“Soundcard dalam sebuah komputer adalah salah satu komponen yang kualitas nilainya paling sulit diukur. Dan fakta inilah yang seringkali menjadi penyebab, mengapa membeli soundcard tambahan lebih terlihat seperti sebuah perjudian dibandingkan sebagai sebuah investasi kepuasan”

– catatan editor –

Artikel asli dalam Bahasa Inggris oleh: Matthew DeCarlo

Ditranslasikan ke dalam Bahasa Indonesia oleh: Edy Kesuma

Dicek dan ditinjau ulang oleh: Reopan editor


Saya sudah pernah mengalami berbagai pengalaman ketika akan membeli soundcard sejak pertama kali saya memiliki komputer (PC) di tahun 2012. Terdapat persamaan umum ketika akan membeli komponen-komponen yang ada dalam komputer. Sebagai contoh kartu grafis (graphic card)  adalah unit yang dapat meningkatkan kecepatan visual game anda atau tidak, sebuah hardisk adalah unit yang cukup untuk menyimpan data anda atau tidak, memori adalah unit yang dapat mempercepat kinerja komputer anda atau tidak, dan sebuah mainboard yang bisa mengakomodasikan semua perangkat hardware anda atau tidak. Sedangkan khusus untuk komponen suara, perangkat soundcard cukup menipu.

Tidak ada ukuran yang jelas yang bisa anda gunakan sebagai panduan jika anda akan membeli sebuah soundcard yang bagus. Berbagai ulasan panjang dari para audiophile cukup banyak tersedia, namun biasanya mereka tidak bisa memberikan rekomendasi yang pasti jika anda sendiri memiliki keterbatasan referensi atau tidak terlalu tahu dari mana memulai sebuah topik. Saya termasuk dalam kategori tersebut. Saya tidak memiliki perangkat soundcard apapun kecuali yang yang telah tertanam langsung di dalam komputer. Dan pengetahuan saya sendiri tentang seluk beluk akustik tidak cukup dalam untuk menggambarkannya.

Dari keadaan itu, membeli dan menentukan sebuah soundcard  yang bagus hampir selalu seperti perjudian dibandingkan dengan investasi. Pada saat yang sama, saya mengenal beberapa orang yang kadang terlalu sombong dengan ribuan perlengkapan audio dan semua koleksi FLAC (Free Lossless Audio Codec) yang dimilikinya. Dan saya ingin sekali percaya bahwa mereka tidak terlalu berkhayal dengan apa yang mereka sampaikan – tentu ada orang-orang yang memang jauh lebih berpengalaman melebihi pengetahuan dasar saya yang saya miliki. Namun maksud saya, seberapa banyak sebuah suara dalam lagu, film atau game bisa menjadi lebih baik lagi? Apakah cukup mumpuni mencegah kekecewaan dari orang yang sudah terlanjur membelinya?

Saya tahu bukan saya saja yang memiliki pertanyaan ini, dimana di beberapa forum sering saya temui beberapa perdebatan tentang seberapa perlunya memiliki sebuah soundcard. Setelah lebih dari satu dekade, saya berharap bisa memberikan jawabannya dan meneruskannya kepada semua kenalan yang masih memiliki keraguan untuk mencobanya. Untuk membuat pembahasan ini lebih bermanfaat semaksimal mungkin, saya membeli sebuah soundcard yang umumnya para penyuka audio sukai, yaitu: Asus Xonar DX dengan harga $80.

Untuk lebih memperjelas, ini bukanlah pembahasan suatu produk model Xonar atau produk-produk lainnya. Dibandingkan memberikan anda berbagai contoh produk, saya berencana menggantinya dengan perbandingan antara soundcard Asrock onboard dengan model Xonar DX ini. Menggunakannya dalam berbagai macam tes dan memberikan gambaran bagaimana perbedaan kualitasnya. Dengan berdasarkan konteks datanya, dan yang sesuai dengan kemampuan saya untuk menyampaikannya. Dengan kata lain, anda mungkin harus menahan diri ketika anda melihat hal-hal subjektif yang sedikit kasar, namun saya mencoba membuatnya agar bermanfaat luas bagi setiap orang yang membaca artikel ini.

Xonar DX vs. Realtek

Sama seperti ketika menentukan sebuah soundcard yang bagus, kami rasa penerapan yang tepat adalah dengan memilih sebuah headset yang bagus juga, bukan dengan menggunakan produk yang tidak jelas. Headset tipe Audio Technica ATH-M50 tampaknya menjadi pertimbangan paling bagus antara harga dan kemampuannya. Telah ada banyak review positif dari penggunanya, dan saya akan merasa sangat kecewa jika saya tidak bisa merasakan perbedaan antara soundcard terintegrasi langsung atau soundcard yang dibeli terpisah, dengan sebuah headset seharga $150.

Disamping menghabiskan cukup banyak waktu mendengarkan pada masing-masing perangkat tersebut secara terpisah, saya secara langsung membandingkannya menggunakan beberapa lagu (kebanyakan berformat FLAC) dan berbagai game (utamanya Team Fortress 2 dan Dirt 3). Saya tidak terlalu sering melakukan penyesuaian dari sisi efek software audio, jadi baik soundcard onboard maupun Xonar DX berjalan pada mode equalizer “Rock” karena telah menjadi kebiasaan dan model familiar yang sering saya dengarkan.

soundcard yang bagus

Source techspot.com

Saya berencana memutar berkali-kali beberapa lagu di tiap-tiap perangkat tersebut, untuk mengetahui perbedaan yang bisa saya temukan. Bukan hal yang mudah untuk dilakukan karena setiap lima menit saya lupa seperti apa suara di awalnya sehingga membuatnya menjadi mustahil untuk memberikan penilaian secara adil. Namun semakin lama dan semakin sering saya mendengarkan output suara dari Xonar DX, semakin hilang keraguan saya bahwa soundcard ini memang lebih bagus.

Saya akhirnya memutuskan bahwa akan lebih efektif melakukan perbandingan ketika lagu berada di segmen detik ke-30 dimana dengan segera ditemukan perbedaan-perbedaan yang mencolok. Jika awalnya saya mendengarkan dari Xonar DX, lalu menggantinya dengan Realtek, saya kadang-kadang merasakan bebarapa suara tertentu menjadi hilang. Saya rasa mungkin tidak sepenuhnya seperti itu, hanya saja beberapa suara terdengar kurang jelas dan perlu lebih fokus lagi untuk mendengarkannya jika menggunakan soundcard onboard.

Demikian pula ketika saya berpindah dari konfigurasi Xonar ke konfigurasi Realtek, seringkali saya merasa bahwa suara dari Realtek lebih sepi, namun saya tidak percaya hal itu yang menjadi penyebabnya. Semuanya tampak menjemukan. Pengaturan ketajaman suara dan instrumen musik diturunkan atau dinaikkan tetap tidak membantu. Sebagai contoh mudahnya, debaran suara elektrik antara detik ke 0:42 sampai 1:03 dari lagu Fluke – Zion begitu dibawah harapan klimaksnya ketika menggunakan Realtek.

Suara kedalaman bass setelah itu juga terasa kurang menggugah yang membuat saya sendiri benar-benar bisa merasakan perbedaannya. Faktanya, ketika sebelumnya saya mencobanya dengan speaker Cyber Acoustic, suara bass dari Realtek tidak terlalu terasa dan membuat saya memastikan kembali kabel koneksinya apakah sudah terpasang dengan benar. Jika saya memperhatikannya dengan lebih baik lagi, beberapa temuan diatas memang benar terjadi baik antara artis yang berbeda, genre maupun bitrate-nya. Suara dari Xonar DX terdengar lebih substansial dalam setiap lagu, game ataupun film-film.

Sedikit banyak, komponen bass dan treble saling bersaing menarik perhatian saya yang mana membuatnya tidak begitu mencolok per individu. Ini tidak murni tentang berada lebih tinggi dari yang tinggi atau lebih rendah dari yang rendah. Audio yang berlainan (diskrit) lebih memberikan keyakinan. Baik ketika saya sedang membalik mobil dalam game Dirt 3, menyebrangi padang tundra dalam game Skyrim, melompat ke pengaturan audio atau mencoba sebuah rekaman live, kualitas suara dari Xonar DX terasa lebih tepat dengan apa yang saya harapkan andaikan saya benar-benar ada disana.

… Semakin lama saya mendengarkan semakin sedikit saya meragukan apakah suara dari Xonar terdengar lebih bagus.

Ini sebagian dikarenakan semua suara terdengar lebih terbuka. Lebih mudah untuk memvisualisasikan diri saya sendiri di suatu area luas, dalam lingkungan yang dinamis. Sebagai contoh, dalam game Dirt 3, Xonar memberitahukan suara posisi pembalap lain dan reruntuhan lebih baik meskipun saat itu ada banyak noise (suara gangguan) seperti suara-suara teriakan atau mesin yang membuatnya menjadi lebih jelas dan terdengar dengan baik dalam beberapa waktu. Keterbatasan-keterbatasan soundcard onboard secara khusus lebih tampak dalam game Team Fortress 2.

Dengan chip Realtek, suasana pertempuran tampak seperti mencampur semua suara yang ada di balik layar, bahkan ketika saya berada dalam situasi berkabut, ledakan-ledakan yang ada terdengar menjadi tidak jelas. Dibandingkan dengan hal itu, situasi ketika ada banyak muncul gema sautan atau ketika seseorang berteriak meminta bantuan di belakang, Xonar mampu memasukkannya dan menjadikannya sebagai bagian terpisah dalam kekacauan yang muncul. Saya tidak akan mengklaim bahwa hal itu membantu meningkatkan skor game saya, namun pastinya hal ini mampu memberikan saya sensasi pengalaman yang lebih bagus lagi.

Bagaimana dengan faktor-faktor lainnya…?

Apakah anda tidak mengkonfigurasi softwarenya?

Saya biasanya menggunakan penyetelan equalizer “rock” jika menggunakan soundcard onboard sepanjang yang saya ingat. Saya peduli pada kualitas audio, namun tidak cukup memberikan perubahan untuk setiap penyetelan equalizer baik pada genre atau media musik yang berbeda. Saya tidak ragu melakukannya ketika menggunakan soundcard dari Asus dan secara umum saya puas dengan keputusan tersebut. Di luar dari rasa penasaran, saya juga melakukan beberapa penyetelan software pada tiap-tiap perangkat.

Saya cukup percaya diri hasil penyetelan saya bisa lebih memperhalus suara dari perangkat ini dan memang benar-benar ada saat dimana memang menguntungkan menyesuaikan efek soundcard pada apapun musik yang sedang diputar. Merubah efek equalizer dari “rock” ke “classic” seringkali sangat berguna jika anda mendengarkan musik piano dibanding musik dari gitar, dan itu bukalah hal yang dapat saya sampaikan jika saya menggunakan Realtek. Dimana saya sendiri selalu menyetelnya satu kali dan kemudian melupakannya.

Bagaimana Dengan Headphone atau Speaker Murah?

Saya juga membandingkan output dari masing-masing soundcard dengan menggunakan Sony MDR-V6, Cyber Acoustic CA-3602, dan sepasang earbud Philips. Dua diantaranya terlihat menonjol. Memang ada perbedaan kualitas output ketika memutar sebuah lagu pada tiap-tiap perangkat, dan MDR-V6 tidak terdengar seperti perangkat yang harganya setengah dari Audio Technica ATH-M50.

Adalah hal yang sepadan ketika earbud saya yang sebelah kiri rusak sehari sebelum pengetesan dan hari libur kemarin membuat unit earbud yang baru telat kembali untuk pengetesan. Jadi bisa dikatakan, mendengarkan dengan setengah dari earbud seharga $20 tidak membuatnya sulit untuk menemukan perbedaan yang paling mencolok: Suara dari Realtek terdengar seperti disaring dengan handuk basah, dan sementara itu suara dari Xonar seperti tidak ada penghalangnya dengan kualitas suara seperti seharusnya.

Cobalah… Saya Men-Streaming Semua Musik Favorit Saya

Saya menggunakan layanan Google Music, SoundCloud, dan YouTube untuk menemukan beberapa artis dan lagu-lagu baru. Kadang saya men-streaming beberapa track lagu. Tentu saja, saya tidak menyesal memiliki Xonar pada saat-saat seperti ini, meskipun jika ada beberapa lagu yang tidak layak untuk didengarkan membuatnya semakin mengecewakan ketika didengarkan dengan soundcard tambahan. Jika tidak ada selain itu, hal ini membuat saya semakin lebih menyadari tentang bagaimana mengatur sendiri kualitas dari koleksi-koleksi musik saya.

Jadi, Seberapa Berpengaruhnya Bitrate Dalam Suatu Lagu?

Saya tidak terlalu yakin. Saya telah mencoba berbagai variasi kompresi pada suatu lagu dan tidak ada peningkatan yang meyakinkan dari output yang dihasilkan oleh Xonar, baik ketika berpindah dari bitrate 128 kbps ke bitrate 256 kbps. Saya belum menemukan perbedaan yang meyakinkan antara file-file MP3 dan FLAC dengan bitrate 256 kbps maupun 320 kbps. Mungkin saja saya tidak bisa mendengarkan dengan perlengkapan audio seharga $200 atau mungkin saya tidak tahu suara apa yang harus saya dengar untuk membedakannya. Lain kata, untuk saat ini saya lebih suka mendengarkan dari file-file MP3.

Apakah Membutuhkan Waktu Yang Lama Ketika Berpindah Antar Perangkat?

Tidak. Hanya perlu waktu beberapa detik saja untuk mendengarkan output dari tiap-tiap perangkat. Saya memiliki kabel perpanjangan untuk keduanya, jadi saya tidak perlu ke belakang CPU hanya untuk memasang atau mencabut kabelnya. Saya juga menggunakan program AutoHotkey untuk menjalankan perintah singkat melalui keyboard. Jadi ketika akan melanjutkan dari satu trek lagu ke trek yang lain maupun ketika akan membandingkan spot-spot tertentu, menjadi hal yang lebih mudah lagi.

Mungkinkah Penggunaan CPU Menjadi Berkurang?

Jika memang benar, saya belum melihatnya sendiri. Penambahan sebuah soundcard  mungkin meringankan kerja CPU anda, namun itu bukan berarti performanya menjadi semakin meningkat (tentu bukan dalam artian pada hal yang konsisten). Pengetesan dengan aplikasi PassMark BurnInTest pada kedua perangkat hampir sama persis. Begitu juga jika digunakan untuk memainkan Game Far Cry 2 dan Dirt 3. Tidak ada penambahan signifikan pada performa CPU.

Jadi, Perlukan Komputer Saya Ditambahkan Soundcard?

Hal ini masih menjadi perdebatan. Jika diukur dari faktor biaya, tidak perlu diragukan keuntungan yang bisa didapatkan ketika membeli kartu grafis tambahan, hardisk, prosessor atau lainnya yang memang jelas dapat meningkatkan performa komputer. Bahkan jika anda cukup memperhatikan, anda bisa membeli sekaligus GPU dan SSD dengan harga yang menyamai Xonar DX atau ATH-M50. Ini adalah contoh paling nyata yang membuat anda benar-benar merasa puas ketika menggantikan kartu grafis atau hardisk bawaan komputer.

Bahkan jika anda memiliki sebuah GPU Geforce kualitas atas dan sebuah SSD 1 TB super cepat, anda mungkin tidak terlalu peduli dengan kualitas suara. Memang benar banyak orang yang baik-baik saja mendengar suara musik dari CD atau dari hasil download dari Youtube. Namun saya rasa, perlu juga untuk mengetahui perbedaannya. Saya cukup puas ketika menggunakan soundcard dari Realtek selama beberapa tahun dan ketika saya beradaptasi dengan perangkat soundcard tambahan, menjadi hal yang aneh untuk menghargai apa yang saya gunakan sebelumnya dan mengetahui apa yang ternyata telah lama saya lewatkan.

Anda bisa mengatakan bahwa saya memperhatikan kualitas audio karena saya bekerja di rumah sepanjang hari. Namun kenyataannya tidak seperti itu. Bukan karena anda menghabiskan 8 jam sehari ataupun satu jam dalam seminggu di depan komputer. Jika  termasuk pada kategori terakhir, saya menyarankan bagi orang-orang yang memiliki sedikit waktu mendengarkan sebuah musik atau mencoba sebuah game, seharusnya merasakan pengalaman terbaik, atau setidaknya lebih baik dari yang ada pada umumnya.

Suara yang dihasilkan dari chip soundcard onboard saya bisa dikatakan tidak memuaskan. Keruh, dangkal dan tidak jelas yang bisa saya jelaskan untuk menggambarkan suara dari Realtek. Sementara di sisi lain, suara dari Xonar DX terdengar lebih segar, bebas dan menghentak. Perbandingannya menyerupai seperti ketika mengganti kartu grafis anda dengan yang lebih bagus, dimana rasanya seperti berpindah dari tampailan gambar dengan resolusi 480 pixel ke 1080 pixel, atau mungkin dari 1080 pixel ke kualitas 4K.

Apakah anda perlu membeli sebuah soundcard? Mungkin tidak, namun saya rasa bagi para pencari kepuasan perlu untuk memilikinya. Jika anda bisa menghargai nilainya dan menyanggupi biaya yang akan dihabiskan, mengapa tidak mencobanya saja (jika berdasarkan ego saya sendiri). Perlengkapan audio tambahan bukan seperti jebakan atau hal yang sia-sia, meskipun sebenarnya tidak benar-benar dibutuhkan. Jadi saya tidak akan terlalu membuatnya sebagai salah satu kebutuhan prioritas, jika dibandingkan dengan kebutuhan akan power supply yang bagus atau sebuah keyboard yang nyaman. Namun saya juga tidak akan menunggu sampai satu dekade lamanya untuk tidak menggunakannya.

 

Print Friendly, PDF & Email