“Beberapa orang mungkin terlalu awal mengambil kesimpulan bahwa Apple akan menggunakan Safir dalam iPhone terbaru mereka. Safir memang merupakan kristal yang sangat kuat, namun ada beberapa hal yang menjadikannya sulit digunakan sebagai layar smartphone”

 – catatan editor –

Artikel asli dalam Bahasa Inggris oleh : Tim Banjarin

Ditranslasikan ke dalam Bahasa Indonesia oleh: Edy kesuma

Dicek dan ditinjau ulang oleh: Reopan editor


Ketika Apple dan GT Advanced mengumumkan kerja sama untuk membuat layar Safir, sebagian besar media mengambil kesimpulan bahwa Apple akan menggunakannya pada smartphone mereka berikutnya. Namun, ketika iPhone diluncurkan dan tidak ada penggunaan layar Safir pada iPhone 6 ataupun iPhone 6 Plus, saya mulai menggali alasan penyebabnya. Apa yang saya pelajari tentang isu ini dan mengapa Apple tidak menggunakan Safir pada generasi iPhone-nya saat ini adalah hal yang mengejutkan dan mengingatkan kita untuk lebih berhati-hati sebelum mengambil kesimpulan. Banyak yang memperkirakan keputusan tidak menggunakan Safir adalah hasil dari isu manufaktur (jika ada lebih banyak waktu, Apple pada faktanya akan menggunakan layar Safir pada iPhone 6). Semakin saya memperhatikan pengumuman Apple dan setelah melihat lagi keuntungan dan kerugian dari Safir, tampaknya Apple memiliki alasan yang bagus untuk tetap pada “kaca yang diperkuat dengan ion” Gorilla Glass daripada Safir.

Saat Safir menjadi topik perbincangan sebagai layar alternatif untuk smartphone, keberlangsungan penggunaan kaca yang diperkuat tidak terlalu terkait dengan isu produksi dan lebih daripada itu manufaktur smartphone telah mengetahui tentang para pemakai dan pilihan mereka. Lebih penting lagi, tentang bagaimana mereka menggunakannya dan apakah mereka bersedia membayar untuk smartphone mereka.

Dan juga, beberapa laporan menyatakan hal tersebut. Sampai beberapa minggu sebelum pengumuman dari iPhone, Apple akan menggunakan Safir namun membatalkannya karena terkait isu hasil yang tidak sesuai. Ini adalah hal yang tidak benar. Sebuah sumber memberitahu saya bahwa Safir tidak pernah ditargetkan untuk iPhone 6 atau 6 Plus, dan perannya dalam iPhone di masa depan masih belum diputuskan. Dan juga, siapapun yang mengetahui proses manufaktur tersebut juga mengetahui, untuk membuat sepuluh juta layar untuk iPhone, setiap pemesanan layar harus dikoordinasikan dengan baik pada enam bulan sebelumnya dan direncanakan dengan cermat ke dalam manufaktur dari smartphone ini pada awalnya.

Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat saya temukan tentang perbandingan Safir vs kaca melalui beberapa wawancara dan mencarinya dalam penelitian yang ada saat ini:

  • Tren dari desain smartphone adalah semakin tipis, semakin ringan, disaat bentuknya menjadi semakin besar pada saat yang sama. Ini bukanlah sesuatu yang mudah. Untuk menambah ukuran dari smartphone dan tetap membuat beratnya turun adalah melalui penipisan, dan penggunaan material yang lebih ringan. Apa yang kita ketahui tentang Safir adalah 30% lebih padat dibandingkan dengan kaca dan akan memerlukan penyesuaian pada layar lebar dari ponsel. Corning telah menunjukkan proses manufaktur Gorilla Glass menjadi lebih tipis dibandingkan dengan selembar kertas dan diperkuat dengan proses yang membuatnya lebih tahan terhadap kerusakan.
  • Biaya adalah faktor penting untuk konsumen dan kategori smartphone sangatlah bersaing saat ini. Apple telah menetapkan harga disaat perangkat lain memiliki harga yang lebih murah dibandingkan iPhone 6, dan Apple akan diharuskan membuatnya lebih mahal jika menggunakan Safir dalam produk ponselnya. Biaya dari pembuatan sebuah lembar Safir diperkirakan kasarnya 10 kali lebih mahal dibandingkan dengan kaca yang diperkuat. Faktanya, sebuah sumber yang saya ajak berbicara mengatakan bahwa biayanya dapat lebih tinggi lagi. Pada penelitian opini kami sebelumnya, jika Apple benar-benar menambahkan layar Safir untuk iPhone terbaru, hal ini akan menyebabkan penambahan sekurangnya $100 dari biaya dasar pembuatan iPhone. Hal ini tentunya akan menjadi sebuah penghambat yang mengurangi ketertarikan konsumen untuk membeli iPhone.
  • Desain fleksibilitas dan adaptasi. Smartphone terbaru yang didesain oleh Samsung, Apple dan vendor lainnya adalah berbentuk halus, dengan layar kaca yang melengkung di tiap sudut perangkat. Karena kaca secara ekstrim dapat diproses tipis dan tetap dapat diperkuat secara kimia, ini membuatnya lebih fleksibel dan dapat dibentuk menjadi seperti yang dapat dilihat pada iPhone 6 dan lainnya. Sedangkan pada kristal Safir memiliki lapisan yang lebih tebal dan harus dipotong dalam berbagai bentuk, membuat biaya dan isu produksi-nya menyebar ke permukaan. Saat ini, Safir dalam ponsel hanya hadir di industri produk fashion, seperti Kyocera Brigadier yang menggunakan sebuah casing tebal untuk melindungi layar ponselnya.
  • Masa Hidup Baterai. Sejauh ini hal yang paling sering dikomplain oleh konsumen adalah masa hidup baterai dalam ponsel. Industri manufaktur perlu mengamati setiap komponen yang menghabiskan daya untuk meminimalkan dampak yang dapat membantu hidup baterai lebih tahan lama. Salah satu yang paling menguras baterai adalah tingkat kecerahan layar. Sesuai dengan penelitian Bernstein, dimana menjelaskan tentang keuntungan penggunaan kaca dibandingkan Safir sebagai materi penutup, karena kaca mentransmisikan cahaya lebih baik daripada Safir. Oleh karena itu, untuk mendapatkan tingkat kecerahan yang sama suatu layar Safir memerlukan lebih banyak penggunaan daya. Masalah ini tidak dapat diselesaikan dengan mudah karena sifat dasar dari Safir yang mentransmisikan cahaya lebih sedikit dibandingkan dengan kaca. Hal ini juga berdampak pada hal lain seperti tingkat kesilauan. Kaca dapat memiliki sebuah solusi anti-refleksi yang tertanam di dalam materinya, mengurangi efek matahari ketika digunakan di luar ruangan. Untuk dapat menggunakan anti-refleksi pada Safir, diperlukan suatu proses pelapisan yang mana dalam jangka waktu tertentu akan luntur. Isu ini sendiri cukup membuat Apple berpikir untuk menggunakan Safir dalam iPhone semenjak sebagian besar orang memiliki iPhone mereka sekurangnya selama dua tahun atau bahkan lebih.
  • Dampak lingkungan. Industri manufaktur menyadari para konsumen mulai lebih peduli mengenai dampak dari produk yang mereka beli pada lingkungan. Safir memerlukan 100 kali energi lebih banyak untuk diproduksi dibandingkan dengan kaca. Kebutuhan energi sendiri cukup membuat Safir bermasalah sebagai material yang sulit untuk digunakan pada smartphone. Tidaklah menutup kemungkinan jika nanti Safir akan digunakan pada smartphone kelas atas suatu hari nanti, namun kurang memungkingkan bagi mereka jika ditujukan untuk smartphone dengan target pasar yang besar.
  • Ketahanan. Ini adalah faktor sejauh ini yang dikatakan paling menguntungkan dan mungkin kesalahpahaman paling besar. Ini adalah area yang membuat saya tersandung, dimana saya berasumsi terlalu banyak dari investasi yang dilakukan Apple di GT Advanced. Safir sangat sangat keras dan daya tahan gores yang tinggi. Itulah mengapa komponen ini bisa ditemukan pada produk seperti jam tangan mewah. Namun secara garis besar hal ini belum pernah diuji coba pada layar ponsel. Dibalik sifat dasar Safir yang merupakan kristal yang sangat keras, material ini tidaklah fleksibel dan sangat rapuh. Safir memiliki turunan struktur yang membuatnya peka terhadap keretakan yang dapat terjadi pada permukaan kristal. Saya diberitahukan oleh beberapa sumber dari berbagai bidang percobaan yang bersubjek pada Safir dengan uji gores dan patahan melawan materi kaca yang sudah diperkuat. Hasilnya menunjukkan bahwa performa Safir lebih baik pada daya tahan gores, namun ketika anda menjatuhkannya, terlihat seperti kaca yang pecah. Kaca sesungguhnya materi yang lentur dan dapat menyerap getaran saat jatuh dengan mudah dibandingkan dengan Safir. Safir lazimnya ada di jam tangan mewah dan produk lain yang jarang mengalami kasus dengan tingkat resiko kejatuhan yang sering terjadi di smartphone.

Seperti banyak orang yang berkesimpulan pada pesona Safir yang berlebihan tanpa benar-benar memahaminya, saya sebelumnya juga berasumsi bahwa materi ini tidak dapat pecah. Namun saat sedang berbicara dengan berbagai ahli, mereka mengatakan agar sedikit mengubah sudut pandang kita dengan melihat kasus dengan contoh selembar es (yang juga merupakan kristal), dimana terdapat retakan kecil pada permukaannya dan mungkin dapat bertahan beberapa saat sampai ada benturan yang menyebabkannya menjadi hancur berkeping-keping. Retakan kecil seperti itu selalu kita alami pada penggunaan normal dan bagaimana biasanya kita menaruh ponsel kita setiap hari. Terbentur dengan benda disekitar kita dan berada dalam kantung celana dimana di dalamnya  terdapat kunci rumah, uang logam atau benda lain yang dapat menggores permukaannya berulang-ulang. Solusi yang telah ada saat ini, seperti layar Gorilla Glass, hadir diperkuat dengan proses kimia yang melapisi struktur atom dan benar-benar memperkuat area permukaan goresan dan memberikan sekat pada kaca lebih lama agar terhindar dari terjadinya pecahan. Meskipun goresan dalam permukaan semakin terlihat, layar kaca akan tetap utuh lebih lama dibandingkan dengan yang terbuat dari Safir. Sekali pada Safir ditemukan retakan atau pecahan, yang terlihat atau tidak terlihat, membuatnya beresiko menjadi pecah dan memiliki tingkat kegagalan yang tinggi. Pada jam tangan, hal ini adalah isu yang kecil karena jarang mengalami kejatuhan dan memiliki ukuran permukaan jam tangan yang lebih kecil. Tetapi pada smartphone dengan layar yang lebih lebar dan berbagai macam penggunaan, hal ini dapat membuatnya sulit untuk diterapkan dan cenderung kurang tahan terhadap kerusakan.

Saya tidak meragukan seiring berjalannya waktu akan terlahir terobosan baru untuk layar Safir dan munculnya jenis baru proses pelapisan yang memungkinkannya digunakan pada layar smartphone. Namun demikian dari penelitian yang telah saya lakukan, tampaknya hal ini tidak akan terjadi dengan segera. Dan juga, Safir kurang lentur dan rapuh, setidaknya bagi saya, menggunakannya dalam layar lebar smartphone akan tetap membuatnya menjadi sulit walaupun mereka mampu melapisi dengan suatu cara sehingga layar terhindar dari resiko pecah. Sekarang saya mengerti mengapa Apple tidak menggunakannya dalam iPhone terbaru mereka dan semakin saya mempelajarinya semakin saya melihat hal ini akan bisa menjadi masalah bagi Apple untuk menggunakannya selain pada jam tangan pintar mereka di masa yang akan datang.

 

Print Friendly, PDF & Email