“Jika diminta untuk memilih, mungkin beberapa orang lebih rela ketinggalan dompet daripada ketinggalan ponsel. Namun sebenarnya melepas ketergantungan ponsel tidaklah sesulit yang dibayangkan. Tentu bisa, walaupun tidak dalam jangka waktu yang lama”

– catatan editor –

Artikel asli dalam Bahasa Inggris oleh: Ibrahim Abdul-Matin

Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh: Edy Kesuma

Dicek dan ditinjau ulang oleh: Reopan editor


Saya bukan salah satu anggota pembenci mesin. Saya menyukai teknologi dan semua jebakannya. Saya bahkan mengakui kita menyetel diri kita sendiri pada berbagai jenis pengalihfungsian kecerdasan buatan, akibat ketergantungan pada perangkat yang membuat kita bodoh.

Hari ini adalah Hari Ayah di Amerika, dan saya membuat percobaan. Saya terbangun ketika mendengar anak saya yang masih berumur satu tahun menjatuhkan iPhone saya di toilet. Apakah ini suatu tanda? Tidak yakin. Namun sembilan hari terakhir tanpa ponsel membuat saya mengungkapkan banyak hal.

Pertama, saya menemukan waktu yang sebelumnya tidak pernah saya ketahui. Saya merasa jangkauan pandangan saya meningkat. Saya menjadi lebih fokus, tidak ter-fragmentasi. Tidak ada lagi kewajiban mengecek pesan sms, email, atau sosial media. Sebelumnya saya tidak bisa lari dari kecanggungan momen bersosialisasi di layar smartphone. Saya tidak lagi terganggu ketika bekerja.

Kedua, saya tidak terlacak. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, lokasi tempat saya berada tidak dapat dilacak. Saya tidak dapat dijangkau dengan cepat. Secara konteks saya berada diluar area matrix.

Ketiga, saya berpikir sangat kritis tentang mengapa saya memerlukan sebuah ponsel. Untuk seorang yang memiliki anak dan tinggal di kota besar New York, saya mengandaikan ponsel seperti sebuah mobil. Yang membuat segalanya menjadi lebih mudah. Anda dapat dicari dan dengan segera kembali ke rumah. Anda bisa diakses. Tanpa sebuah ponsel, anda tiba di rumah dengan sedikit perasaan khawatir tentang sesuatu yang buruk mungkin terjadi.

Ini adalah sebuah putaran momen bagi saya dan keluarga saya. Saya dapat memilih untuk tetap tidak menggunakan ponsel. Saya dapat memilih menjadi seorang luddite ponsel – sebuah keterbalikan atau tanpa data. Istri saya dan saya bahkan sempat berdiskusi apakah bisa menggunakan satu buah ponsel dan memakainya bersama-sama – memperlakukan masalah ini seperti perangkat konvensional yang terhubung dengan kabel di atas tanah. Untuk bekerja, saya menggunakan nomor Google Voice. Nomor ini sudah tercetak dalam kartu nama saya dan secara umum bekerja dengan baik. Walaupun kadang saya berpikir tujuan dari Google Voice adalah untuk mengumpulkan sebuah database super besar yang berisi rekaman suara manusia. Mungkin pada beberapa poin kita dapat mendownload data suara kita dan menggunakannya dalam suatu cara tertentu.

Saya juga dapat memilih untuk lepas dari cengkraman Apple sekali-kali atau untuk selamanya dan memilih rute yang berbeda. Dapatkah seseorang dapat benar-benar pindah dari Apple ke Amazon? Microsoft? Samsung? HTC? Saudara ipar saya adalah seorang ahli dalam bidang teknologi, begitu menghayati dunia teknologi mobile dan bersumpah bahwa Android jauh lebih superior dibanding iOS, memiliki kamera yang lebih baik, desain yang ramping dan fitur yang lebih memikat.

Dikatakan bahwa kebiasaan terbentuk dalam 21 hari. Baru-baru ini saya telah menyelesaikan 21 hari racun gula dengan menghapus semua makanan yang mengandung gula – termasuk karbohidrat dan buah-buahan – dari menu diet saya. Setelah tiga minggu, saya merasakan diri saya sendiri tidak lagi memiliki keinginan pada gula. Saya memiliki lebih banyak energi dan pemikiran yang lebih jernih. Saya membayangkan bagaimana jika 21 hari tanpa ponsel apakah memiliki hasil yang sama? Mungkinkah saya tidak lagi tergantung pada perangkat ini? Dan mungkinkah saya berhasil mengurangi keterikatan pada smartphone?

Saya meragukannya. Saya tahu suatu waktu saya memerlukan sebuah ponsel baru. Saya akan mengambil “pil” ini dan melompat kembali kedalam matriks. Smartphone apa yang paling baik untuk memulihkan diri dari kecanduan smartphone? Apakah perangkat mobile komersial Amazon Fire? Mungkinkah Galaxy S5 atau HTC One (M8)? Apakah saya harus menunggu kedatangan Motorolla X2? Atau, saya kembali lagi ke smartphone yang pernah saya miliki, iPhone? Atau mungkin saya ambil saja smartphone yang memiliki fitur tahan air? Dan lebih lanjut, mungkin anda bisa berpartisipasi dalam tes “Seberapa kecanduan anda pada smartphone?