“Fokus dari perekrutan pegawai seharusnya membawa orang-orang yang bertalenta baik ke dalam perusahaan, walaupun pengalaman mereka belum tepat dengan kebutuhan deskripsi pekerjaan yang ditawarkan. Seiring waktu potensi dan kreatifitasnya akan membantu mereka mengasah pengalaman mereka di tempat kerja”

– catatan editor –

Artikel asli dalam Bahasa Inggris oleh: Jillian D’Onfro

Ditranslasikan ke dalam Bahasa Indonesia oleh: Edy Kesuma

Dicek dan ditinjau ulang oleh: Reopan editor


Pernyataan ini adalah kebenaran yang sering disangkal oleh para pendiri atau pemimpin bisnis bahwa mereka selalu mencoba merekrut orang-orang yang lebih pintar dari mereka sendiri.

Pada kenyataannya, kendatipun hal tersebut jarang terjadi, sesuai dengan pernyataan ketua eksekutif Google dan mantan CEO Eric Schmidt dan mantan SVP Produk Jonathan Rosenberg, dalam buku terbaru mereka “How Google Works”.

perekrutan pegawai

Ilustrasi Perekrutan Pegawai

Salah satu kesalahan terbesar perusahaan ketika merekrut karyawan, dari yang dikatakan Schmidt dan Rosenberg adalah, bahwa mereka tidak dapat benar-benar mengikuti kata klise tersebut. Dikarenakan mereka menggunakan struktur perekrutan hirarkis, dimana satu manajer membuat semua keputusan. Ketika seorang manajer melakukan semua perekrutan, ego pribadinya akan menghalangi cara menemukan seseorang yang benar-benar pintar dibanding dirinya.

Schmidt menjelaskan tentang perekrutan hirarkis seperti dibawah ini”

“ Manajer HR memutuskan siapa yang mendapatkan pekerjaan, ketika anggota lain dalam tim menyediakan masukan dan para eksekutif senior memberikan stempelnya apapun keputusan yang dibuat oleh manajer tersebut. Masalah dari hal ini adalah sekali orang tersebut mulai bekerja dalam perusahaan, model dalam bekerja adalah (atau seharusnya) bentuk kolaborasi, dengan tingkat kebebasan dan transparansi tinggi dan mengesampingkan pangkat. Jadi saat ini, satu orang manager telah membuat keputusan yang secara langsung memberi pengaruh ke banyak tim selain dia sendiri.”

Schmidt dan Rosenberg setuju bahwa model hirarkis adalah berita buruk.

Malah, mereka berpendapat sebuah perusahaan seharusnya merekrut karyawan baru seperti yang dilakukan oleh universitas saat memutuskan dalam fakultas mana anggota di rekrut untuk dipekerjakan, dipromosikan atau tentang masa jabatannya oleh suatu komite. Point penting-nya adalah perekrutan seharusnya per basis, bukan hirarkis.

Perusahaan – seperti universitas – memerlukan investasi waktu yang cukup lama untuk menemukan orang yang tepat. Khususnya jika dalam tim yang kecil, sebuah usaha perekrutan kolaboratif memastikan setiap orang merasa nyaman ketika orang yang masih asing ini bergabung dalam tim mereka. Karyawan baru perlu berhubungan baik dengan orang lain dimana dia akan bekerja ketika di dalam atau di luar kantor, bagaimanapun juga. Fokus hal ini seharusnya membawa orang-orang yang bertalenta baik ke dalam perusahaan, walaupun pengalaman mereka belum tepat dengan kebutuhan deskripsi pekerjaan yang ditawarkan.

“Dalam proses perekrutan per basis, tekanan berada pada orang-orang, bukan pada organisasi,” tulis Schmidt. “Masalah kreatifitas lebih dari masalah peraturan, persoalan perusahaan lebih dari permasalahan manager HR.”

 

Print Friendly, PDF & Email