“OS yang tidak bisa bersaing dan lamanya respon dari perusahaan membuat BlackBerry semakin tertinggal di era Smartphone 2.0”

– catatan editor –

Artikel asli dalam Bahasa Inggris oleh: Jean-Louis Gassée

Ditranslasikan ke dalam Bahasa Indonesia oleh: Edy Kesuma

Dicek dan ditinjau ulang oleh: Reopan editor


Dahulu BlackBerry adalah smartphone modern pertama yang ada, raja dari manajemen informasi pribadi yang dapat dibawa kemana saja. Namun didalam penyajiannya yang modern, tersembunyi kelemahan yang paling fatal, yaitu perangkat lunak yang tidak dapat beradaptasi dengan era Smartphone 2.0.

Mengalami jet-lag saat tiba di New York pada 4 Januari 2007, dimana saat itu baru saja kembali dari perayaan Tahun Baru di Paris, saya meninggalkan hotel West 54th sekitar jam 6 untuk mencari kopi. Di sudut pojok dari Avenue of the America, saya melihat papan logo Starbucks yang bersinar di berbagai arah. Saya berjalan ke toko yang terdekat dan berbaris untuk mendapatkan cairan ransum saya yang pertama. Di depan saya, di samping saya dan di belakang barisan, setiap orang memegang BlackBerry. Mengecek email dan pesan BBM yang masuk dengan mimik muka serius dan terlihat profesional. BlackBerry adalah smartphone yang harus dimiliki oleh bankir, pengacara, akuntan dan setiap orang seperti saya juga, yang ingin dilihat sebagai pengusaha elit bintang empat.

Lima hari kemudian, pada 9 Januari Steve Jobs berjalan ke depan panggung dengan membawa sebuah iPhone dan era dari BlackBerry, smartphone populer di Starbucks, akan segera berakhir. Walaupun membutuhkan sampai dengan 3 tahun bagi BlackBerry untuk tenggelam, kemunculan iPhone benar-benar merupakan titik balik bagi kehidupan, kemunduran BlackBerry.

RIM (nama perusahaan saat itu) mengapalkan 2 juta unit perangkat BlackBerry pada kuarter pertama tahun 2007 dan naik dengan cepat sampai 14,6 juta unit di kuarter keempat tahun 2010, namun kembali turun menyamai level tahun 2007 pada akhir tahun 2013.

Minggu lalu, BlackBerry Limited (nama perusahaan saat ini) merilis angka penjualan kuarter terakhir dan hasilnya tidak terlalu baik. Pendapatan terjun ke $916 juta vs. $1.57 milyar pada tahun lalu (-42%). Perusahaan kehilangan $207 juta dan hanya mengapalkan 2.1 juta unit smartphone, lebih dari setengah juta dari jumlah kuarter pertama tahun 2007. Sebagai referensi, IDC menginformasikan industri smartphone mengapalkan sekitar 300 juta unit di kuarter kedua di tahun 2014. Dengan perangkat Android dan iOS mendominasi 96% pasar global.

Berbagai penegasan dari terjalnya kemunduran BlackBerry.

Banyak perhatian tertuju ke pemimpin perusahaan, dimana ex-CEO Jim Balsillie dan pendiri RIM Mike Lazaridis menerima banyak kritikan. Di artikel Monday Note yang di posting pada Maret 2011 terdapat judul “The Inmates Have Taken Over The Asylum” atau “Para Penghuni telah Mengambil Alih Rumah Sakit Jiwa”, saya mengambil kutipan berwarna namun penuh teka-teki dari pernyataan Jim Balsillie:

“Ada pergolakan luar biasa dalam ekosistem, tentu saja, terjadi dalam mobilitas. Dan hal itu sudah jelas, namun terdapat juga perdebatan arsitektur yang hebat dalam perlawanan. Jadi saya akan segera memetakan perbedaan arsitektur mobile kami. Kami telah mengambil dua pendekatan fundamental yang berbeda dalam kedekatan mereka. Ini adalah perbedaan sederhana, bukan sekedar nuansa. Tidak hanya tujuan sederhana yang saya ingin saya artikulasi-kan disini dan silahkan bebas mengartikan seperti yang anda inginkan, hal ini benar-benar fundamental sama seperti kedekatannya.”

Pernyataan tersebut dan sebuah diskusi Lazaridis baru-baru ini yang sedikit aneh tentang “application tonnage” atau “bobot aplikasi” membuat orang-orang bertanya-tana apa yang sedang terjadi kepada kedua orang yang dulunya sangat bersemangat memimpin RIM/BlackBerry ke puncak industri. Dimana mereka salah berbelok? Apa yang menjadi penyebab kepanikan dari pernyataan mereka yang disorientasi?

Perangkat lunak. Saya menyebutnya sindrome Apple.

Pada suatu waktu, Apple adalah komputer yang bersahabat, memiliki kapabilitas, disukai dengan baik. Perangkat lunak internalnya begitu bisa diandalkan karena kemudahan yang diberikannya. Sistem operasinya menjalankan aplikasi dan mengatur mesin CPU 8 bit, memori, dan perangkat-perangkat lainnya. Namun perangkat lunak Apple tidak dibangun dari arsitektur modular yang dapat kita lihat pada sistem operasi modern, sehingga tidak bisa beradaptasi sebagaimana dalam hukum Moore yang memungkinkan prosesor yang lebih cepat. Perubahan mendasar sangat diperlukan. Hal inilah yang menjadi penyebab perang internal antara Apple dengan group Mac Steve Jobs.

Hampir sama, BlackBerry mempunyai perangkat lunak yang sederhana dan kuat yang membuat perusahaan menjual jutaan perangkat kepada komunitas pengusaha, sebagaimana menempatkan konsumennya dengan baik. Saya mengingat bagaimana istri saya terkesan dengan hilangnya kabel sinkronisasi ketika saya mengganti perangkat Palm-nya dengan BlackBerry dan ketika dia menyaksikan data emailnya, kalender dan daftar alamatnya dengan mudah terbang dari PC ke smartphone barunya. Dan pekerja mekaniknya juga senang terbebas dari panggilan masalah Hotsync yang tidak bekerja.

Tapi seperti pada Apple, kemajuan perangkat keras dan semakin tingginya ekspektasi pelanggan melebihi kemampuan perangkat lunak untuk berevolusi.

Hal ini bukanlah sesuatu yang dihindari oleh manajemen RIM. Sebagaimana yang diungkapkan dalam Globe and Mail story, Lazaridis dengan cepat menyadari apa yang sedang dia hadapi:

“ Mike Lazaridis sedang di rumah dengan treadmill-nya dan sedang menonton televisi ketika dia pertama kali melihat iPhone Apple awal tahun 2007. Ada beberapa hal yang tidak dia mengerti tentang produk itu. Jadi pada musim panas kala itu, dia menyelidiki untuk mencoba melihat fitur apa yang ada di dalam-nya, dan dia terkejut. Apple seperti memberikan fitur komputer Mac ke dalam ponsel selular, hal itu yang ada dalam pikirannya.

iPhone adalah perangkat yang menerobos semua aturan. Sistem operasinya sendiri mengambil 700 Mb dari kapasitas memori dan perangkat tersebut menggunakan dua prosesor. Seluruh perangkat BlackBerry berjalan dengan satu prosesor dan menggunakan 32 Mb. Tidak seperti BlackBerry, iPhone memiliki browser dengan kapasitas internet penuh.

Jadi di tahap awal pergantian ke era Smartphone 2.0, RIM telah memahami lebar dan masalah alami yang dihadapi. BlackBerry mampu memberikan layanan namun perangkat lunak-nya tertinggal menghadapi arsitektur yang lebih canggih. BlackBerry menjadi generasi yang tertinggal di belakang.

Tidak sampai tahun 2010 RIM mengakusisi QNX, sistem operasi UNIX yang pertama kali disebarkan pada tahun 1982 oleh Quantum Software System, yang didirikan oleh dua orang mahasiswa Universitas Waterloo. Mengapa perusahaan Lazaridis memerlukan waktu sampai tiga tahun untuk mengambil langkah jelas dan akurat sebagai respon dari masalah perangkat lunak mereka? Tiga tahun kalah dalam usaha meningkatkan performa perangkat lunak lama
dan perselisihan antara para tradisional yang menyukai keyboard dengan yang ingin mengadopsi teknologi layar sentuh.

Mengadaptasi aplikasi BlackBerry ke QNX lebih rumit dibandingkan dengan hanya memasangkan perangkat lunak terbaru ke dalam jajaran lini produk RIM. Untuk memulainya, QNX tidak mempunyai lapisan tebal kerangka pengembangan yang berdasarkan pada penulisan aplikasi mereka. Kerangka ini, seperti yang menyusun sebagian besar 700 Mb yang Lazaridis lihat dalam perangkat lunak iPhone, harus dibangun ulang diatas sistem yang tehubung baik, berjalan otomatis, medis dan segmen hiburan, namun hal itu kurang cocok dalam penerapan normal.

Dari berbagai hal rumit itu, perusahaan menghadapi pergolakan dengan warisan lama, yaitu aplikasi yang sudah ada dan layanannya. Mana yang harus kita perbaharui untuk sistem operasi yang baru? Mana yang perlu ditulis ulang dari ketidakcocokan? Dan mana yang harus benar-benar kita hilangkan?

Pada kenyataannya, RIM berada lebih dari tiga tahun dibelakang iOS (dan selanjutnya Android). Berdasarkan dari apa yang kami dengar, iPhone tahun 2007 tidak hanya dibangun dengan sistem operasi modern, tapi juga dibangun dengan tiga sampai lima tahun pengembangan dari percobaan dan kegagalan.

BlackBerry telah kalah dalam pertarungan perangkat lunak bahkan sebelum bisa melawan.

Beberapa faktor lain yang menjelaskan kemunduran BlackBerry mulai dari budaya dalam perusahaan, pengembangan perangkat keras yang salah arah, kehilangan talenta dari para insinyur, tampak lebih pucat dibandingkan dengan pertarungan perangkat lunak yang tidak dapat dimenangkan.

Sedikit catatan tambahan: dua pemain lain, yaitu Palm dan Nokia juga kalah dalam pertarungan dengan alasan yang sama. Dibebani dengan warisan platform yang pernah sukses, mereka menyerah pada pendekatan segar yang diambil alih oleh iOS dan Android.

Sekarang dibawah manajemen baru, BlackBerry sedang mencari jalan keluar. John Chen, CEO baru perusahaan datang dengan resume yang berisi pengalaman kesukesan mengganti database perusahaan Sybase dan menjualnya ke SAP pada tahun 2012. Tentunya, sebagai eksekutif yang berpengalaman tidak langsung percaya pada desain keyboard baru seperti yang digunakan di BlackBerry Passport adalah solusinya.

blackberry pasport

Blackberry Passport

Diluar memberikan layanan bagi para user pencinta keyboard, sangat sulit untuk melihat Passport mendapatkan kedudukan di segmen pasar smartphone. Review dari produk ini yang sempat hangat tidak terlalu menolong. Kompatibilitas dengan Android adalah semu, para pengembang begitu repot menulis kode untuk dua platform terkemuka yang tidak saling mempercayai.

Chen, tidak pernah beranjak dari pandangan optimisnya, memuji keamanan yang dimiliki BlackBerry, Manajemen Perangkat Mobile dan lisensi sistem operasi QNX yang sesuai dalam industri aplikasi.

Tidak ada dari perubahan ini yang akan dapat mencabut jarum permasalahan dalam cara yang bisa diapresiasi. Dan karena masa depan BlackBerry terlihat belum pasti, pelanggan korporat yang pernah menggunakan komunikasi, keamanan dan layanan manajemen gabungan BlackBerry secara bertahap mulai meninggalkan suplier lamanya dan berbalik lebih menyukai IBM dan layanan “Good Tecnology”.

Perusahaan tidak tiba-tiba berada dalam bahaya kematian finansial. Chen memiliki lebih dari $3 Milyar dalam bentuk tunai dalam pembagiannya dan perusahaan kehilangan sekitar $35 juta setiap kuarternya. Saham BlackBerry saat ini menunjukan nilai perusahaan sekitar $5 Milyar, lebih $2 Milyar dari posisi nilai tunainya. Untuk itu, langkah terakhir Chen adalah dengan menjual perusahaan, dibandingkan secara keseluruhan, lebih tepatnya dalam beberapa bagian (portofolia IP, QNX OS, …) untuk mendapatkan uang tunai bersih senilai lebih dari $2 Milyar.

Wall Street tahu tentang hal ini, pelanggan korporat juga tahu, para distributor penjual perangkat Passport dan beberapa pelayanan-nya mengetahui hal ini. Dan pembeli spare-part potensial juga mengetahuinya dengan baik… tapi tunggu!

Hal ini tidak akan berjalan manis.


 

Print Friendly, PDF & Email