“Bekerja mungkin merupakan rutinitas yang paling lama yang akan anda lakukan dalam hidup anda. Namun bekerja dengan dorongan keinginan untuk berbuat baik dan keinginan untuk menjadi suatu bagian dalam komunitas, salah satu contohnya seperti TechBiker, akan dapat memberikan sebuah pengalaman dan nilai kehidupan yang bermakna dalam diri kita”

 – catatan editor –

Artikel asli dalam Bahasa Inggris oleh: Eze Vidra

Ditranslasikan ke dalam Bahasa Indonesia oleh: Edy Kesuma


Sebulan dari sekarang, 70 orang yang berasal dari industri teknologi di London akan melakukan perjalanan terakhir sepanjang 320 km dari Paris ke London. Apa yang membuat orang-orang geek ini beralih dari laptop mereka dan mau mengikuti perjalanan jauh dengan menggunakan sepeda? Penyebabnya adalah kombinasi antara keinginan untuk berbuat baik dengan kerinduan untuk menjadi bagian dari komunitas startup yang kuat di London. Sejak kami memulai TechBiker pada tahun 2012, terkumpul 120 orang yang ikut dalam perjalanan bersepeda dari Paris ke London dan kami telah mengumpulkan lebih dari 100.000 Poundsterling atau sekitar 1.7 Milyar Rupiah untuk membangun ruang baca, membantu pembangunan 3 sekolah, 4 perpustakaan dan 3.000 beasiswa untuk anak perempuan di India dan Nepal.

“Hidup adalah perjalanan untuk mewujudkan sesuatu, dimana sering berakhir di tempat dimana mimpi tidak pernah dimulai.” – Qosmic Qadence.

Kisah TechBiker dimulai 4 tahun yang lalu. Saat itu saya bepergian ke India bersama istri saya ketika gunung berapi Islandia Eyjafjallajökull meletus, menimbulkan malapetaka pada jalur penerbangan ke seluruh dunia. Penerbangan kami dibatalkan 3 kali berturut-turut, dan kami harus memperpanjang perjalanan seminggu demi mendapatkan konfirmasi kursi penerbangan. Setelah menghabiskan beberapa hari di hotel di kota New Delhi yang relatif mewah, kami memutuskan untuk mengubah suasana dan menuju ke bagian Utara daerah Daramsalla, rumah bagi Dalai Lama di pengasingannya.

Saya banyak membaca buku, tapi lebih tertarik pada dua jenis buku: pertama buku dimana topiknya berhubungan dengan startup atau buku tentang kebahagiaan (saya menemukan kedua topik ini menarik bagi saya). Robyn, istri saya adalah seorang Phd dalam Ekonomi Politik Internasional, hanya membaca buku-buku tentang ekonomi dan politik (seperti yang anda lakukan ketika mengejar gelar Phd). Untuk mempersiapkan perjalanan, kami memutuskan untuk menjauhi selera yang biasa kami lakukan dan memilih buku dari rak dengan kategori ‘Berbuat Baik.’ Istri saya memilih buku yang berjudul “The End of Poverty” dan saya mengambil buku “Leaving Microsoft to Change the World”, oleh John Wood. Saya sedikit curang, karena saya tahu pada judul tersebut pasti ada beberapa hal yang berkaitan dengan teknologi. Sedikit yang bisa saya ketahui dari buku ini adalah menceritakan tentang bagaimana ruang baca hampir secara tidak sengaja dimulai oleh seseorang yang berkecimpung dalam bidang teknologi, dan hal inilah yang menyentuh kepercayaan diri saya dan menjadi inspirasi untuk memulai TechBiker.

Maju ke beberapa waktu ke depan, peran saya di kantor berubah dari yang semula mengelola kemitraan strategis di Google, menjadi orang yang bertanggung jawab meluncurkan dan menjalankan program Campus London, sebuah basis penghubung fisik pertama Google untuk para startup yang berbasis di London Timur, dekat dengan kawasan “Silicon Roundabout”. Sebelum ditawari tugas ini, saya telah banyak menghabiskan waktu untuk bertemu rekan-rekan dari perusahaan startup, pemodal ventura atau akselerator, untuk mencoba memahami tantangan terbesar apa yang ada dalam perspektif mereka. Ini merupakan penelitian yang penting yang kemudian membuat saya menulis rencana 100 hari pertama yang akan saya lakukan. Jika melihat kembali ke belakang, banyak hal yang telah kami lakukan di Campus London dalam 2,5 tahun dan telah berjalan dengan baik sesuai dengan perencanaan awal dibentuknya wadah ini. Tapi satu pertanyaan muncul di benak saya: bagaimana saya bisa benar-benar membangun komunitas yang erat, jika orang-orang berada dalam startup kecil tanpa ada yang bisa menghubungkan mereka dari ruang fisik mereka?

Remeh kedengarannya, jawabannya datang kepada saya dalam bentuk mimpi (fenomena yang sangat umum yang bisa terjadi kepada anda saat anda menghabiskan banyak waktu memikirkan sesuatu). Saya menyadari bahwa jawaban atas pertanyaan yang sedang saya cari adalah dengan memberi seseorang tujuan yang lebih besar daripada startup mereka sendiri. Jika saya bisa memotivasi para pendiri startup ini dan anggota masyarakat lainnya, menyalurkan semua semangat dan ketekunan mereka untuk melakukan sesuatu demi kebaikan masyarakat – akan menjadi sebuah solusi yang menguntungkan bagi kedua belah pihak. Apa yang saya lihat dalam mimpi itu, adalah sebuah perjalanan sepeda yang besar, dan gagasan pembuatan “Ruang Baca” bagi anak-anak muda tertanam di kepala saya sejak perjalanan ke India pada tahun 2010 lalu. Tapi hanya ada satu masalah – saya tidak memiliki sepeda dan saya tidak tahu bagaimana caranya mengatur logistik untuk petualangan besar seperti ini.

“Perjalanan sejauh seribu mil, akan dimulai dari satu langkah kecil.” – Lao Tzu

Saya melakukan dua hal untuk memulainya. Saya memposting sebuah tweet, dengan tautan ke formulir Google agar orang-orang yang memiliki ketertarikan bisa mendaftarkan diri mereka:

Dan hasilnya cukup menggembirakan dimana sekitar 50 orang ikut mendaftar. Hal selanjutnya yang saya lakukan adalah membicarakan gagasan perjalanan sepeda itu seluas-luasnya kepada banyak orang. Saya bahkan menyinggung hal ini ke Ingrid Lunden saat diwawancarai oleh media Techcrunch sebelum peluncuran Campus London:

“Inilah yang saya lakukan untuk bersenang-senang,” kata Vidra. “Anda tidak bisa memalsukan passion.” (Dan harus saya tambahkan, antusiasmenya menular ke orang lain. Dia bahkan membuat saya setuju, secara teori, tentang gagasan untuk membantu mewujudkannya dengan melakukan perjalanan sepeda dari London ke Paris. Startup mengendarai sepeda dengan tujuan kebaikan menjadi ide dasarnya.)

Saya membuat orang tertarik, tapi saya masih belum tahu bagaimana cara melakukannya. Seperti yang ditulis Paolo Coelho di Alchemist: “Dan, jika anda menginginkan sesuatu, semua alam semesta akan bergabung membantu anda mencapainya”. Pada saat momen yang tidak disangka-sangka (salah satu dari banyak pengalaman saya dengan TechBiker sampai hari ini), sebuah email menarik sampai di inbox saya. Dari Jonathan Friend, seorang akuntan yang juga seorang pemandu sepeda, mengatakan kepada saya bahwa seseorang (yang belum pernah saya temui) mengatakan kepadanya bahwa saya sedang mencari orang atau organisasi yang bisa mengatur logistik perjalanan sepeda dari Paris ke London. Dia biasanya hanya melakukannya dari London ke Paris, tapi dia bersedia mencobanya. Dan perjalanan inipun terus berlanjut.

“Semua ini karena saya mendapatkan sedikit bantuan dari teman-teman saya.” – John Lennon

Pada saat itu, begitu sibuk dan begitu banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Campus London menghabiskan semua waktu saya, dan itu termasuk di malam hari dan di akhir pekan. Saya membutuhkan bantuan dan dalam waktu sesegera mungkin. Pada saat itu, saya diperkenalkan dengan Gerry Newton, pendiri Cyclr, sebuah startup yang berbasis TechHub di lantai 2 Campus London. Gerry sedang dalam proses meluncurkan situs webnya, namun dia langsung mendapat ide untuk mengadakan acara pengumpulan amal dengan tema ‘Tech Ride’ dan kemudian kami menggabungkan kekuatan kami. Tim teknologi Gerry (desainer dan pengembang) membantu dalam pembuatan logo, situs web dan media sosial, dan saya harus mengurus sponsor, para pesepeda dan menyebarkan berita. Meski begitu, pekerjaannya terlalu banyak untuk 2 orang. Jadi, saya menghubungi Benjamin Southworth, yang kemudian menjadi wakil CEO Techcity (dan mantan pendiri dari startup 3beards), saya tahu Ben tertarik dengan hal yang berhubungan dengan sepeda dan berharap gairah dan posisi yang dimilikinya di Tech City akan memperkuat pesan dan meningkatkan kesadaran dan pengkampanyean pengumpulan amal dari perjalanan yang akan kami lakukan.

Berbagai ‘bantuan alam semesta’ terus bermunculan. Dalam acara akhir pekan di Hotel W, Abraham Choi, pendiri Simple Merchant yang baru saja pindah dari Amerika, mendengar ide kami tentang perjalanan ini dan bertanya bagaimana dia bisa ikut terlibat. Abe akhirnya menjadi anggota inti instruktur tim TechBiker, dan mungkin tidak akan pernah kami temui sebelumnya. Seorang ahli di bidang ini, Abe dapat memecahkan proyek besar menjadi potongan-potongan kecil dan menyelesaikan banyak hal, sebuah keterampilan yang menjadi kunci kesuksesan acara seperti ini.

Dalam acara Silicon Drinkabout di Campus London, saya mengobrol dengan Andy Young (kemudian CEO Groupspaces, sekarang bekerja di Stripe). Andy menciptakan sebuah kelompok bagi kita untuk mengelola komunikasi anggota tim dan membuat kami terus menjadi juara dalam acara TechBiker selama 3 tahun. Michael Willmott, pendiri Knodium, mengambil alih situs ini dan berhasil membuatnya menjadi lebih hebat, Barry Furby dari Synthesio.com mengepalai perjalanan latihan kami, dan James Mayes, yang memimpin sponsor dimana daftarnya menjadi terlalu panjang untuk dicek semua, namun mereka tahu siapa diri mereka dan betapa istimewanya orang-orang ini bagi saya.

Lalu saya mengenal Mark Jennings. Mark ikut serta dalam perjalanan sepeda pertama dimana kami mengalami hujan 27mm yang sangat deras pada hari ketiga di daerah Sussex Barat. Kondisinya terlalu berbahaya untuk diikuti 50 pembalap dengan kemampuan bersepeda yang berbeda-beda, dan kami harus melakukan perdebatan keras apakah perlu melanjutkan perjalanan dengan menggunakan kereta api saja dan meloncati jalur perjalanan yang berisiko (sekitar 10 mil) namun tetap finish di London. Seperti sebuah adegan film, kelompok kami hampir terpisah menjadi dua dimana mengikuti keputusan untuk terus melanjutkan perjalanan meski diderai hujan atau menuntaskan perjalanan ini bersama-sama sebagai sebuah kelompok. Abe dan Mark saling berkonfrontasi dan Abe berkata, “kita memulai perjalanan ini bersama-sama dan kita akan menyelesaikannya bersama-sama juga.” Mark telah menjadi penasehat paling berpengaruh di TechBiker sejak saat itu. Dia telah mengelola komunikasi selama dua tahun terakhir dan telah bergabung dengan dewan program pembangunan “Ruang Baca” di London. Sekarang dia begitu keranjingan mengendarai sepeda sejauh 120 mil dalam satu hari melewati berbagai pegunungan dan dia menekuni rutinitasnya ini. Mark adalah jantung dari TechBiker dan TechBiker tidak akan sama tanpanya.

“Di masa depan yang cerah, anda tidak bisa melupakan masa lalu anda.” – Bob Marley

Ini menjadi postingan yang cukup panjang, jadi saya akan berhenti di sini, namun sebelumnya saya memohon kepada anda untuk mendukung kami di program kami berikutnya. Kami ingin meningkatkan sumbangan sebesar 50.000 poundsterling untuk memberi kesempatan akses pendidikan kepada banyak anak-anak di tempat yang paling mereka butuhkan. Dengan bantuan anda, dan seluruh alam semesta, kita akan bisa mencapainya. Kami mengharapkan dukungan anda dalam program ini. Untuk lebih jelasnya anda bisa berkunjung ke situs kami disini https://techbikers.com/

Di postingan saya berikutnya, saya akan membagikan 10 hal yang membuat TechBiker istimewa dan lain dari yang lain. Jika anda ingin mengetahui bagaimana rasanya menjadi partisipan dalam TechBiker, luangkan waktu untuk menonton video dibawah ini (difilmkan oleh TechBiker Alex Blogg).