“Kurangnya minat orang-orang menggunakan sepeda sebagai alat transportasi terutama disebabkan oleh kurangnya kenyamanan dan keamanan bagi pengendara sepeda itu sendiri. Berbagai tantangan dan hambatan yang menyebabkan hal tersebut mulai dipetakan untuk mengatasi masalah tersebut. Dan beberapa kota-kota besar mulai mengkolaborasikan pengembangan infrastruktur fasilitas umumnya dengan teknologi-teknologi terbaru demi membuat semakin banyak orang berpindah dari balik kemudi kendaraan bermotor, ke kendaraan roda dua bebas polusi ini”

  – catatan editor –

Artikel asli dalam Bahasa Inggris oleh: Dana McMahan

Ditranslasikan ke dalam Bahasa Indonesia oleh: Edy Kesuma

Dicek dan ditinjau ulang oleh: Reopan editor


Bagaimana teknologi “Smart Bike” atau teknologi sepeda pintar bisa membuat sebuah kota menjadi lebih pintar dan lebih aman bagi pengendara roda dua ini.

Munculnya berbagai permasalahan mulai dari perubahan iklim, lingkungan yang semakin padat dengan kendaraan bermotor, polusi yang semakin parah, hingga pusat-pusat perkotaan yang semakin penuh sesak, membuat kota-kota di seluruh dunia mulai berupaya mencari cara agar orang-orang mau keluar dari balik kemudinya dan beralih menggunakan kendaraan roda dua seperti sepeda sebagai penggantinya.

Saat ini mulai banyak kota-kota di seluruh dunia bekerja untuk mengatasi ancaman dimana pergerakan manusia menjadi semakin lambat akibat munculnya berbagai hambatan, terutama jumlah kendaraan bermotor yang semakin banyak. Diperlukan upaya perbaikan infrastruktur yang serius mulai dari pembangunan jalur sepeda, jalur hijau, pembuatan halang rintang antara sepeda motor dan mobil untuk jalur sepeda, memperkenalkan program berbagi sepeda (Bike Sharing), dan kampanye pendidikan yang dirancang untuk mengingatkan pengendara tentang pentingnya bagaimana berbagi jalan dengan pengguna kendaraan lainnya.

Bike sharing

Source: iq.intel.com

“Sepeda adalah solusi yang paling masuk akal untuk diterapkan dalam suatu kota. Investasi infrastruktur teknologi sepeda adalah langkah modern dan cerdas untuk diwujudkan dalam sebuah kota,” menurut Copenhagenize Desain Co, sebuah perusahaan konsultan dari Belanda yang membantu kota membangun infrastruktur dan budaya bersepeda. Dari data yang mereka kumpulkan berupa perhitungan waktu perjalanan, risiko kecelakaan, dan manfaat kesehatan menunjukkan bahwa untuk setiap kilometer bersepeda, keuntungan sosial adalah 24 sen sedangkan jika dibandingkan dengan penggunaan mobil diperoleh kerugian sosial sebesar 84 sen.

Perbaikan infrastruktur sepeda juga memiliki dampak positif pada ekonomi lokal. Matt Benjamin, Kepala Perencanaan Dan Pelaksanaan Transportasi di Fehr & Peers, dimana pernyataannya merujuk pada penelitian yang telah dilakukan di kota New York yang berjudul “Measuring the Street.” Dalam penelitian ini ditemukan bahwa dengan realokasi penggunaan ruang di jalan yang semula untuk mobil ke sepeda menyebabkan peningkatan penjualan untuk bisnis lokal dan tingkat kekosongan di sepanjang jalan menjadi menurun yang mana artinya semakin banyak orang-orang yang melaluinya. Sedangkan jika terlalu banyak kendaraan, tentu orang-orang lebih banyak melewatinya begitu saja.

Meskipun manfaatnya jelas, masih ada tantangan yang harus dihadapi oleh calon pengendara sepeda.

Menurut laporan BBC, tentang bagaimana masa depan sepeda, penghalang utama untuk bisa meningkatkan program bersepeda di banyak kota adalah kebanyakan orang tidak nyaman berbagi ruang di jalan-jalan dengan mobil atau kendaraan besar yang bergerak dengan cepat. Hal ini dikarenakan, dari hasil studi tersebut, sebagian besar kota-kota modern tersebut dirancang untuk penggunaan mobil.

infrastruktur sepeda

Source: iq.intel.com

Meskipun bisa dikatakan seperti itu, berbagai hambatan yang ada sebenarnya dapat diatasi. Kota-kota seperti Portland, Oregon, sebuah kota dengan keteladanan keramahan bersepeda, dimana memiliki ribuan kendaraan sepeda dalam program Bike Sharing mereka, dengan tingkat pengendara sepeda lebih dari 7 persen dari pengguna jalan, dan sebuah peraturan kota yang melindungi jalur sepeda dalam proyek-proyek pembangunan jalan baru.

Bahkan kota-kota yang tidak memiliki gaya hidup bersepeda mulai mengambil langkah-langkah besar. Tahun depan kota Chicago akan menawarkan jaringan pertama jalur sepeda di kawasan pusat kota dengan perlindungan sepenuhnya, dan San Francisco akan mulai menggalakkan Program Bike Sharing (dipinjam dan diletakkan kembali di pos-pos yang sudah disediakan) dengan menawarkan 4.500 sepeda di kota dan 7.000 di sepanjang “Bay Area.”

Bagaimana Teknologi Dapat Membantu Program Ini

Selain perubahan infrastruktur, teknologi juga bisa digunakan untuk membantu banyak kota untuk membuat jalan menjadi lebih aman dan lebih mudah diakses oleh pengendara sepeda.

Di kota Detroit, bersepeda biasanya menggunakan ruang jalan yang lebar dan jalur pejalan kaki, dimana para pelaksana pemerintahan perlu memberikan jaminan atas masalah keamanan, kata Todd Scott, Direktur Perkumpulan Greenways Detroit. Untuk mengatasi masalah tersebut, sistem kabel dengan kamera digital dan fasilitas telepon darurat perlu dipasang di area keramaian di pusat kota River Walk, dan beberapa rencana masa depan lainnya termasuk peningkatan sistem yang menyediakan koneksi Wi-Fi di sepanjang jalan, kata Scott.

Kota ini juga sedang mengupayakan menambahkan sistem keamanan nirkabel di jalur hijau sepanjang 26 mil di dalam kota yang menggunakan jalur “Dequindre Cut” beserta dengan beberapa daerah di sekitar Detroit lainnya. Terdapat juga ide-ide lain seperti “Chicago Green Wave” yang memungkinkan pengendara sepeda untuk mendapatkan lampu hijau di setiap persimpangan jalan.

Kota ini juga memasang alat penghitung otomatis untuk melacak data para pengendara sepeda dan pejalan kaki.

“Ketika angka-angka mulai berjalan, orang-orang akan terkejut oleh banyaknya pengendara sepeda,” kata Scott, yang memperlihatkan bahwa adanya data-data ini dapat membantu memacu investasi lebih lanjut dalam meningkatkan infrastruktur pengendara sepeda. “Ini membantu kita membuka mata dengan lebih jelas.”

Mengumpulkan data tentang dimana saja orang-orang bersepeda adalah kunci agar setiap kota bisa menjadi lebih ramah bagi pesepeda. “Beberapa kota-kota besar menganalisa data-data yang sangat banyak (Big Data) untuk bisa memecahkan masalah keamanan, sehingga mereka tahu di mana tepatnya untuk mengarahkan sumber daya,” kata Ken McLeod, Pemangku Kebijakan Negara Bagian untuk Persatuan Pesepeda di Amerika.

Menjaga Agar Pesepeda Tetap Aman

Teknologi juga dapat membantu pengendara sepeda agar tetap merasa aman ketika berada dekat dengan kendaraan bermotor. Di kota Chattanooga misalnya, polisi sepeda menggunakan perangkat ultrasonik untuk mengukur jarak antara pesepeda dengan pengendara motor ketika mereka berpapasan atau ketika melewatinya. Ketika mobil berbelok mereka wajib memberikan ruang selebar tiga kaki kepada pengendara sepeda, jika melanggar petugas akan mengejar mereka di persimpangan lampu berikutnya dan mengeluarkan peringatan.

MindRider, sebuah perangkat yang dikenakan di kepala dikembangkan oleh MIT dimana berfungsi untuk melacak keterkaitan faktor stres ketika mengendarai sepeda. Pengumpulan data ini dari pengguna – seperti yang dilakukan oleh sebuah perusahaan di Manhattan – menyediakan sebuah gambaran singkat dari pengalaman mengendarai sepeda di dalam kota. Dengan pencatatan tingkat stres pada rute-rute yang memiliki kemacetan, pengendara sepeda dapat merujuk ke gambaran tersebut dan bisa memilih apa yang mereka anggap sebagai rute terbaik untuk mereka tempuh.

Sementara itu di London, sebuah lembaga penelitian “Future Cities Catapult” selangkah lebih maju mendekati masa depan sepeda. Melalui proyek penelitian “Streets Connected”, lembaga ini bekerja merancang bagaimana peran berbagai teknologi baru – Connected Technology dapat diterapkan di jalan-jalan di masa depan.

Belajar dari satu percobaan yang telah dilakukan memacu pengembangan beberapa penelitian dan perancangan prototipe yang dapat membantu mengurangi hambatan untuk pengendara sepeda.

Dalam eksperimen ini, dua pengendara sepeda diberi rute yang sama: satu orang sudah mengenal baik daerah tersebut sementara yang satunya lagi tidak. Anastasia Vikhornova, perancang desain dan peneliti dari Catapult, menjelaskan tujuannya adalah untuk mengukur hal-hal seperti berapa lama waktu yang dibutuhkan orang yang masih baru di daerah tersebut bisa menyelesaikan suatu rute dengan optimal serta berapa kali mereka mempergunakan sistem navigasi.

Pengendara baru yang belum terlalu mengenal jalan di suatu wilayah melihat Google Maps berulang kali, dan pada satu titik tertentu menyerah pada sistem navigasi, dan lebih memilih untuk melihat langsung petunjuk-petunjuk di wilayah tersebut. Hal ini membuat waktu tempuh yang dihabiskan menjadi satu jam lebih lama untuk bisa menyelesaikan perjalanannya agar sampai di tempat tujuan.

Untuk mengatasi masalah yang seperti ini, dua prototipe Catapault menawarkan perangkat navigasi yang dikenakan di kepala untuk melengkapi navigasi yang ada saat ini, yang mana dibuat ke dalam bentuk kacamata atau pelindung mata. Yang pertama membantu memberikan arah berdasarkan trafik lalu lintas, sementara yang lain memandu pengendara sepeda dengan petunjuk-petunjuk yang menonjol dibandingkan dengan rambu-rambu jalan.

Source: iq.intel.com

“Idenya adalah menggunakan sesuatu yang tidak akan mengalihkan perhatian anda ketika bersepeda, tidak akan membuat anda berhenti dan turun dari sepeda anda,” kata Vikhornova, “… sesuatu yang akan memandu anda dan menunjukkan jalur terpendek.”

Prototipe lainnya yaitu “Sensing Cities”, membantu pengendara menjauhi daerah yang memiliki polusi yang cukup berat. Manfaat lainnya membantu memperingatkan pengendara sepeda terhindar dari pandangan sudut mati pengendara lain, dan juga membantu membangun navigasi menujut ke pos-pos Bike Sharing.

Ketika perubahan infrastruktur harus disertai dengan teknologi baru, bila dikombinasikan mereka dapat membuat kota-kota menjadi lebih aman dan lebih ramah kepada orang-orang dan para wisatawan di semua moda transportasi.