“Pixar adalah perwujudan menawan antara kecanggihan teknologi dan keindahan seni, yang membuat tatanan model bisnis di Hollywood mengalami pergeseran. Dibalik itu, terdapat penghargaan potensi kreatifitas yang membuat kedua hal tersebut bisa berjalan serasi, berdampingan satu sama lain. Dan Steve Jobs adalah DNA dibalik etos kerja yang dimiliki oleh Pixar sampai saat ini”

– catatan editor –

Artikel asli dalam Bahasa Inggris oleh: Daniel Terdimen

Ditranslasikan ke dalam Bahasa Indonesia oleh: Edy Kesuma

Dicek dan ditinjau ulang oleh: Reopan editor


Steve Jobs dan Pixar

Pixar Studio

Belum pernah ada studio film yang mencapai keberhasilan beruntun terus-menerus seperti Pixar. Mulai dari cerita orisinil “Toy Story,” “Finding Nemo,” sampai “Cars,” “Ratatouille,” dan “Toy Story 3,” kejeniusan animasi Pixar membuat mereka merajai industri, memaksa Hollywood mengubah bagaimana cara mereka membuat film, dan tentu memerlukan miliaran uang dalam prosesnya.

Dan hal ini tidak akan terjadi tanpa Steve Jobs.

Pixar berawal dari divisi George Lucas “LucasFilm,” yang bekerja pada pengembangan teknologi pencitraan gambar dan memiliki perlengkapan komputernya sendiri. Namun di dalamnya, terdapat beberapa orang yang lebih tertarik untuk membuat film animasi dibandingkan membuat sebuah mesin yang mahal, dan LucasFilm dengan segera kehilangan ketertarikannya dalam proyek tersebut.

Berdasarkan artikel “The Pixar Touch,” oleh David Price, LucasFilm di akhir tahun 1985 sudah berada di ambang kesepakatan menjual divisi ini kepada Philips Electronics dan General Motors dibantu oleh Electronic Data Systems. Perselisihan yang terjadi di ruang rapat antara Ross Perot dengan para anggota dewan GM membuat perjanjian tersebut dibatalkan.

Dan saat itu Steve Jobs datang. Melambaikan cek senilai $5 juta, pendiri Apple (yang kemudian dikeluarkan dari perusahaanya sendiri), membeli Pixar pada tanggal 30 Januari 1986, dimana nantinya adalah awal yang mengerakkan rangkaian kejadian dihasilkannya beberapa film paling disukai di abad ke-20 dan sampai ke proses akusisi oleh Disney senilai $7.4 milyar. Steve Jobs awalnya membeli divisi ini senilai $5 juta, ditambah dengan $5 juta investasi uang-nya sendiri untuk bayi kecilnya ini sampai dimana dia menjadi pemegang saham terbesar Disney dan dengan cepat menjadi salah satu orang paling berpengaruh di Hollywood.

Kemenangan Lebih

Bagi Price, Jobs adalah seseorang “visioner kebetulan” dalam industri film. Berbicara kepada CNET, penulis mengatakan walaupun Jobs pertama kali membeli Pixar utamanya karena terpikat oleh perlengkapan teknologi komputernya, tapi dengan segera dia terpukau dengan passion yang dimiliki oleh John Lasseter, seorang animator yang awalnya bekerja di Disney, namun menemukan rumahnya di Pixar. Lasseter, kata Price, “ingin membangun studio animasi, dan persembahan terbaik kepada si Jenius (Jobs) dimana dia mampu menyesuaikan dan menempatkan dirinya dari seorang pemilik perusahaan komputer bersama dengan Pixar dan membuatnya menjadi penggerak karya seni yang luar biasa.”

Sudah merupakan pengetahuan umum selama itu, bahwa Steve Jobs menjabat CEO di kedua perusahaan yaitu Apple dan Pixar. Namun ketika setiap harinya dia adalah pemimpin di 1 Infinite Loop, dia menyerahkan kendali kepada wakilnya (Lasseter dan Ed Catmull) untuk menjalankan segala sesuatu di Pixar.

Namun tetap, cara pendekatan Jobs dalam menyelesaikan suatu proyek tertentu, kekerasan pendiriannya menunggu sampai sesuatu cukup bagus untuk dirilis, yang membuat Lasseter dan Catmull memiliki kepercayaan diri menggunakan waktu dan energi mereka untuk membuat begitu banyak film Pixar sebagaimana sebagus seharusnya.

pixar_studio

“Steve Jobs adalah seorang visioner yang luar biasa, sahabat kami yang paling akrab, dan cahaya pemandu dalam keluarga Pixar,” kata Lasseter dan Catmull dalam pernyataan publik setelah kepergian Steve Jobs. “Dia mampu melihat potensi apa yang dapat dilakukan Pixar sebelum kami semua menyadarinya, dan melebihi dari apa yang dapat orang-orang bayangkan. Steve memberi kami kesempatan dan percaya kepada mimpi gila kami dalam membuat film animasi komputer. Satu hal sederhana yang selalu dia katakan adalah “buatlah itu menjadi hebat.” Dia adalah sumber mengapa Pixar bisa menjadi seperti yang kami buat saat ini, dan dengan kemampuannya, integritasnya, dan kecintaan hidupnya membuat kami menjadi orang-orang yang lebih baik. Dia selamanya akan menjadi bagian dari DNA Pixar.”

Menciptakan Sebuah Industri Baru

Di era 1990-an, Pixar bukanlah satu-satunya studio film yang bekerja di bidang animasi komputer,” kata David Cohen, seorang editor dari Variety. Namun mereka adalah satu-satunya yang sukses dan bisa memperlihatkannya kepada orang-orang bagaimana melakukannya, baik secara teknologi maupun secara kreatif, dan luasnya dampak perubahan pada landscape dunia hiburan sangat sulit untuk dilampaui.”

Bagaimanapun juga, Cohen menjelaskan, sampai kesuksesan “Toy Story” di tahun 1995, Disneylah satu-satunya pembuat film animasi di Amerika Serikat. Dan karena kesuksesan dari “Toy Story” dan deretan film Pixar lainnya, lahir berbagai industri animasi di Hollywood. Sekarang, Cohen menunjuk, telah ada kategori Best Animated Feature Academy Award, yang berarti setidaknya ada satu film animasi yang dirilis setiap bulan rata-ratanya. “Itu adalah sesuatu yang benar-benar berbeda sebelum adanya Pixar,” kata Cohen. “Bisakah hal itu terjadi tanpa Pixar? Seseorang harus datang sendiri dan menunjukkannya kepada kita bahwa itu akan bisa berhasil.”

Menjalankan Pixar

Oleh karena Jobs memiliki tim kreatif di Pixar yang dipimpin oleh Lasseter dan Catmull, tidak perlu baginya mengendalikan proses yang ada di dalamnya. Selama tahun itu, Jobs diketahui menghabiskan waktu sehari seminggu di kantor pusat Pixar di Emeryville, California, di seberang jembatan Bay Bridge. Namun dia tidak tampak hanya duduk saja di saat rapat, atau membuat suatu script program. “Dampak besar Steve adalah pada arah strategis perusahaan,” kata Price. “Dia memiliki pandangan kritis bahwa Pixar suatu hari nanti akan sejajar dengan perusahaan Walt Disney dalam bidang animasi. Dia membuat bayangan ini menjadi kenyataan dari penampakan IPO saham Pixar tahun 1995, seminggu setelah “Toy Story” dirilis. Dia meramalkan bahwa jika mereka memiliki modal, akan bisa memberikan mereka kebebasan menciptakan struktur kerja dan menjadi sebuah label hiburan yang sehebat Disney. Dia dengan gamblang percaya tentang hal ini.”

Dan tak pelak lagi, dia mampu mewujudkan visi tersebut. Selama beberapa tahun, 12 film Pixar telah mampu menghasilkan sekitar $7.2 milyar pendapatan dari seluruh dunia, sesuai data dari Numbers.com. Dan Jobs sukses menjualnya ke rumah produksi animasi Disney. Kedatangan Lasseter dan Catmull di Disney “disambut dengan tepuk tangan,” seingat Price. “Orang-orang animasi dalam Disney tahu bahwa studio sedang mengalami kejatuhan pada masa yang sulit dan film-film yang mereka buat tidak berjalan bagus. Karena itu mereka tahu mereka membutuhkan sesuatu dan mereka dengan tepat melihat John Lasseter dan Ed Catmull sebagai harapan terbaik untuk membawa animasi Disney kembali ke jalan yang seharusnya.”

Namun meskipun tanpa koleksi perpustakaan film dan tanpa pengaruh besar dalam industri animasi komputer, dampak Pixar bagi Hollywood tetap begitu dalam. Itu dikarenakan, kata Cohen, adanya RenderMan, software rendering yang perusahaan kembangkan pada tahun 1987. Saat ini, software tersebut tidak hanya digunakan di rumah produksi Pixar, tapi juga di studio-studio di Hollywood dan industri film global lainnya dan dengan software tersendiri “telah membuat Pixar menjadi perusahaan penting dalam bisnis perfilman,” kata Cohen.

Tetap, apa yang akan selalu disebut sebagai Pixar adalah perjalanannya yang panjang untuk menjadi penghasil film kualitas kelas atas yang mampu menghasilkan ratusan juta dolar. Dan kemampuan studio film ini untuk lagi, lagi dan lagi membuat kesuksesan, dimana hampir setiap orang di Hollywood mengalami kejatuhan hampir setiap waktu. Hal ini mungkin dikarenakan etos kerja yang Steve Jobs tanamkan disana (dan di Apple) yang membuat Pixar menggunakan berapa-pun waktu yang diperlukan untuk mencapai film yang benar-benar diinginkan.

“Pengalaman yang dia tunjukkan di Pixar adalah jenis representasi yang sama dari ketajaman dan visi yang dia tunjukkan di Apple,” kata Doug Seibold, President and Publisher of Agate, yang mana akan segera merilis buku “I, Steve: Steve Jobs in his Own Words.” “Satu hal yang sering muncul dan kembali muncul dalam buku ini adalah keyakinannya jika ingin benar-benar memberi kepuasan pada apa yang orang inginkan, anda harus melihat jauh melampui apa yang orang-orang lakukan saat ini, dan bahkan melewati apa yang orang-orang sampaikan tentang apa yang mereka inginkan, untuk melihat hal besar lain berikutnya.”

Hal ini mungkin menunjukkan, jelas Cohen, tantangan Pixar kepada tradisi ritme bisnis Hollywood. “Industri film harus sudah memiliki jalur perilisannya, dan Steve Jobs dan Pixar tidak ingin menempatkan sesuatu hanya untuk mengisi suatu tempat… dan memastikan tanggal dirilisnya,” kata Cohen. “Mereka selalu rela untuk menunggu sampai sebuah film benar-benar bagus. Saya pikir itu adalah suatu tantangan besar bagi Hollywood, karena Hollywood tidak berjalan dengan cara itu. James Cameron bekerja dengan cara itu dan disana terdapat tangan para pembuat film yang berkuasa yang bekerja dengan cara itu, namun dalam sebagian besar, hal itu cukup bagus untuk merilisnya dan menampilkannya dalam bioskop. Ada banyak hal yang perlu diselesaikan, dan Jobs tidak melalui penyelesaian itu.”

Namun, meskipun Pixar mengalami kesuksesan yang luar biasa, model tersebut mungkin tidak memiliki pengaruh abadi seperti yang diperkirakan. Kecintaan pada kualitas (tanpa terlalu perlu memperhatikan intinya, atau jadwalnya yang padat) tidaklah cocok dengan sebagian besar struktur perusahaan, yang mana merupakan kecenderungan bagaimana Hollywood bekerja. “Model ini adalah hal yang sangat sulit bagi lingkungan perusahaan… untuk beradaptasi dengan model yang digunakan oleh Pixar,” kata Cohen, “karena artis yang menggerakkannya. Para artis yang memegang kendali.”

Seperti, yang Cohen sampaikan, “Saya dapat mengatakan bahwa semua orang di Hollywood telah melihat Steve Jobs dan Pixar, pada keyakinan absolut terhadap visinya sendiri, passion yang dia lakukan.. dan determinasinya. Saya tidak berpikir bahwa itu benar.

Walaupun demikian, pencapaian Jobs di dunia film sangat besar, dan terus tumbuh berkembang, jauh bahkan setelah kematiannya. Komitmennya pada pengembangan perangkat Apple seperti iPad atau iPhone, sebagus layanan cloud yang dibuatnya seperti iTunes dan ketersediaan layanan film streaming yang semakin besar, akan benar-benar bisa dirasakan dalam ruang keluarga para pengguna dan di dalam studio selama beberapa tahun kedepan. “Saya pikir pengaruh yang diberikan Steve Jobs kepada Hollywood belum sepenuhnya terealisasi,” desak Cohen. “Saya pikir kita tidak akan benar-benar mengapresiasinya dalam 10 atau 15 tahun kedepan… Dia adalah master pengacau teknologi. Inovasinya ditakuti sebagaimana dia diakui di Hollywood, dan dalam konteks yang baik.”

Print Friendly, PDF & Email