“Saat ini sang raja Android, Samsung tengah tertatih-tatih mempertahankan wilayah kekuasaannya yang mulai digerogoti oleh suatu kekuatan misterius. Tidak hanya Samsung, bahkan vendor mobile besar lainnya seperti LG, Sony, bahkan Apple-pun sedang merasa terancam oleh kekuatan ini”

– catatan editor –

Artikel asli dalam Bahasa Inggris oleh: Tim Bajarin

Ditranslasikan ke dalam Bahasa Indonesia oleh: Edy Kesuma

 Dicek dan ditinjau ulang oleh: Reopan editor


Selama lima tahun lebih, Samsung telah menjadi salah satu perusahaan teknologi besar, hasil dari kesuksesan penjualan smartphone dan tabletnya. Perusahaan ini menjadi pemain terbesar di negara China, Korea dan beberapa wilayah Asia lainnya dan menjadi kompetitor terbesar Apple di Amerika Serikat, Eropa, dan di belahan dunia lainnya.

Namun demikian pada dua kuarter terakhir, keuntungan yang diperoleh Samsung mengalami penurunan yang drastis, dimana para eksekutifnya baru-baru ini memberi peringatan akan keuntungan yang berkurang sebanyak 60% di kuarter terakhir ini. Jadi dalam jangka waktu yang begitu pendek, bagaimana mungkin sebuah perusahaan teknologi yang begitu besar jatuh dari puncak gunung ke tempat dimana hampir sama dengan yang dialami BlackBerry?

Pasar Loak Berteknologi Tinggi Dan Pusat Smartphone China

Hal ini terjadi karena dampak dari ekosistem Shenzhen. Shenzhen merupakan kota besar sekitar 30 mil sebelah Utara Hong Kong dan salah satu wilayah pabrik produksi paling penting di China. Apa yang membuat wilayah ini menjadi menarik dikarenakan kemunculan berbagai depot spare-part teknologi yang menyediakan komponen “cangkang luar” yang dapat digunakan untuk membuat perangkat apapun mulai dari smartphone, tablet, PC atau perangkat teknologi lainnya yang dapat dijual tanpa brand atau sesuatu yang kami sebut dengan produk label putih.

Saat saya berkunjung pertama kali ke Shenzhen beberapa tahun lalu, saya diajak ke gedung enam lantai yang dikenal banyak orang sebagai pasar loak untuk ponsel seluler. Di setiap lantai terdapat berlusin-lusin vendor menjajakan smartphone dalam lemari dan meja kaca. Di Asia dan beberapa bagian dunia lainnya, pengguna terlebih dahulu membeli ponsel yang mereka sukai dan baru setelah itu membeli kartu SIM dengan layanan data dan suara.

Di daerah China ini, pasar loak Shenzhen merupakan lahan subur bagi warga lokal untuk datang dan membeli ponsel, dengan berbagai tipe ukuran dan model yang dapat dipilih. Sebagian besar dari ponsel ini adalah produk label putih, dengan nama brand kurang dikenal dan diproduksi murah dari berbagai komponen yang telah tersedia. Produk ini dijual diseluruh China dan di beberapa daerah Asia, dan terus meningkat dari tahun 2007 saat Apple mengenalkan produk iPhone. Tipe ponsel inilah yang mendominasi segmen pasar di daerah tersebut.

Banyak Pengusaha Kaya Baru

Selama lebih dari tujuh tahun, ekosistem penghasil komponen di Shenzhen telah menjadi semakin maju, menyuplai komponen kualitas tinggi ke semua jenis vendor yang mana nantinya akan digunakan untuk membuat smartphone dan tablet yang dapat menyaingi produk dari Apple, Samsung dan siapapun pemain top di lini ini. Dan vendor-vendor dari seluruh dunia sedang membuat jalur akses ke pusat smartphone China , Shenzhen untuk membeli komponen-komponen ini, dengan jumlah yang besar dan kemudian membawanya kembali ke tempat asal untuk dijual bersaing dengan brand-brand yang sudah ada.

Contoh paling bagus dapat dilihat pada perusahaan yang dikenal dengan Xiaomi, yang masih belum mengeluarkan smartphone pertamanya sampai beberapa tahun lalu namun saat ini menjadi pemasok smartphone nomor satu di wilayah tersebut. Ini terjadi karena adanya ekosistem Shenzhen dan tujuan untuk menciptakan smartphone yang didesain dengan kualitas yang lebih baik. Sampai awal 2013, Samsung adalah pemain top di China, namun brand besar Lenovo ikut masuk ke pasar smartphone China dan membuat kompetisi semakin serius. Apple juga terjun ke pasar China dengan cara yang lebih hebat. Diantara ketiga perusahaan dengan pergerakan agresifnya di China ini, Samsung mulai kehilangan porsi pasar secara dramatis.

Micromax juga melakukan hal yang sama di India, datang dari tempat tidak dikenal hingga pada saat ini berhasil mencapai sekitar 40% porsi pasar. Cherry Mobile juga melakukan hal yang sama di Filipina, dan pola ini terjadi juga di Brasil, Afrika Selatan, Eropa Timur dan tempat lainnya. Semua pasar yang sebelumnya dipimpin Samsung namun saat ini berada di bawah kompetisi utama.

Pengaruh Apple Yang Besar

Samsung juga menderita pukulan ganda disini. Salah satu alasan perusahaan ini mendapatkan keuntungan yang besar di bisnis mobile adalah karena smartphone Galaxy S4 dan Galaxy S5, dan tablet Galaxy Note 3. Perangkat ini berada di kategori premium dan Samsung mendominasi segmen layar 5 inci keatas selama hampir tiga tahun.

Namun, hasil penelitian menunjukkan Samsung diuntungkan karena beberapa kekurangan yang dimiliki produk Apple. Dan saat ini Apple telah memiliki iPhone 6 generasi baru dengan layar 4,7 inci dan iPhone 6 Plus dengan layar 5,5 inci. Produk ini memberikan dampak langsung pada model smartphone Samsung yang memiliki kemiripan ukuran dan juga jumlah permintaan akan iPhone baru ini sangatlah besar. Hal ini membuat Samsung tertimpa dampaknya lagi.

Hardware yang Membuat Pusing

Apa yang membuat hal ini menjadi semakin bermasalah bagi Samsung adalah bisnis modelnya yang hanya menghasilkan uang dari hardware. Vendor-vendor dengan produk label putih dapat membawa ponsel ini ke wilayah lokalnya dan menjualnya lebih murah karena mereka memperoleh keuntungan dari aplikasi dan layanan lokal yang mereka sediakan kepada konsumen. Samsung dan banyak vendor besar lainnya – kecuali Apple – sebagian besar memperoleh keuntungan dari hardware, sedangkan Apple memperoleh keuntungan dari hardware, software dan layanannya.

Ketika membahas tentang PC (komputer desktop), kita selalu dapat menemukan produk label putih di pasar-pasar komputer. Pada faktanya, produk PC tanpa brand merepresentasikan sekitar 40% dari seluruh perangkat komputer yang dikapalkan. Namun demikian, perusahaan seperti HP, Dell, Lenovo, Acer, Asus dan lainnya memiliki brand yang solid ditambah dengan pelayanan garansi dan service. Jadi meskipun PC dengan brand terkenal memiliki harga yang lebih mahal dari produk label putih, para pemain besar telah mampu bersaing di seluruh dunia dengan berbasiskan brand, distribusi dan layanan pelanggannya.

Hal ini terutama berlaku di Amerika, Eropa dan sebagian besar pasar negara maju. Akan tetapi, jika anda melihat apa yang terjadi pada laptop saat ini dan bagaimana produk seperti Chromebook dan laptop low-end mendominasi pasar pengguna, bahkan para vendor besar ini sedang mengalami tekanan untuk benar-benar menghasilkan uang hanya dari hardware saja.

Kita bisa melihat para pemain baru di segmen PC mulai pergi ke Shenzhen untuk dapat membuat PC dan menjualnya di rumah asal mereka. Sekali ada disana, mereka akan memberikan aplikasi-aplikasi dan layanan lokal dan kemudian menyesuaikan harga dari laptop dan PC tersebut. Jika mereka memperoleh basis konsumen di pasar lokal, hal ini dapat memberi dampak nyata bagi vendor PC tradisional yang sedang berusaha bersaing di pasar ini namun harus tetap mendapatkan keuntungan dari hardware.

Bagi Samsung, dampak Shenzhen adalah masalah serius – salah satu hal yang sangat sulit dilawan ketika disisi lain sedang berusaha untuk mendapatkan keuntungan. Bahkan dengan produk baru, kekurangan Samsung pada aspek software dan layanan lokal akan membuatnya semakin sulit untuk berkompetisi dengan Xiaomi, Huawei dan lainnya, terutama di pasar smartphone seperti China dan bagian Asia lainnya.

Bahkan yang lebih buruk bagi Samsung, beredar rumor tentang perusahaan seperti Alibaba dan Tencent mungkin akan ikut terjun dengan smartphone mereka sendiri pada tahun depan. Kedua perusahaan China ini memiliki layanan lokal yang sangat kuat yang dapat mereka kaitkan kedalam smartphone, dan memungkinkan mereka memberikan perangkat ini begitu saja kepada orang-orang dikarenakan aliran pendapatan mereka dihasilkan dari aplikasi dan layanan preload.

Ekosistem Shenzhen akan terus menjadi kekuatan pengacau sebagaimana hardware menjadi komoditas dan uang nyata dihasilkan dari aplikasi dan layanan. Perusahaan-perusahaan yang menjual hardware akan terus ditantang oleh para pengusaha baru ini, yang mana bisa memperoleh komponen dengan harga lebih murah dan juga diproduksi dengan biaya yang lebih murah. Hal ini tentu saja membuat para pemain besar di dunia teknologi mengalami kegoyahan, sama seperti yang dapat kita lihat saat ini yang sedang terjadi pada Samsung.

Agar lebih memahami ekosistem Shenzhen dan Xiaomi secara khusus, kunjungi presentasi singkat dari Ben Bajarin pada link berikut ini.

 

Print Friendly, PDF & Email