“Pada umumnya orang-orang senang mengambil foto atau gambar yang hasilnya bagus. Namun sayangnya tidak semua smartphone Android memiliki kamera yang bagus. Beberapa hal masih tampak diabaikan, dan seharusnya para vendor android ini bisa dengan cepat menyadarinya”

– catatan editor –

 

Artikel asli dalam Bahasa Inggris oleh: Evan Rodgers

Ditranslasikan ke dalam Bahasa Indonesia oleh: Nicky Perdana

Dicek dan ditinjau ulang oleh: Reopan editor


Apabila saat ini anda memiliki smartphone Android namun bukan seri Galaxy S6, kemungkinan kamera-nya mengecewakan bukan? Bayangkan saat ini anda sedang berada di restoran, kemudian teman-teman anda melakukan sesuatu yang lucu. Lalu anda mengeluarkan ponsel bersamaan dengan teman anda yang menggunakan iPhone. Beberapa saat kemudian, teman anda menghasilkan foto yang menakjubkan, sedangkan anda? Menghasilkan gambar yang tidak bisa dibilang bagus. Saat-saat seperti ini kadang menjadi momen yang mengecewakan bagi anda.

Kualitas kamera selalu menjadi salah satu nilai jual dari smartphone. Akan tetapi, bulan Maret yang lalu, Apple menyelenggarakan event “Shot on iPhone 6”. Tepat setelah baru saja mengumumkan ponsel baru mereka pada Mobile World Congress (Kongres Dunia Mobile). Apple mengukuhkan kembali dominasi kamera mereka dengan menampilkan hasil fotonya di setiap stasiun subway, poster iklan, dan situs khusus milik mereka.

Sejak saat itu, mulailah dilakukan perhatian lebih pada kamera smartphone. Saat pengumuman One M9, HTC mengulas tuntas fitur kameranya dari awal hingga akhir intisarinya. LG fokus pada kamera G4 dan pada “sensor spektrum warnanya.” Galaxy S6 baru saja dirilis ke pasaran, dan jurnalis-jurnalis teknologi tidak henti-hentinya memposting perang antar dua smartphone ini (Galaxy S6 dan iPhone 6).

Kemajuan dan peningkatan yang dilakukan Android mungkin membuat anda berpikir “Ga kalah nih kamera Android dibandingkan iPhone, ga akan malu-maluin lagi”. Tapi tidak sesederhana itu.

Mari kita bicara mengenai sensor, bagian paling berpengaruh dari hardware kamera. Saat ini, iPhone, G4, Galaxy S6, Nexus 6, dan lainnya menggunakan sensor yang dipasok oleh Sony. Hanya HTC yang berbeda. HTC menggunakan modul Toshiba 20 megapixel yang erat hubungannya dengan sensor yang ada di Lumia 930, Windows Phone yang menghasilkan foto fantastis. Meskipun begitu, saat Galaxy S6 mendapat pujian karena kameranya, HTC justru mendapat kritikan dari pers dan user karena menghasilkan foto yang gelap dan tidak konsisten meskipun menggunakan sensor berkualitas baik.

Sensor dalam kamera ponsel, hanyalah setengah dari keseluruhan cerita. Ketika anda mengambil foto, ponsel anda secara otomatis meng-kompres data mentah gambar menjadi JPEG, sehingga menjadi gambar yang dapat dilihat. Saat itu juga, pengaturan yang telah ditentukan oleh perusahaan manufaktur ponsel akan menyesuaikan pencahayaan, ketajaman, dan tone warna, dan data sisanya akan dibuang. HTC terintegrasi secara eksklusif dengan software pengolah gambarnya, yang melakukan “overexposes” terhadap bayangan dan menghilangkan detail menggunakan pengurangan dan penajaman noise yang agresif.

Untuk mengilustrasikan fenomena ini, saya mengambil beberapa gambar dengan M9 menggunakan aplikasi RAW Camera (sebuah aplikasi yang membuang semua data gambar dari sensor ke file RAW) yang baru diluncurkan HTC. Karena tidak ada pengolahan yang dilakukan langsung oleh HTC, foto atau gambar yang diambil dengan format RAW menjadi lebih detail. Dalam mode ini, M9 akan secara simultan menghasilkan JPEG dan RAW (ukuran yang besar), yang sempurna untuk membandingkannya secara satu-satu.

The nasty JPEG. Image: Evan Rodgers/Motherboard

gambar RAW

Sweet, sweet RAW. Image: Evan Rodgers/Motherboard

Anda harus memperbesarnya sedikit, namun software pengolah foto HTC punya kebiasaan merubah kulit manusia menjadi seperti warna kulit vampir. hasil JPEG nya sangat jelek. Lalu, bagaimana dengan foto yang diambil menggunakan Lumia 930 yang memiliki kemiripan sensor dengan HTC? (perbandingan gambarnya bisa anda lihat langsung pada tautan ini)

gambar JPEG

Decent JPEG. Image: Evan Rodgers/Motherboard

gambar RAW

And the RAW. Image: Evan Rodgers/Motherboard

Kelihatan lebih baik, bahkan dengan format JPEG. Algoritma pengolah foto Microsoft mengurangi noise tanpa merusak detail, dan warnanya terlihat lebih baik. Microsoft (dan Nokia), seperti Apple, menganggap fotografi adalah hal yang serius, tidak seperti manufaktur Android. Google berusaha mengajak perusahaan-perusahaan untuk melepas pengolah foto-nya dengan aplikasi Camera2 API, tapi sejauh ini hampir tidak diadopsi kecuali oleh program Nexus. Ini berarti, apapun aplikasi yang anda gunakan, pengolah foto yang jelek tetap ada dalam sistem.

Lantas kenapa tidak menggunakan format RAW saja? Alasannya: ukuran file yang sangat besar, sehingga membutuhkan waktu yang lama untuk diolah, memakan memori, dan anda harus menggunakan software khusus hanya untuk melihatnya. Lihat saja iPhone 6 dan galaxy S6, baik-baik saja menggunakan format JPEG secara ekskulsif, anda tinggal mempercayakan pembuat ponsel anda berinvestasi dalam software yang bagus.

Tapi akan ada perubahan-perubahan yang terjadi. Banyak perusahan mulai menyadari bahwa orang-orang senang mengambil foto dengan kualitas yang baik. Samsung membeli sensor terbaik Sony untuk Galaxy S6 (IMX240), dan kamera G4 LG telah mendapatkan review yang tinggi sebelum peluncurannya. Ditambah lagi, dengan meningkatnya kompetisi, sulit untuk membayangkan Apple tetap mempertahankan sensor 8MP nya.

Ponsel Android punya kamera yang bagus, tapi yang kita butuhkan adalah software yang lebih bagus. RAW menunjukkan kemampuan dari kamera tersebut, tapi Andorid akan tetap tertinggal dari Apple dan Microsoft apabila tidak berinvestasi lebih pada peningkatan kualitas algoritma pengolah foto atau gambarnya.

Print Friendly, PDF & Email