sosial

Ilustasi Kebencian di Media Sosial

Media sosial telah memberi kita banyak kesempatan menjalin hubungan dengan orang-orang yang kita tidak pernah tahu sebelumnya, dan hal ini adalah hal yang baik. Memiliki berbagai macam teman adalah kunci untuk mengembangkan dan memperluas kecerdasan emosi anda. Namun mengembangkan lingkaran sosial anda berarti juga bahwa anda perlu memiliki kesadaran diri yang lebih terhadap apa yang anda katakan dan yang anda lakukan, khususnya terhadap sesuatu yang berkaitan dengan media sosial.

Mengapa Sesuatu Hal Lebih Mudah Menarik Perhatian di Media Sosial?

Dengan adanya tempat seperti Facebook atau Twitter, bisa dikatakan apapun yang kita dan yang teman kita inginkan (baik melalui dunia maya atau dunia nyata), sama-sama memiliki kesempatan untuk didengarkan. Seringkali, kita bereaksi sangat cepat terhadap hal-hal yang kita lihat atau yang kita dengar dan memposting sesuatu tanpa memikirkannya, sebelum kita membaca keseluruhan dan memahami apa isi dari artikel yang kita bagikan. Informasi yang didapat secara online diteruskan begitu cepat hingga ada saat-saat dimana suatu artikel yang salah atau keliru telah disebarkan sebelum orang-orang menyadari apa maksud sebenarnya dari potongan informasi tersebut.

Hal yang begitu cepat ini tidak berlaku ketika terjadi interaksi langsung satu sama lain. Kita tidak akan menyudutkan seseorang beramai-ramai seperti yang kita lakukan di media sosial atau katakanlah sesuatu yang kurang sopan dan menyakiti perasaan tepat di wajah mereka. Lalu mengapa kita melakukannya ketika kita berada di dunia online?

Salah satu teori menjelaskan bahwa kata-kata kasar memberi kekuasaan pada bagian otak anda yang membuat emosi anda diambil alih. Seorang psikolog di bidang manajemen emosi, John Schinnerer, Ph.D., berkata “Ketika anda berkata-kata kasar, bagian emosional dalam otak anda, yaitu amygdala, aktif dan menguasai sisi logis, cortex prefrontal anda.”

Apakah Dengan Berkata-Kata Kasar Membuat Perasaan Anda Menjadi Lebih Baik?

Marah dan berkata-kata kasar adalah hal umum dalam dunia online, namun hasil penelitian menunjukkan hal tersebut tidak benar-benar membuat anda menjadi lebih baik. Ryan Martin, seorang profesor psikologi dari Universitas Wisconsin – Green Bay, menemukan bahwa “orang-orang mengalami penurunan suasana hati (mood) setelah membaca kata-kata kasar, atau setelah menulis hal-hal kasar.” Dengan kata lain, sesaat mereka mungkin merasa pada posisi yang lebih tinggi saat melepaskan amarah mereka namun segera setelah itu suasana hati mereka yang buruk kembali berlanjut. Alih-alih meredakan amarah, hal ini malah membuatnya menjadi semakin bertambah parah.

Menebar Kebencian di Media Sosial Dan Dampaknya Pada Persahabatan

Menyebarkan kemarahan tentang hal-hal yang random di media sosial berdampak pada pertemanan yang anda miliki saat ini dan jalinan lain yang coba ingin anda bangun. Ketika anda membagikan sesuatu hal di media sosial, seseorang yang berpotensi menjadi teman dimana dia adalah anggota dari salah satu grup tersebut mungkin saja menghindari upaya anda untuk mendekatkan diri.

Anda tidak bisa memposting sesuatu yang negatif dalam sebuah grup orang-orang dengan cara yang biasa dan kemudian berharap seseorang yang ada dalam grup tersebut mau merespon tawaran pertemanan anda.

Teman tidak berharap agar anda sejalan dengan mereka, namun mereka hanya membutuhkan penghargaan. Jadi jika anda membagikan artikel-artikel yang sifatnya mengolok-olok atau menggambarkan negatif kepercayaan mereka, afiliasi politik yang mereka dukung, ras atau etnik kelompok mereka, anda seperti sedang memberikan kesan memperlakukan mereka dengan buruk dimana anda merasa baik-baik saja melakukan hal tersebut.

Jika anda berpikir orang-orang terlalu sensitif terhadap isu-isu ini, bercerminlah ketika anda sendiri merasa tersinggung (bahkan untuk sekilas) oleh sesuatu yang teman atau kenalan anda posting secara online. Bagaimana perasaan anda? Apakah anda ingin lebih dekat dengan orang tersebut atau berusaha menghindarinya?

Kembali Kepada Fakta

Kebanyakan orang tidak menyadari bahwa mereka menebar kebencian di media sosial dan hal-hal negatif lainnya, hingga suatu saat hal itu merujuk kepada mereka kembali. Sebelum anda menuliskan komentar acak secara online, me-retweet pernyataan seseorang, atau memposting sebuah artikel, pertimbangkanlah hal-hal ini:

  • Motivasi anda ketika memposting sesuatu. Apa harapan yang ingin anda capai?
    Apa yang teman-teman anda akan rasakan ketika mereka melihat postingan anda? Apakah anda secara pasif atau aktif agresif menunjuk mereka?
  • Bagaimana perasaan yang anda rasakan jika anda sendiri yang mengalaminya? Apakah anda merasa baik-baik saja jika seseorang mengatakan hal yang sama tentang sebuah grup di mana anda berada di dalamnya?
  • Apa fakta yang terdapat dalam artikel tersebut? Apakah seseorang menggunakan sumber yang terpercaya?
  • Apa jenis informasi yang terkandung dalam artikel tersebut? Apakah ada kecondongan di dalamnya?
  • Sudahkah anda membaca keseluruhan artikel atau pernyataan dan memahami tentang apakah hal yang dibahas?

Mempergunakan waktu untuk memahami jenis-jenis dari artikel atau mengutip sebuah tweet atau postingan tidak hanya akan membuat anda menjadi teman yang lebih baik, namun juga akan memberi anda pemahaman yang lebih jelas dengan isu-isu dunia di sekitar anda. Ini adalah langkah pertama untuk memahami teman-teman dan kenalan anda beserta pengalaman unik mereka.

Selalu berhati-hati kapanpun ketika anda mengatakan ungkapan seperti “orang-orang tersebut” atau “mereka selalu.” Kelompok orang terbentuk dari kumpulan individu-individu, kebanyakan dari mereka mungkin adalah orang-orang yang anda tahu dan memiliki kaitan dengan anda. Jadi berhati-hatilah ketika anda menggunakan media sosial. Bayangkan posisi teman-teman anda seperti anda, sebelum anda membagikan komentar atau artikel di media sosial.

 

Print Friendly, PDF & Email