“Teknologi Virtual Reality memang masih terdengar baru bagi kebanyakan orang. Kepopulerannya pun mulai terangkat karena perkembangan smartphone yang semakin meluas. Namun jika dilihat dari sejarah virtual reality, ternyata ide dan pengembangan teknologi ini sudah ada sangat lama, bahkan sebelum televisi berwarna ditemukan”

– catatan editor –

Artikel asli dalam Bahasa Inggris oleh: Holly Brockwell

Ditranslasikan ke dalam Bahasa Indonesia oleh: Edy Kesuma

Dicek dan ditinjau ulang oleh: Reopan editor


Sejarah Virtual Reality Lebih Tua Dari Yang Anda Pikirikan

Ketika kita berbicara tentang sejarah Virtual Reality atau VR, seringkali kita merujuk pada janji-janji di era 80an, yaitu dari film-film sains fiksi dan produk-produk eksperimental yang pertama kali dibuat untuk membuat kita percaya akan adanya dunia virtual.

Sejak saat itu hingga ke saat ini bisa dilihat seberapa jauh perjalanan yang telah ditempuh oleh teknologi VR. Namun pada kenyataanya, telah ada pengembangan produk VR dari tahun 1950an. Dan salah satunya masih bisa berfungsi sampai saat ini.

Menyebut Morton Heilig sebagai seorang visioner mungkin terdengar sangat meremehkan ke-brilianannya. Saat itu ketika kebanyakan orang-orang masih menggunakan TV hitam putih, dia telah membuat sendiri sebuah mesin video yg berfungsi sepenuhnya dimana anda secara virtual bisa mengendarai sepeda motor beserta sensasi suaranya, angin, getaran dan bahkan aroma saat berada di jalan.

Dia menyebut alat yang dia buat sebagai simulator Sensorama, dan alat ini gagal dengan spektakulernya.

sejarah virtual reality sensorama

Mesin Sensorama

Apa yang dibuat Heilig adalah sesuatu yang terlalu maju pada masa itu. Dan sayangnya saat ini hanya tersimpan di pojok dekat kolam renang, tersembunyi dibawah tutupan kain terpal selama beberapa generasi. Istrinya Marianne Heilig, yang bersama-sama ikut bekerja dalam berbagai penemuan, menghabiskan banyak uang untuk mendanai semua ide-idenya. Begitu banyak hingga hampir dua dekade setelah kematian suaminya dia masih tetap berusaha melunasinya. Jadi siapakah suaminya tersebut, yang banyak direferensikan sebagai Bapak atau Penemu perangkat Virtual Reality?

“Dia menyebut dirinya sendiri sebagai seorang Renaissance,” kata Marianne kepada reporter Techradar, “Karena dia memiliki begitu banyak talenta. Ketika dia mengajak saya ke apartemen dimana dia memiliki mesin itu, rasanya seperti momen ohhh dan ahhh bagi saya – akan tetapi saya belum menyadari seberapa besar dampak yang dimilikinya saat itu.”

Dia bukanlah satu-satunya. Kemudian terdapat sebuah pencapaian dalam sinematografer, dimana Heilig membuat Sensorama berdasarkan kehendaknya untuk bisa membangun “bioskop masa depan.” Namun sebuah bioskop 3D membutuhkan film-film 3D, yang mana tidaklah mudah dihadirkan pada era akhir 1950an.

Lalu, Heiling menciptakan penemuan kamera dan proyektor 3D sebagai tambahan pada pandangannya terhadap mesin ini dan memproduseri lima film untuk mendemonstrasikan kemampuan dari Sensorama. Dari sinilah kemudian bisa dirasakan secara pasif bagaimana mengendarai sebuah helikopter, go kart, sepeda dan sepeda motor.

Meskipun masih kurang dalam hal pengendalian, film-film tersebut masih terasa nyata: Howard Rheingold mencoba Sensorama yang masih berfungsi di era 80an dan berkomentar “pengendalian sepeda motor masih terasa ugal-ugalan yang membuat saya sangat tidak nyaman, jauh dari rasa menyenangkan.”

Film kelima ternyata cukup disukai oleh para investor, yang membuat Heiling berkomentar sambil bercanda: seperti banyaknya orang-orang yang melihat dengan pandangan cabul ketika melihat pinggang para penari New York. Rheingold memperhatikan bahwa Sensorama akan menyemprotkan aroma parfum murah kapanpun ketika dia dekat dengan kamera dan suara cymbal di jarinya bisa terdengar pas dengan telinganya. Seperti video dewasa yang coba diwujudkan tahun 2016, tampaknya Heiling telah mengetahui apa yang orang-orang inginkan sebelum mereka sendiri menyadarinya.

Menjual Masa Depan

Morton Heilig mampu melihat dengan jelas potensi komersil dari penemuannya, menempuh perjuangan yang berat hingga ke detail potensial penggunaannya dan mendapatkan keuntungan dari dipatenkannya pengaplikasiannya di tahun 1962. Sang penemu membayangkan mesinnya nanti akan digunakan untuk melatih angkatan bersenjata, pekerja industri dan para pelajar, dan memberikan penjelasan bahwa saat ini terdapat peningkatan permintaan bagaimana cara mengajarkan dan melatih perindividu tanpa harus bertatap langsung menghindari situasi berbahaya yang mungkin terjadi.

Ambil contoh pada jet supersonic, Heiling memberikan pendapat bahwa dengan benar-benar menerbangkan jet-nya akan memberikan pengalaman pembelajaran yang lebih baik bagi pelajar dibandingkan hanya dengan mendengarkannya saja, akan tetapi adalah “tidak mungkin atau berbahaya,” dan untuk itulah penemuannya merupakan ide terbaik dari situasi tersebut tanpa menempatkan seseorang dalam bahaya.

“Jika seseorang bisa mendapatkan pengalaman tentang suatu situasi atau sebuah ide dalam cara sama seperti yang dialami dalam kehidupan sehari-hari, dengan melihatnya langsung membuat pemahaman menjadi lebih baik dan lebih cepat, dan jika seseorang bisa memahaminya dengan lebih baik dan lebih cepat, dia akan mampu melihat gambaran intinya dengan lebih banyak kesenangan dan tentu saja beserta rasa antusias yang besar.

“Apa yang para murid-murid bisa pelajari dengan cara ini masih tertahan dalam jangka waktu yang cukup lama,” pemrosesan patennya bisa dibilang, hampir sama dengan perkiraan Heilig untuk bisa menjual mesinnya langsung dari dokumen pengajuan.

Kenyataannya, Sensorama memberikan penawarannya kepada perusahaan besar termasuk Ford dan International Harvester, menjabarkannya sebagai mesin showroom baru yang revolusioner. Sekali lagi, Heilig memprediksikan masa depan: meyakinkan perusahaan-perusahaan di era ini untuk menggunakan VR sebagai cara untuk memamerkan produk beserta pengalaman yang bisa diberikannya.

Namun, di era 50an masih banyak perusahaan yang belum siap, dan Sensorama gagal mendapatkan investasi yang mencukupi maupun perolehan pendapatan penjualan.

Sebagai rute alternatif untuk mendapatkan uang adalah dengan menggunakannya sebagai mesin game arcade. Sebuah unit yang beroperasi dengan koin dipasang di dalam Universal Studio dan telah berhasil menghasilkan banyak uang dimana hampir seperempat orang-orang disana menggunakannya,” kata Marianne, “namun manajemen dari Universal Studio pada saat itu menganggap bahwa hal ini terlalu berlebihan untuk sebuah perusahaan keluarga, jadi kami mengambilnya kembali dan menempatkannya di banyak dermaga. Mesin ini bisa ditemui di dermaga Santa Monica, di Times Square, dan seluruh tempat. Alat ini adalah mesin pencetak uang yang bagus, itu yang dia katakan.

Namun jumlah yang didapatkan tidak cukup untuk menopang biaya pengembangannya, dan oleh karena itu Heiling mencari investor yang bisa diajak bekerja sama. Dia berhasil menjadwalkan pertemuan di California, diperkenalkan oleh temannya sebagai seseorang yang memiliki setengah kekayaan San Francisco pada saat itu,” kata Mareane, “namun Mort terlambat sepuluh menit dan investor tersebut telah meninggalkannya.”

Orang yang dijadwalkan bertemu dengannya akhirnya tetap memberikan uang kepadanya, namun Mort tidak berhasil menjalankannya – mesin tersebut dibuat dengan banyak bagian-bagian yang dia buat sendiri dan tidak cukup kuat: ketika digunakan untuk mesin arcade, mesin tersebut dengan cepat rusak.

Kegagalan penjualan ini bukanlah yang pertama kali dialami oleh Heilig. Penemuan tersembunyi yang dia patenkan sebelum perangkat Sensorama terlihat begitu familiar, sulit dipercaya bahwa alat ini dibuat lebih dari setengah dekade lalu.

Sebagian besar artikel tentang awal mula kelahiran virtual reality merujuk kepada “ Sword of Damocles” tahun 1968 sebagai perangkat penggunaan virtual reality yang pertama dipakai di kepala. Akan tetapi, sebagaimana yang anda bisa tebak, Morton Heilig memiliki hal yang tampak sama delapan tahun sebelumnya. Perangkat “Telesphere Mask-nya” yang dipatenkan tahun 1960, tampak luar biasa modern dalam penggambaran patennya dimana anda sendiri bisa salah menganggap bahwa perangkat tersebut adalah rancangan awal dari perangkat modern Gear VR.

sejarah virtual reality Telesphere

Paten Telesphere

Dideskripsikan oleh Heilig dalam pengajuannya sebagai “sebuah perlengkapan televisi teleskopik untuk penggunaan perorangan,” Telesphere seperti jenis headset video 3D yang biasa kita gunakan, kecuali pada pengkoneksiannya dengan sebuah smartphone atau komputer, Heilig menggunakan Tabung TV yang dibuat mini.

“Para penonton diberikan sensasi realitas yang lengkap, seperti gambar tiga dimensi yang bergerak dalam warna yang sebenarnya, dengan 100% penglihatan periferal, suara binaural, aroma dan hembusan udaranya,” tertulis dalam dokumen paten.

Dan alat ini masih memiliki cukup cahaya untuk digunakan, dengan penyesuaian di telinga dan beberapa pengepasan mata. Beberapa headset modern saat ini tidak bisa melakukan hal tersebut, dan ini diciptakan bahkan pada saat TV masih belum pasti bisa diwujudkan dalam tampilan berwarna.

Sekali lagi, Telesphere mengalami kegagalan penjualan, meskipun alat ini bisa menghibur Morton jika dia mengetahui bahwa produk digital yang hampir sama diluncurkan di Kickstarter 55 tahun setelahnya dan bahkan tidak bisa mengumpulkan setengah dari $50.000 target pendanaan.

Jadi apa yang terjadi dengan salah satu perangkat virtual reality yang pertama kali digunakan di kepala ini? Apakah dipajang di Smithsonian, atau diambil dan ditempatkan dalam koleksi Mark Zuckerberg?

“Saya menyimpannya dalam kotak kayu,” kata Marianne Heilig. Dia menjelaskan dengan sedih bagaimana dia secara pribadi pergi ke museum Hollywood (tanpa mesin Sensorama yang besar) mencoba menyakinkan pihak manajemen akan makna alat ini. Dia diberi tahu bahwa mereka tidak akan mengambilnya bahkan meskipun diberikan gratis.

“Saya hampir menyerah pada hal ini, namun saya tidak akan memberikannya begitu saja setelah menempuh perjalanan hidup yang berat. Saya masih bekerja untuk membayar hutang karena saya menolak untuk bangkrut,” katanya dengan martabat tinggi.

“Ini sangat menurunkan moral. Mereka akan dengan senang hati menaruh atau menampilkan pakaian dan sepatu dari Marilyn Monroe, namun ini adalah tentang masa depan, dan ini dimulai pada tahun 1958. Saya tidak paham akan pikiran pendek orang-orang tersebut,” keluhnya.

Sebuah Warisan Modern

Disaat Morton Heilig berhasil membuat desain produk olahraga yang sukses dan memenangkan Auteur Award dalam Festival Film Cannes tahun 1974, dia tidak pernah memperoleh pengakuan yang harusnya dia dapatkan dari visi teknologinya. Dan dia juga tidak bisa menyaksikan perangkat virtual reality yang dia bayangkan di era 50an telah berbuah manis saat ini.

Namun Helilig dan kepioniran penemuan di bidang ini tidak akan dilupakan.

Alex Lambert, Direktur Kreatif dari perusahaan Inition, kerap kali mereferensikan mesin Sensorama dalam presentasinya tentang VR. “Sungguh luar biasa seseorang membuat alat ini dengan teknologi yang tidak sempurna pada saat 1960an. Dia memiliki beberapa ambisi yang serius!” katanya kepada techradar.

“Sensorama benar-benar berdiri sebagai contoh pasti dari konsep awal yang setiap orang coba kerjakan, yaitu bagaimana kita menggunakan teknologi untuk membuat realitas alternatif lainnya?”

Ketika Lambert menjelaskan keberhasilan baju terbang VR-nya, gaung dari Heiling kembali bergema dan terdengar cukup menyeramkan: “Kami menambahkan gerakan, kemudian pengendalian gerakan untuk pengguna dan menambahkan angin. Baju terbang ini adalah penerapan yang tepat untuk VR, sebagaimana yang kita tahu pada kenyataannya merupakan hal yang berbahaya dan mungkin tidak bisa dilakukan orang-orang, namun bisa dibuat dan bisa diakses secara mudah tanpa perlu pelatihan sebelumnya.”

Namun Elliott Myers, pencipta dari produk yang sangat menyerupai Sensorama yaitu kursi Roto VR, mengatakan bahkan setelah semua waktu yang telah terlewati, kami masih belum mampu menyempurnakan apa yang Heilig perkirakan.

“Membuat percobaan mesin simulator untuk hiburan (dan menguntungkan) telah lama menjadi lubang kuburan suci. Sayangnya, keterbatasan dari teknologi membuat penyampaian pengalaman yang benar-benar menakjubkan menjadi tertahan,” jelas Myers. Heilig dan mesin VR nya tentu akan mengangguk setuju.

“Kelahiran kembali VR baru-baru ini memberikan kepastian pada stimulus visual dan suara yang telah lama kita nantikan. Namun demikian, sama seperti Sensorama dahulu, sensasi umpan balik (angin, panas, aroma dan rasa) masih belum bisa dibawakan.

Kursi VR dari Myers menggunakan banyak prinsip yang Heilig bangun dari mesinnya. Motorisasi pada kursi game menawarkan efek angin, panas, aroma dan kekuatan umpan balik. Perbedaan terbesarnya adalah pengguna bisa memiringkan dan menggerakkan untuk mengendalikan tampilan visualnya, dimana sebaliknya pada mesin Heilig, kursinya bergerak untuk anda menyesuaikan dengan panjangnya video.

Jadi apa yang ingin istri Heilig sampaikan kepada virtual reality modern dan perwujudan dari mimpinya? Baru beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah artikel di koran LA Times dengan judul “Virtual Reality Races On.” Ada dalam halaman depan. Saya menyimpannya,” katanya. “Oculus dan head gear, semuanya sangat menarik, namun Mort memiliki konsep aslinya.”

Jenius Yang Tidak Dikenal

Virtual reality bukanlah satu-satunya perkembangan yang Heilig perkirakan akan terjadi, namun kita mungkin tidak bisa mengetahui hal lainnya.

“Saya memiliki 52 buku catatan yang penuh dengan uraian penemuannya dan juga banyak berkas,” kata Marianne. “Dari hal-hal umum hingga sampai sesuatu yang imajinatif dan diluar pemikiran.”

Kita hanya dapat berspekulasi pada apa yang kiranya terdapat dalam buku tersebut. Namun sekali lagi, bukannya mengilustrasikan ke dalam bentu buku besar atau biografi bergaya Steve Jobs, mereka masih tersimpan tersembunyi dan belum diketahui di dalam rumah Marianne.

Saya hanya berharap agar tempatnya tidak akan bocor, karena suatu saat nanti saya harus menyelamatkan semuanya,” tambahnya murung.

Terlihat luar biasa bahkan di tahun 2016, disaat dunia baru membangkitkan potensi yang ada dalam virtual reality, dimana rancangan konsep mesin Heilig yang brilian, yang ada dalam dokumen penggambarannya dan juga prototipenya masih belum terjual dengan nilai jutaan dolar.

Bahwa kita masih belum melihat semua sketsa rancangannya dalam suatu galeri, atau membeli tiket untuk melihat prototipe Sensorama: Kisah dari Morton Heilig (Tentu dalam 3D), tampak gila ketika anda mendengar reaksi orang-orang tentang mesin yang dibuat lebih maju dari masanya.

Namun, seringkali, orang-orang jenius ini jarang dihargai hingga akhirnya sudah terlambat. Mari berharap saja seiring waktu Heilig bisa mengklaim dirinya sebagai Da Vinci dari VR, kita tidak kehilangan penemuannya yang lain hanya gara-gara kebocoran air hujan.

 

Print Friendly, PDF & Email