“Ada banyak kisah sukses dari para pendiri startup yang membuat kita terinspirasi. Namun ada juga kisah kegagalan yang jarang kita dengar. Kegagalan memang hal yang menakutkan bagi semua orang. Namun itu bukanlah alasan untuk mundur, tapi pelecut agar tidak pernah berhenti berusaha dan mencoba”

– catatan editor –

Artikel asli dalam Bahasa Inggris oleh: Charlie Guo

Ditranslasikan ke dalam Bahasa Indonesia oleh: Edy Kesuma

Dicek dan ditinjau ulang oleh: Reopan editor


 

Kevin dan saya sedang berjalan di sekitar pusat kota Mountain View bersama Paul Graham (PG), salah satu pendiri dari Y Combinator. Saat itu cuaca sedang hangat, hari yang sedikit berangin di awal bulan Juli, dimana tiga bulan sebelumnya kami telah bergabung dalam program Akselerator Startup. PG berjalan disamping kami dan mengatakan: “Jika saat ini seperti di dalam kelas kampus, saya mungkin adalah professor yang memperingatkan bahwa kalian sedang berada dalam bahaya.”

Kami memang memiliki keraguan bahwa startup kami tidak akan berjalan dengan baik, namun dia telah menegaskannya kembali. Kami sedang berada di perusahaan inkubator paling prestisius di dunia dan kami mengacaukannya.

 Mari Kita Putar Ulang Kembali

Kembali ke saat musim semi, dimana Kevin dan saya sedang sibuk mempersiapkan wawancara dengan Y Combinator. Kami mengaplikasikan sebuah ide pendidikan pemrograman, dengan tagline “Codecademy on stereoids.” Saya memiliki banyak teman yang tidak terhitung jumlahnya yang akan menyelesaikan kuliahnya di jurusan ilmu komputer dan mendapatkan sebuah ide untuk sebuah perusahaan, namun mengalami kendala untuk mewujudkannya dari konsep ke bentuk produk. Saya ingin membantu mereka menyelesaikan masalah tersebut.

Saya telah mengenal Kevin sejak dari pertama kuliah, namun tidak perlu menunggu sampai semester akhir agar kami dapat bekerja sama. Kami adalah tim yang solid, sebuah combo dari desainer dan developer. Kami memiliki ide yang masuk akal, atau begitu yang kami pikirkan. Jadi kami mencoba mengajukannya ke Y Combinator karena, yaahh mungkin, hal itu terdengar masuk akal untuk dikerjakan. Setelah menghabiskan hampir dua dekade sebagai profesional kutu loncat, saya memiliki beberapa pilihan yaitu 1) Melanjutkan sekolah 2) Kerja di perusahaan teknologi besar 3) Mengikuti startup akselerator yang prestisius.

Tahap Wawancara Inkubator Startup

Walaupun wawancara Y Combinator seharusnya sangat melelahkan, kami tampil dalam 10 menit wawancara yang secara relatif tanpa kekeliruan. Para penguji (Garry Tan, Kevin Hale, Michael Seibel dan Geoff Ralston) menanyakan model bisnis kami dan kemampuan kami dalam mengeksekusi, dan kami menjawabnya dengan jawaban yang meyakinkan.

Pada tahap ini hampir sebagian besar anggota tim dipersilahkan untuk pulang, dan para penguji akan memberikan keputusan di akhir hari. Bukan kami. Kami dalam perjalanan pulang ketika para penguji meminta kami memutar balik untuk mengikuti tahap wawancara kedua. Pada saat ronde kedua ini saya baru mengerti mengapa orang-orang mengatakan panggilan dari Y Combinator sangat melelahkan.

Dengan para penguji lain (Paul Graham, Jessica Livingston, Trevor Blackwell dan Robert Morris), kami mendapatkan pengalaman yang benar-benar berbeda. Kami dalam penampungan. Pada titik tertentu, PG menghela nafas panjang dan mengusap dahinya. “Kalian sedang berada di pertengahan wawancara dan saya masih belum mendapatkan bayangan tentang apa yang akan dibuat perusahaanmu. Ini benar-benar tidak bagus.” Saya mengingat Jessica memberikan kami pandangan yang saya sendiri interprestasikan sebagai kekecawaan total. Kami pulang dengan patah semangat.

Kami pulang meninggalkan kantor Y Combinator tanpa gambaran apakah kami akan diterima atau tidak. Peluang kami tidak terlalu bagus, tapi untuk jaga-jaga kami pergi dan membeli sebuah botol champagne (untuk keberhasilan) dan satu botol whiskey (untuk kegagalan).

Jadi anda dapat membayangkan bagaimana terkejutnya kami ketika mereka memberitahu bahwa kami lolos seleksi. Kami mabuk dalam gelembung kegembiraan.

Sindrom Impostur 

Kami menikmati kegembiraan, namun benar-benar singkat. Apa yang seharusnya menjadi mindset yang positif dengan cepat berbalik menjadi negatif. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya mengalami sindrom impostur: Saya berkeyakinan bahwa saya tidak layak mendapatkan keberhasilan yang telah saya dapatkan. Saya mungkin hanya sekedar beruntung, pada beberapa waktu, atau pada bagian tertentu berhasil meyakinkan para penguji dengan baik. Dikelilingi oleh kelompok orang-orang yang lebih pengalaman, percaya diri dan memiliki daya tarik, saya merasa seperti seperti seorang penipu ulung.

Dari luar, mungkin saya terlihat gila merasakan hal ini. Saya lulus dari Universitas Standford, saya mendapatkan gelar ilmu komputer, dan saya tahu bagaimana bermain dalam startup. Saat masa kuliah, saya memulai sebuah perusahaan teknologi yang bernama ClassOwl, yang telah meraih sampai satu juta dolar dari pendanaan. Dua rekan pendiri saya dan saya menghadiri StartX, sebuah program incubator yang bekerja sama dengan Standford, namun kami akhirnya memutuskan untuk menyelesaikan kuliah kami daripada mengejar impian startup kami.

Akan tetapi di dalam diri saya sama sekali belum siap. Saya baru berusia 21 tahun, saya tidak tahu mengapa diri saya berada di dalam Y Combinator dan saya benar-benar tidak tahu bagaimana membangun perusahaan dari dasarnya. Dan diatas semuanya itu, pendamping kami terkesan dengan ide kami yang begitu bodoh. Jadi kami berbalik arah.

Fan Hero 

Jika melihat kebelakang, seharusnya kami mencoba lebih keras arahan dari para pendamping. Kami seharusnya menemukan sebuah cara menggunakan kode yang kami tulis dan wilayah keahlian yang kami miliki. Namun, kami membuang semua data kami, semua hasil kerja kami dan memulainya dari awal lagi.

Saya benar-benar memulainya dari awal. Kami meneliti Bitcoin, perangkat pintar, printer 3D, biometric dan pusat perhatian dari teknologi lain. Setelah beberapa hari mengalami masa pencucian otak, FanHero akhirnya terlahir. Kami menemukan ide betapa sedikit uang yang dihasilkan dari kebanyakan personalisasi YouTube. Tesis kami adalah jika anda membuat konten yang dinikmati berjuta-juta orang secara teratur, anda seharusnya dapat hidup dari hal itu.

Seperti kebanyakan anak muda umur 20-an yang baru lulus, kami berasumsi bahwa kami dapat membuat beberapa bit software dan mengguncang seluruh industri. Kami belum memiliki pengalaman menciptakan dan mengelola model pengikutan online. Dan kami tidak memiliki teman-teman YouTuber yang dapat kami mintakan pendapat. Dari awal, ini adalah perjuangan yang curam.

Kami masih memiliki keyakinan, namun begitu. Jika kami bisa memperoleh sejumlah besar pengguna kritis, berulang-ulang beberapa kali pada produk dan mendapatkan ulasan dari TechCrunch, kami mungkin dapat menyelesaikan semua masalah kami.

Dan kemudian produk kami “diluncurkan”.

Karena incubator ini begitu terkemuka, media TechCrunch akan ikut menyertai peluncuran berbagai perusahaan hasil Y Combinator. Beberapa ulasan dari cakupan, sebagaimana media berita gratis. Pada kasus kami, masih belum jelas apakah telah mengambil keputusan yang tepat.

Berikut ini kata-kata yang ditulis oleh reporter tersebut:

“Jadi dengan demikian, terdapat perusahaan yang disebut dengan FanHero. Produknya akan membantu para pengguna YouTube agar dapat menghasilkan uang, contohnya tanpa melalui pemasangan iklan. Memberikan komunitas sebuah cara yang mendukung mereka melalui perdagangan – seperti yang anda tahu, penjualan barang-barang tertentu. Seperti model klasik, dimana anda pergi menonton band favorit anda dan anda membeli CD atau baju kaosnya.

Orang-orang dibelakang FanHero adalah mahasiswa tingkat akhir Standford, Kevin dan Charlie, yang menyukai dan tumbuh besar bersama YouTube untuk mempopulerkan para YouTuber. Para pemuda ini tidak ingat kapan seorang bintang dunia paling terkenal tidak ada didalamnya. Mereka ada di Y Combinator saat ini karena itu adalah tempat dimana semua anak-anak keren mempelajari internet dan me-monetisasi berbagai hal.”

Kami memiliki masalah yang lebih besar dari potongan artikel itu, agar lebih yakin, namun diperkenalkan pada artikel yang dengan terus terang mengejek kami adalah seperti paku terakhir yang tertancap dalam peti mati. Dan itu adalah saat kami menerima email, yang memberitahukan bahwa kami akan dikumpulkan pada jam kantor bersama Paul Graham.

Pertemuan

Dia seorang yang brutal, namun juga orang yang jujur. Perusahaan kami berada pada tingkat yang mengecewakan. Kami memiliki kurang dari 5 minggu sebelum hari pendemonstrasian, saat dimana kami diharapkan mempresentasikan ide kami sebelum pertemuan besar bersama para investor. Kemungkinan seperti pertemuan audien paling besar yang pernah kami alami. Jadi kami berputar arah. Lagi.

Kami mendatangi Paul Graham dan dia memberi tahu kami untuk berhenti khawatir tentang hari demonstrasi. Dengan ide yang benar, kami akan bekerja pada perusahaan selama kira-kira 5 tahun lebih. Benar-benar sesuatu yang bodoh jika mengorbankan kualitas perusahaan hanya untuk mengoptimalkannya dalam 5 minggu kedepan. Dibandingkan dengan hal itu, kami seharusnya mencari teknologi yang menarik perhatian kami, sebaik dan sebesar trend yang telah kami observasi pada suatu industri. Sesuai reputasinya, dia memberikan kami nasehat yang sangat, sangat baik. Ketika anda berusia sekitar 21 tahun yang mencoba membangun sebuah startup pertama kali setelah lulus, meskipun demikian, sangatlah sulit meresapi nasehat tersebut.

Pada beberapa minggu terakhir, program kami sedikit terlihat kabur. Kepercayaan diri saya turun dan stress yang meningkat seperti roket. Saya takut menghadiri acara makan malam mingguan, dimana saya seharusnya saya berbincang dengan kelompok saya dan mengkonfirmasikan penyangkalan itu. Kami belum menemukan sebuah ide dan benar kami masih begitu bersemangat dengan perusahaan kami. Saya hanya sedikit melakukan kegiatan seperti makan, membuat kode dan tidur. Saya merasa setiap orang telah siap mencapai target jutaan dolar, ketika di saat yang sama saya merasa putus asa mencoba menemukan sebuah produk. Tidak mungkin ada cara bagi kami untuk berkompetisi pada tahap hari demonstrasi.

Sebuah Jalan Keluar 

Para pendamping memberitahukan bahwa kami memiliki opsi untuk menunda hari demonstrasi, jika kami menginginkannya. Hal ini tidak biasa, namun perusahaan lain pernah melakukannya. Saya secara luar biasa merasakan kelegaaan. Penundaan demonstrasi adalah tanpa pemikiran. Kami tidak memiliki ide yang dapat kami yakini, dan walaupun kami dapat memperbaiki salah satunya dan meraih salah beberapa pendanaan, kami tidak ingin melakukan hal tersebut. Saya tidak ingin melakukannya karena pada bagian tertentu itu terlihat tidak tulus. Dan hal yang utama adalah karena menggunakan separuh juta dolar dari uang orang lain akan meningkatkan tingkat stress saya dari tidak sehat menjadi lumpuh.

Namun melewati hari demonstrasi tidak akan memperbaiki kekurangan dari keyakinan kami. Tekanan dari berbalik arah terus berlanjut. Pada saat ini, saya mulai mengalami situasi yang faktanya benar-benar tidak membuat saya bahagia. Selama ketertarikan saya terhadap dunia startup, saya belum pernah menginginkan memulai sebuah perusahaan yang secara sederhana hanya untuk keberhasilan memulai sebuah perusahaan. Dan mengerjakan hal “demi keberhasilan memulai perusahaan” dimana saya menyadari diri saya sendiri, seperti saya mengacak-acaknya untuk sebuah ide yang dapat diterima.

Saya tidak tahu apakah hal ini benar bagi orang lain, namun sebagai seorang pendiri yang terpukul, saya dengan sedikit putus asa mempercayai mitos startup, bahwa kesuksesan berada di balik rintangan, yang jika kita mau menunggu sedikit lebih lama, atau menemukan sekilas ide yang lebih baik, secara mengejutkan akan langsung membawa kita mengendarai pesawat roket kesuksesan.

Saya benci meragukan diri saya sendiri, namun saya tidak akan pernah akur dengan keyakinan yang membutakan.

Jadi saya memutuskan untuk pergi.

Saya Meninggalkan Hati Saya di San Francisco 

Semenjak itu, saya mengembil jeda dari startup. Saya masih menyukai Silicon Valley, dan saya tahu secara berlanjut saya akan kembali kesana. Namun sementara itu saya akan menjelajahi dunia dengan bekerja sebagai konsultan software. Sejauh ini saya telah mengunjungi Jepang, China, Thailand, Yunani, Costa Rica, Nicaragua, Argentina dan Brazil.

Saya tidak menyesali pengalaman yang telah saya dapatkan. Tentu, saya mungkin telah mengerjakan hal yang berbeda, namun kurang lebih saya telah berhasil berdiri dengan kaki saya sendiri. Dan saya telah mempelajari beberapa hal yang sangat penting tentang diri saya: Saya tidak ingin memulai sebuah perusahaan sampai saya menemukan sebuah masalah yang memang saya pedulikan. Sebuah masalah yang dapat saya jalani saat makan, tidur dan bernafas. Sebuah masalah yang layak untuk dicarikan solusinya.

 

Print Friendly, PDF & Email