“Cara perbaikan yang ekstrim. Tapi selalu ada logika penyebab dan akibat dibelakang tindakan tersebut. Yang terpenting adalah siap menanggung segala resikonya”

– catatan editor – 

Artikel asli dalam Bahasa Inggris oleh: Sterling Hirsh

Ditranslasikan ke dalam Bahasa Indonesia oleh: Edy Kesuma

Dicek dan ditinjau ulang oleh: Reopan editor


Saya dan MacBook Pro milik saya mengalami minggu yang liar. Saya melakukan pensolderan sampai tiga kali dalam sehari pada komponen logic board, dan mem-bor 60 lubang di casing bawahnya. Mengapa saya melakukan hal tersebut?

Pertama kali saya mengalami isu panas sekitar setahun yang lalu. Model dari MacBook Pro saya memang diketahui bermasalah sangat panas saat dijalankan. Dan saya menggunakannya lumayan berat. Saya adalah seorang programmer dari iFixit, dan di waktu luang saya sering bermain game dan membuat musik elektronik. Pada hari-hari biasa, laptop saya berada diantara 80 – 90 derajat celcius. Pernah suatu kali saya melihatnya semakin menanjak hingga mencapai 102 derajat celcius, cukup panas untuk mendidihkan air.

Jadi saya mencoba perbaikan sederhana. Saya membersihkan mesin dalam laptop dengan kompresor angin. Saya pernah membeli sebuah papan pendingin laptop dan berhenti menggunakannya sebagai sandaran. Saya memilih menggunakan smcFanControl, sebuah program yang membuat kipas berputar maksimal sampai 6200 rpm sepanjang waktu.

Namun tetap saja panas. Dan suatu hari di bulan Maret, laptop saya mati. Saya sedang bekerja menggunakannya ketika layarnya tiba-tiba menjadi hitam. Saat saya coba mematikan menghidupkannya kembali, indikator lampu menyala namun tidak ada suara proses booting dan layar berubah antara berbayang dan hitam – mimpi buruk karena tampaknya sesuatu dalam logic board telah rusak. Mungkin suhu yang sangat tinggi telah menyebabkan komponen papan melendung, membuka solderan hingga terlepas dari deret jaringan listriknya. Kemungkinan perbaikan? Rekatkan kembali soldernya: Panaskan sampai timah solderan kembali meleleh ke dalam posisinya semula.

Saya belum pernah mensolder sesuatu sebelumnya (walaupun saya pernah membaca orang-orang melakukannya ketika memperbaiki Xbox Red Ring of Death). Saya sempat berpikir untuk membawa laptop ke seseorang yang memang ahli melakukan pensolderan, namun hal ini akan membuat saya tidak bisa menggunakannya selama beberapa minggu. Lupakan saja kalau begitu.

Malahan, saya membuka paksa cover belakang laptop, mencabut sebelas konektor dan tiga komponen heat sink dari logic board, dan kemudian menghidupkan oven sampai panasnya mencapai 340 derajat Fahrenheit. Saya meletakkan komponen senilai $900 dalam nampan kue dan memanggangnya selama hampir 7 menit waktu mengerikan.

Setelah mendingin, saya oleskan kembali pasta pendingin, memasang kembali semua komponen dan merasa begitu gembira ketika laptop dapat kembali booting. Semua berjalan sempurna selama 6 bulan kedepan. Suhu rata-rata antara 60 – 70 derajat celcius – walaupun kadang-kadang suhunya dapat tiba-tiba naik kembali.

Kemudian, dua minggu lalu, laptop tersebut kembali mati. Sama dengan cerita dulu, sempat menyala sekitar satu menit dan di menit berikutnya benar-benar kembali ke layar hitam. Lagi, tanpa suara booting. Tanpa tampilan.

Saya memiliki dugaan bahwa masalahnya berkaitan dengan pasta thermal. Ketika saya membongkarnya pertama kali, saya sempat mengkorek beberapa lempengan pasta dari bawah controller Thunderbolt dan sistem hub. Hal ini menyebabkan jarak yang lebar antara penyebar panas dan chipset prosessor. Saya mungkin dapat mencoba untuk mengisi ruang renggang itu dengan ekstra gumpalan pasta thermal, namun perkiraan saya pasta tidak akan membentuk segel yang cukup bagus. Jadi setelah menempatkan logic board kembali ke dalam oven, saya membeli beberapa pasang lembar kaleng tipis, memotongnya sesuai bentuk dan memberikan pasta thermal ke dalam ruang di bawah chipset prosessor.

Laptop booting dan hidup kembali – hanya sampai hari Jumat.

Jadi pada hari Sabtu, saya bersama seorang teman bermain dokter laptop sepanjang hari. Kami mulai dengan mencoba memanaskan logic board dengan sebuah heat gun. Karena kami tidak memiliki termometer infrared, kami harus memperhatikan solderan timahnya menunggu sampai terlihat mulai meleleh dan papan tercium seperti saat memasak makanan (baunya antara seperti kue yang dipanggang dan plastik yang terbakar). Kami coba arahkan heat gun ke chipset dimana kami berpikir disanalah masalahnya, dan kami memberikan perlindungan di beberapa komponen yang sensitif dengan lapisan lembar aluminium foil. Setelah pensolderan pertama, komputer dapat kembali booting, tapi hanya untuk satu jam.

Percobaan kedua, kami coba mengunakan heat gun kembali, namun untuk kali ini laptop sama sekali tidak bisa menyala.

Akhirnya, kami menempatkannya kembali ke dalam oven – selama 7 setengah menit, mungkin dalam kondisi yang lebih panas dapat membuat suatu perbedaan. Dan saat dalam proses pemanggangan, kami mengeluarkan sebuah mesin bor. Dengan mata bor ukuran 1/16, kami mem-bor beberapa lubang di casing belakang, dibawah komponen kipas (kami memperkirakan dimana bilah sayap kipas tersembunyi berdasarkan jejak debu yang menempel dalam cover bawah). Lubang kecepatan bekerja. Bunyi booting terdengar. Layar monitor menyala. Dan angin dari kipas berhembus.

Tampak ada peningkatan sirkulasi udara (ketika saya menaruh sepotong kertas di bagian bawah laptop, kertas tersebut menempel di casingnya. Temperatur rata-rata menurun menjadi sekitar 40 – 50 derajat celcius, lebih rendah dibandingkan pada bulan Maret lalu.

Masih terlalu awal untuk menyimpulkan, namun laptop saat ini berjalan normal tanpa masalah selama 15 hari. Mungkin terlihat seperti cara perbaikan yang tidak biasa, namun begitulah cara saya memperbaiki Macbook Pro dengan sebuah bor dan oven.

 

* Bhinneka.com Ad *

APPLE iMac [ME086ID/A] All-in-One
APPLE iMac [ME086ID/A] All-in-One
  APPLE MacBook Pro [MD101ID/A]
APPLE MacBook Pro [MD101ID/A]

 


 

Print Friendly, PDF & Email