“Layaknya seorang penyair yang menciptakan syair indah dengan berbagai rangkaian kata, beberapa orang meng-klaim bahwa coding juga merupakan seni dengan bentuk karya tulis yang panjang dan rumit. Semakin bagus hasil coding semakin bagus juga apresiasi dari orang-orang yang menggunakannya. Namun apa bisa coding disebut sebagai seni?”

– catatan editor –

Artikel asli dalam Bahasa Inggris oleh: Jacob Silverman

Ditranslasikan ke dalam Bahasa Indonesia oleh: Edy Kesuma

Dicek dan ditinjau ulang oleh: Reopan editor


Walaupun statusnya kurang dihargai dalam kehidupan sehari-hari, seni – karya tulis panjang – tetap merupakan suatu bentuk penilaian tertinggi akan suatu pencapaian, dan memiliki berbagai pujian kekaguman. Label “seni” ditambahkan untuk memperlihatkan sebuah produk komersil telah melampaui sebuah kerajinan atau lebih tinggi dari itu, dan dengan pemahaman akan karya yang mendalam. “The Wire”, untuk sekilas, sering dibandingkan dengan novel Dicken dimana setiap pengguna Twitter lain adalah misogynisme, mengklaim melakukan sebuah “pertunjukan seni”. Perlu dicatat kembali, perbandingan ini hanya berjalan satu arah. Tidak ada seorang pun memuji sebuah novel dengan mengatakan bahwa layaknya seperti halaman Tumblr yang bagus.

Bidang terbaru yang ikut serta dalam Olimpiade adalah pemrograman komputer. Coding, oleh beberapa praktisinya mengklaim bahwa ini adalah sebuah bentuk seni. Pernyataan ini seringkali tergantung pada gagasan-gagasan, salah satunya disebarluaskan oleh figur industri terkemuka seperti Paul Graham, yang mengatakan coder adalah “pencipta”. Mereka menghasilkan sesuatu yang hebat – tulisan esai yang dibuat dengan bahasa pemrograman C# atau Javascript, yang tampak seperti literatur esai, tergantung pada sisi keeleganannya, presisi, dan bentuk pengetahuannya. Perwujudan hasilnya seringkali memberikan dampak yang besar bagi kehidupan manusia. Sesuai dengan penjelasan tersebut, sistem operasi Apple II yang didesain Steve Wozniak mungkin sama pentingnya dengan Macbeth.

Bagi novelis Vikram Chandra, yang menghabiskan waktu sebagai seorang programer komputer dan konsultan, perbandingan ini menyimpan daya tarik. Namun, seperti yang dia nyatakan dalam “Geek Sublime: The Beauty of Code, the Code of Beauty”, buku non-fiksi pertamanya, pernyataan tersebut agaknya seperti argumen yang terburu-buru, salah satunya seperti menggabungkan beberapa pengetahuan yang masih bias, termasuk mengenai industri teknologi Amerika yang secara khas merupakan campuran dari arogansi ke-kutu bukuan dan keperkasaan laten. Memang betul, Chandra mengakui coder – seperti penyair – memanipulasi struktur bahasa dan kiasan dan coder juga “mencari pengekspresian dan kemurnian”.

geek sublime

Geek Sublime

Namun kemewahan dari sesuatu yang disebut dengan “kode yang indah” adalah berbeda dengan apa yang disebut sebagai seni yang indah. “Kode yang indah” di kutip dari Yukihiro “Maz” Matsumodo (pencipta bahasa pemrograman Ruby), adalah benar-benar ingin membantu programer menjadi bahagia dan produktif. Hal tersebut memiliki sebuah tujuan. Seni, alaminya tidak memiliki tujuan. Kode adalah bentuk dari praktek dan logika. Sedangkan seni adalah tentang perasaan, pembauran, dan respon emosi – bagian dari apa yang Chandra sebut dengan Dhvani. Istilah ini dikembangkan oleh Anandavardhana, seorang teoritikus literatur India abad ke-9, diturunkan dari kata yang berarti “menggema.” Dhvani adalah resonansi atau “sesuatu yang tidak diucapkan,” seperti yang dikatakan Chandra. Kode adalah eksplisit. Seni dapat menjadi irasional dan meninggalkan beberapa hal penting yang tidak dapat dikatakan.

Jika gambaran buku ini belum jelas dapat dimengerti, maka buku ini bukanlah tipikal buka teknologi anda. Kendatipun dengan profil yang singkat, Geek Sublime secara tidak biasa sangat meluap-luap dan begitu kaya. Fokus buku begitu dalam pada heterodox tentang : tingkat kesulitan dan kebahagiaan dari coding, layaknya bahasa Sansekerta dan teori literatur, ideologi pasar bebas, sejarah koloni bangsa Inggris, orang India di Silicon Valley, tulisan novel pertama Chandra, penindasan sekte Hindu, penghapusan status wanita dalam industri teknologi (di India situasinya dicatat dengan lebih baik). Akan tetapi terdapat hubungan yang sangat mengejutkan disini, dan Chandra menerangkannya dengan kecerdasan yang fleksibel. Buku ini benar-benar merepresentasikan apa yang Chanda deskripsikan sebagai rencana untuk novel pertamanya: “ Saya ingin bobot pasti yang dapat membangkitkan minat. Saya ingin membengkokkan bidang melalui teriakan, saya ingin membuat ikatan. Saya ingin terlibat, hubungan yang tidak terduga, seperti sebuah gema.” Hubungan, penggemaan, dan bobot dari perasaan yang terikat. Dia menginginkan Dhvani.

Perdebatan “apakah ini merupakan seni”, pada akhirnya terlalu sederhana bagi Chandra. Resiko pemotongan istilah programer adalah seperti pertanyaan biner, namun jawabannya adalah basis 10. Dan sekarang sebagai seorang profesor dan novelis sukses, coding telah menjadi sebuah hobi bagi Chandra, dan tempat penghiburan juga. Disini dia dapat melihat penyebab dan akibat dengan segera. Tulis beberapa kode dan lihat apakah berjalan atau tidak. Ketika tidak berjalan, dia berpikir dan menjalankannya lagi. Lagi dan lagi.

Dengan menulis kode, dia mengalami beberapa kepuasan dari “seni menciptakan” dan juga suatu jeda dari siksaan eksistensial. Kode adalah sesuatu yang sulit namun bukan proses kimiawi. “Determinasi sebenarnya dari kode”, kata dia, menyediakan “suatu sambutan yang melegakan dari keambiguan literatur naratif.” Namun menulisnya sebagai fiksi, dia kadang menemukan penggelembungan waktu dan mengikat, beberapa jam berevaporasi saat dia mencoba menemukan sumber bug dalam potongan program yang dikerjakannya dengan susah payah. Dan juga terdapat suatu rasa dari pesona pelisanan. Dia kagum akan kode yang “unik kinetis” dan dapat mematerialkan logika.” Ini tidak seperti yang lainnya,” katanya. “ Programer perlu meng-klaim pekerjaan luar biasa yang mereka kerjakan.

Batasan ini berdiri terlalu kontras dengan pertimbangan Chandra pada industri teknologi, dimana dia mengutarakan tanpa rasa belas kasihan, namun adil dan terkalahkan. Di karirnya terdahulu, dimana dia hanya bertemu dengan satu programer perempuan, Chandra secara berlanjut dikelilingi oleh rekan yang abrasif, kasar, monomania, dan lambat. Mereka membalas argumen dengan menyerang karakter seseorang, nama alias, pemberhentian, dan rasa benci,” kata dia. “Tidak ingin menempatkan poin yang terlalu baik pada hal ini: Orang-orang ini adalah bajingan.” Hal ini mungkin bukan jenis kerumunan yang perlu diberitahu bahwa pekerjaan mereka begitu luar biasa lebih dari yang mereka pikirkan. Chandra juga memberikan catatan terutama dalam budaya pemrograman di Amerika, dimana yang dia temukan tidak disukai, tidaklah berlaku universal. Programer Palo Alto, dia mengartikan, tidak memahami alam, setidaknya pada dampak dari apa yang mereka lakukan. Mereka secara salah mengambil citra seorang artistik karena mereka melihat seni sebagai algoritma yang lain, sebuah urutan instruksi yang akan diimplementasikan. Dan juga mereka mengerjakannya karena tampaknya hal ini berada lebih rendah dari rasa egoisme mereka.

Review Geek Sublime dari New York Times baru-baru ini, James Gleick menulis bahwa tesis terkenal dari C.P. Snow’s “Two Cultures” (seni dan ilmu pengetahuan yang menjadi terpisahkan dari kehidupan intelektual, membuat kerugian bagi masyarakat) adalah benar. Namun Gleick menulis, “Garis kekeliruan telah berganti.” Ketika hal tersebut masih tetap penting bagi, katakanlah, pereview buku untuk mengetahui tentang fisika atau kimia, mereka seharusnya juga mengetahui beberapa hal tentang komputer dan mungkin juga coding. Saya juga memikirkan pendapat Snow ketika membaca buku Chandra. Gleick dengan cerdas memintanya dan menilai penerapannya pada saat ini. Diskusi dari topik Snow mendapat ketentuan tambahan. Snow mengkritik sebagian besar masyarakat – belajar tentang ilmu pengetahuan dan seni agar menjadi subjek kosmopolitan yang lebih baik. Menjadi adalah frasa palsu yang sempurna. Pembagian di kebudayaan kita saat ini lebih tergantung pada pertanyaan yang bersifat politik dan ekonomi. Sebagaimana software yang terus “memakan dunia,” sebagai seorang investor Marc Adressen mengatakan, sumber daya dan uang akan terus bertambah bagi orang-orang yang mengontrol, memahami, atau membiayai sistem ini.

Baru-baru ini, sebuah seruan untuk belajar mengkodekan ditujukan kepada pemain basket NBA Chris Bosh dari Presiden Obama. Bujukan ini tidak merefleksikan gagasan Snow tentang pengayaan budaya atau mempertemukan kecerdasan intelektual yang terpisah yang sebenarnya sangat disayangkan. Bahkan, hal tersebut kebanyakan didasarkan pada ide mencapai keberhasilan ekonomi pasca industri atau mengakusisi jenis literatur abad ke-21 yg masih pada taraf awal. Tidak ada dari hal-hal tersebut yang sepenuhnya buruk. Namun menjadi ahli dengan Clojure dan Python (dua bahasa pemrograman populer) tidak berarti orang itu memahami apa yang terjadi di dalam mesin atau perannya dalam masyarakat. Chandra mengutip sebuah pesan anonimous user, yang mengatakan walaupun dia dalam perjalanan ke gelar keduanya dalam komputer sains dan seorang developer sukses di Microsoft .NET framework, dia sama sekali tidak mengetahui bagaimana sebenarnya komputer bekerja. Dasar dari komputasi – terutama bagaimana kode yang dia tulis di terjemahkan oleh mesin menjadi satu dan nol yang dieksekusi sebagai suatu instruksi – adalah misteri baginya. Hal yang sama juga terjadi pada kita semua: kita mahir dengan penggunaan smartphone namun akan terdiam jika diminta untuk menjelaskan dasar dari paket switching (Sebuah landasan dari teknologi internet, paket switching membuat data dapat dipotong menjadi kelompok kecil, atau paket, yang dikirim melalui jaringan, dan digabungkan kembali di tempat tujuannya).

Lapisan teknologi yang lebih dalam ini juga memiliki persoalan. Chandra memperlihatkan bagaimana budaya tidak dapat dipisahkan dari teknologi, karena kedua hal ini eksis pada hubungan saling mempengaruhi. Akan tetapi, apa yang jauh membedakan Chandra adalah dia menghargai mengapa semua hal itu diperlukan. Sangatlah penting untuk memahami budaya teknologi kita sehingga seseorang tidak hanya dapat bekerja dengan baik pada informasi ekonomi atau karena hal tersebut dapat membuat hidup seseorang menjadi lebih kaya. Tidak, ini untuk memahami bagaimana kehidupan masyarakat bekerja – bentuk struktur kekuatan, politik dalam industri, sejarah dari kolonialisasi dan perampasan, konsekuensi yang tertinggal dalam bentuk bias warisan sosial dan sistem resmi dari Inggris (merupakan kode pra-digital). Belajar mengetahui bagaimana mem-program dengan baik, namun belajar juga bagaimana celah keamanan aplikasi kencan baru-mu mungkin dapat mengekspos pelecehan terhadap wanita atau bagaimana sebuah startup yang baru saja mempekerjakan anda mampu memiliki kantor baru karena sebuah kota yang kekurangan uang menawarkan potongan pajak yang absurd.

Ketika semakin fokus pada isu gender dan diskriminasi budaya, buku dari Chandra menampilkan jenis literasi ini. Sensitif dan bijaksana, Geek Sublime, pada bentuk terbaik, menyadari dirinya sendiri. Dan jika industri teknologi memerlukan kualitas sama baiknya, hal ini mungkin akhirnya akan menjadi pertemuan bahagia yang pantas.