“Sebuah kisah yang masih belum banyak diketahui umum tentang Larry Page, sosok penting dibalik kelahiran Google. Di awal perjalanannya, Larry Page bukanlah seorang pemimpin perusahaan yang baik. Namun seiring waktu, dia berhasil membuktikan dirinya sebagai pemimpin yang tepat, dimana penelitian dan penemuan teknologi tidak pernah berhenti berjalan di Google”

– catatan editor –

Artikel asli dalam Bahasa Inggris oleh: Nicholas Carlson

Ditranslasikan ke dalam Bahasa Indonesia oleh: Edy Kesuma

Dicek dan ditinjau ulang oleh: Reopan editor


 

Di suatu hari di bulan Juli 2001, Larry Page mengambil keputusan memecat para manajer proyek Google. Mereka semua.

Saat itu adalah lima tahun sebelum Page, seorang mahasiswa 22 tahun lulus dari Universitas Stanford, dimana pada suatu tengah malam dia mendapatkan sebuah pencerahan. Dan lalu entah bagaimana dia berhasil membuat kode program yang mampu mendownload keseluruhan web. Hasil perhitungan tautan (link) yang ada dalam halaman web, membuat dia melihat informasi yang ada di dunia ini dengan cara yang sepenuhnya baru.

Apa yang Page tuliskan pada malam itu menjadi dasar dari suatu algoritma. Dia menamakannya sebagai PageRank dan digunakan untuk menggerakkan sebuah mesin Web pencari baru bernama BackRub. Namun nama itu tidak bertahan lama.

Di bulan Juli 2001, BackRub berubah nama menjadi Google dan berjalan dengan sangat baik. Memiliki jutaan pengguna, beberapa daftar investor mengagumkan, dan 400 karyawan termasuk setengah lusin manajer proyek.

Seperti kebanyakan startup, di awal berjalannya Google tidak ada batasan antara CEO, Page, dengan para teknisinya. Namun seiring pertumbuhan perusahaan, terdapat penambahan lapisan manajer, orang-orang yang dapat bertemu dengan Page dan para eksekutif senior Google dan memberikan prioritas perintah dan deadline kepada para teknisi.

Saat itu Page berusia 28 tahun, dan dia membenci hal itu. Semenjak Google hanya merekrut para teknisi bertalenta, dia menganggap pengawasan lapisan itu tidak hanya tidak diperlukan, namun juga menyulitkan. Dia juga mencurigai para manajer proyek Google tersebut menjauhkan para teknisi mengerjakan proyek yang secara pribadi penting bagi dirinya. Sebagai contoh, Page menguraikan rencana untuk mengumpulkan seluruh buku yang ada di dunia dan membuatnya bisa dicari secara online, namun entah bagaimana tidak ada seorang-pun yang mengerjakannya. Page menyalahkan para manajer proyek.

Diperlukan beberapa perampingan dramatis, sesuai yang dia putuskan. Dibanding manajer proyek, semua teknisi Google harus memberi laporan kepada satu orang, yaitu Wakil Kepala Teknisi Google baru bernama Wayne Rosing, dan selanjutnya Rosing akan melaporkan langsung kepadanya.

Bos bagian HR (Human Resource), seorang wanita serius dengan suara keras bernama Stacey Sullivan, menganggap rencana Page adalah hal yang gila, sesuai yang tercantum dalam artikel “I’m Feeling Lucky,” sudut pandang dari dalam oleh Douglas Edward pada awal-awal tahun berjalannya Google. Sullivan memberi tahu Page, “Anda tidak bisa mengatur semuanya sendiri!” katanya. “Orang-orang memerlukan seseorang yang bisa diberitahu ketika mereka menghadapi masalah!”

Page mengabaikannya.

Sullivan mengutarakan yang menjadi perhatiannya kepada Eric Schmidt. Pada bulan Maret, Schmidt menjadi direktur Google. Semua orang berasumsi dia akan segera menjadi CEO setelah dia meninggalkan pekerjaan sebagai CEO di Novell.

Schmidt setuju dengan Sullivan. Begitu juga dengan pelatih eksekutif Page, Bill Campbell. Semua orang memanggilnya “Pelatih” karena dia pernah menjadi pelatih sepakbola di Universitas Columbia. Dia masih sering berjalan dan berbicara seperti saat dia berada di sisi lapangan.

Seperti yang Steven Levy rinci sendiri mengenai sejarah Google dalam buku “In the Plex,” pada suatu sore, Campbell berdebat hebat dengan Page mengenai rencananya. Untuk membuktikan pendapatnya, Campbell membawa satu demi satu teknisi ke dalam kantor Page untuk mengutarakan pandangan mereka. Dari satu orang ke orang yang lain, mereka memberitahu Page bahwa mereka sebenarnya memilih untuk memiliki seorang manajer, seseorang yang bisa memberikan ketidaksetujuan dan memberikan arahan kepada tim mereka.

Namun Page tetap pada keputusannya.

Schmidt dalam beberapa bagian mungkin merupakan orang yang paling tidak tepat membantu Sullivan pada saat itu. Page tidak pernah berada dibalik perekrutan Schmidt – atau CEO manapun untuk masalah itu. Para investor Google membuatnya melakukan hal itu.

Lama sebelumnya, Schmidt mungkin membawa hambatan bagi rencana Page. Namun masih belum. Itu adalah di bulan Juli 2001 dan Schmidt belum secara resmi menjadi CEO. Oleh karena itu Page berjalan selangkah di depan.

Dia diwakili oleh Rosing menyampaikan suatu pengumuman.

Pada siang itu, 130 atau keseluruhan teknisi dan setengah lusin manajer proyek hadir. Mereka berdiri di luar kantor Page diapit bilik-bilik dan sofa Google yang serasi, yang mana sama seperti furnitur kantor lainnya yang dibeli dari para startup yang gagal dengan harga murah.

Akhirnya, Rosing, pria dengan kepala plontos berkacamata, mulai berbicara. Rosing menjelaskan bahwa para teknisi akan mengalami organisasi ulang: Semua teknisi mulai saat ini memberi laporan langsung kepadanya, semua manajer proyek keluar dari tugasnya.
Berita tersebut tidak berjalan baik. Para manajer proyek terkejut. Mereka tidak diberi peringatan sebelumnya. Mereka baru saja dipecat di depan semua rekan kerja mereka.

Para teknisi mengharapkan penjelasan lebih lanjut. Jadi Page memberikannya. Dengan sedikit emosi, berbicara dengan gayanya yang datar, nada mirip robot, dia menjelaskan bahwa dia tidak menyukai orang-orang non-teknisi mengepalai para teknisi. Teknisi seharusnya tidak disupervisi oleh manajer dengan keterbatasan pengetahuan teknologi. Akhirnya, dia berkata, para proyek manajer tidak melakukan pekerjaan yang cukup bagus.

Saat Page berbicara, dia menjaga pandangannya teralihkan, menghindari tatapan kontak mata langsung. Meskipun dia pribadi yang menarik dengan tinggi diatas rata-rata dan rambut yang hampir seluruhnya hitam, dia adalah orang yang cangung saat bersosialisasi.

Lalu muncul paduan suara keluhan setelah penyampaian berita tersebut. Dan akhirnya salah satu teknisi di ruangan itu, Ron Dolin, berteriak kepada Page. Dia berkata pertemuan sebelah pihak tidak memiliki hak untuk memberikan penilaian kinerja. Apa yang Page lakukan benar-benar tidak masuk akal, katanya dan “sangat tidak profesional.”

“Sangat kacau,” kata salah satu manajer proyek yang hadir. “Saya merasa dipermalukan oleh hal itu. Larry berkata di depan semua orang bahwa mereka tidak membutuhkan manajer, dan dia berbicara tentang apa yang tidak dia sukai dari kami. Dia mengatakan sesuatu yang melukai perasaan banyak orang.”

Pada akhirnya, pemberhentian tidak terjadi. Para manajer yang hendak diberhentikan hari itu malahan dibawa kedalam organisasi operasi pertumbuhan Google, dibawah kepemimpinan Urs Hozle.

Penyusunan ulang organisasi Page juga tidak berjalan lama. Ketika beberapa teknisi berjalan tanpa pengawasan, masalah mulai timbul. Proyek-proyek yang membutuhkan sumber daya tidak mendapatkan sumber daya yang diperlukan. Redundansi menjadi sebuah isu. Para teknisi membutuhkan masukan dan bertanya-tanyak ke arah mana karir mereka akan berjalan.

Akhirnya, Google mulai merekrut manajer proyek lagi.

“Saya berusaha sebisanya menyarankan bahwa benar-benar ada nilai di dalam manajemen, dan anda bisa mengelola keselarasan dari bagaimana anda mengaturnya,” ingat Stacy Sullivan dalam artikel “I’m Feeling Lucky.” “Semoga Larry mempelajari sesuatu dari sana.”

Di Agustus 2011, Schmidt secara penuh melepaskan tanggung jawabnya di Novell. Dia kemudian menjadi CEO Google – dan disebut sebagai pengawasan orang dewasa untuk Page dan co-founder nya, Brin.

Dalam jangka waktu yang cukup lama, Larry Page merasa sangat tidak bahagia.

Semua orang tahu cerita tentang Steve Jobs – bagaimana dia dipecat dari perusahaan yang dia dirikan sendiri, yaitu Apple – lalu kemudian kembali lagi untuk menyelamatkan bisnis perusahaan.

Apa yang kurang lebih dipahami adalah dewan Apple dan para investor benar-benar tepat memecat Jobs saat itu. Pada awal karirnya, dia seorang pemarah, kejam dan destruktif. Hanya dengan meninggalkan Apple, menenangkan dirinya dan menemukan kesuksesan kedua (dengan Pixar) dia mampu berubah lebih dewasa hingga kembali menjadi pemimpin Apple dan membangunnya menjadi perusahaan paling bernilai di dunia.

Larry Page adalah Steve Jobs-nya Google.

Seperti Steve Jobs, Page memiliki seorang co-founder, Sergey Brin, namun Page-lah yang menjadi visioner sejati dan pengendali gerak perusahaannya.

Dan seperti para investor Apple yang membuang Jobs dari perusahaannya, investor Google menolak keinginan Page dan memaksanya untuk merekrut seorang CEO dengan kepimpinan yang dewasa.

Keduanya kemudian mengalami masa-masa panjang seperti berada dalam suatu hutan belantara yang tidak ada kejelasan. Pembuangan Steve Jobs memang lebih kejam, namun Page juga menghabiskan beberapa tahun dikeluarkan dari aktifitas harian Google.

Sama seperti Jobs, hanya dengan melalui pengasingan yang lama ini Page mampu menjadi dewasa, menyadari kekuatan dan kelemahan yang ada pada dirinya sendiri.

Lalu seperti juga Jobs, Page kembali dengan ambisi yang besar dan sebuah ketetapan hati yang baru.

 

Lawrence Edward Page

Pada musim dingin, langit malam yang cerah di tanggal 7 Januari 1943, Nikola Tesla tidur dengan nyenyak di kamarnya di Hotel New Yorker, lantai 33, didekat jalan Manhattan. Tiba-tiba dia merasakan sakit di dadanya. Dan kemudian jantungnya berhenti.

Sehari kemudian, seorang pelayan hotel memutuskan mengabaikan tanda “dilarang menganggu” pada pintu kamar Tesla. Dia menemukan tubuhnya. Sang penemu hebat telah meninggal.

Seorang imigran Serbia yang lahir tahun 1856, Tesla telah menemukan hampir semua teknologi listrik dunia yang digunakan saat ini. Dia juga yang membayangkan dan menciptakan komunikasi nirkabel. Namun dia meninggal setelah menghabiskan masa terbaik dalam masa terakhirnya dengan mengelola rumah penginapan dan memelihara burung dara, karena tidak mampu membujuk investor baru untuk membiayai bayangan inovasi terbaru yang dimilikinya. Dia meninggal dengan mempercayai bahwa dia bisa membuat sebuah senjata yang mampu mengakhiri semua perang, sebuah jalan bagi tenaga listrik untuk mampu berjalan secara nirkabel melewati samudera, dan rencana untuk memanfaatkan energi dari luar angkasa. Dia meninggal dalam penyesalan.

Tesla adalah seorang yang brilian. Dia menguasai delapan bahasa dan memiliki memori fotografis. Penemuan akan muncul dalam bentuk utuh dalam pikirannya. Namun dia tidak berbakat dalam bisnis.

Di tahun 1885, dia berkata kepada bos-nya, Thomas Alfa Edison, bahwa dia mampu meningkatkan kemampuan motor dan generator. Edison berkata kepadanya,”Akan ada $50.000 baginya jika dia mampu melakukannya.” Tesla mampu melakukan apa yang dia janjikan, dan sebagai balasannya Edison memberikannya kenaikan gaji $10.

Tesla berhenti dari sana. Dia kemudian membangun sendiri perusahannya, Tesla Electric Light & Manufacturing. Namun segera dia berselisih dengan para investornya tentang arah tujuan dari bisnisnya. Mereka memecatnya dan dia terpaksa mengambil pekerjaan menggali parit selama setahun.

Di tahun 1900 dia membujuk JPMorgan untuk menginvestasikan uang sebesar $150.000 pada perusahaannya yang lain. Uang tersebut hilang begitu saja di tahun 1901. Tesla menghabiskan sisa hidupnya menulis permohonan kepada JPMorgan untuk memintanya kembali menginvestaskan uangnya. Dia tidak pernah mendapatkannya.

Setahun setelah Tesla meninggal, di tahun 1944, jurnalis New York Herald Tribune, John Joseph O’Neill menulis biografi tentang penemu tersebut, yang telah menjadi temannya.

“Selama tiga dekade dari masa hidupnya, mungkin tidak ada satupun dari sepuluh ribu orang yang pernah melihatnya mengetahui siapa dia sebenarnya,” tercantum dalam biografi “Prodigal Genius: The Life of Nikola Tesla,”

“Bahkan ketika suatu surat kabar, sekali dalam setahun, menampilkan judul tentang Tesla dan prediksi terbarunya terkait keajaiban ilmiah yang akan ada, tidak ada seorangpun menautkannya namanya, seseorang dengan tinggi yang berlebih, sangat ramping, menggunakan pakaian lama, yang hampir setiap hari muncul memberi makan teman berbulunya.”

“Dia hanya salah satu individu aneh yang dibutuhkan dari berbagai jenis orang untuk membuat sebuah populasi lengkap dari lingkungan kota metropolis yang besar.”

Empat puluh satu tahun setelah kata-kata itu dipublikasikan, di tahun 1985, seorang anak berusia 12 tahun dari Michigan, selesai membaca biografi Tesla dan menangis.
Dia adalah Larry Page.

Anak dari pasangan profesor komputer sains di Universitas Michigan, Larry dibesarkan dalam lingkungan rumah yang berantakan. Di dalamnya terdapat komputer, gadget, dan majalah komputer dimana-mana. Suasana lingkungannya – dan perhatian orangtua Page – membantu perkembangan kreatifitas dan minat penemuannya.

Pada momen itu, Page menyadari bahwa tidaklah cukup hanya membayangkan sebuah inovasi teknologi di masa depan. Ide yang besar tidaklah cukup. Mereka perlu dikomersialisasikan. Jika Page ingin menjadi seorang penemu, dia harus memulai membuat sebuah perusahaan yang sukses juga.

Kisah Tesla juga mengajarkan Page untuk selalu berhati-hati pada cara Thomas Edison – orang-orang yang akan menggunakan anda dan menempatkan mimpi anda sebagai layanan terhadap kesinisan mereka sendiri yang tidak berujung.

 

Larry Page Mengatur Manajemen

Google mulai berbentuk badan hukum pada tanggal 4 September 1998 – dua tahun setelah ide perangkingan halaman Web muncul dalam suatu mimpi yang dialami oleh Page. Dia menjadikan dirinya sendiri sebagai CEO, dan teman baiknya Sergey Brin sebagai co-founder.

Co-founder seringkali dilupakan dalam sejarah. Steve Jobs memiliki dua orang di Apple. Dan Mark Zuckerberg memiliki empat orang di Facebook.

Sergey Brin adalah sahabat karib dalam kategori yang berbeda bagi Page. Mereka bertemu di Universitas Stanford, dimana Brin adalah orang yang ramah dan bersemangat, dikenal diantara para professor karena kebiasannya masuk begitu saja ke kantor dosen tanpa mengetuk pintu.

sergey brin

sergey brin

Bagi sebuah startup yang akan berubah menjadi perusahaan teknologi dunia, Brin akan membawakan sesuatu yang dibutuhkan yang Page sendiri kurang kuasai. Brin unggul dalam strategi, branding, dan menumbuh-kembangkan hubungan antara Google dengan perusahaan lainnya. Dia adalah partner bagi Page, yang juga merupakan satu kesatuan.

Ketika banyak orang seringkali menganggap Google merupakan penemuan dari dua pemuda jago komputer – Sergey dan Larry, Larry dan Sergey – sebenarnya Google adalah hasil kreasi dari Larry Page, yang dibantu oleh Sergey Brin.

Page dan Brin berhasil mengumpulkan $1 juta dari teman-teman dan keluarganya untuk membangun startup mereka, pindah dari kampus Stanford ke sebuah garasi sewaan.

Di bulan Februari 1999, startup telah tumbuh melebihi kapasitas garasi, dan dipindahkan ke sebuah kantor diatas toko sepeda di Palo Alto, California. Tujuh bulan kemudian, Google tumbuh melebihi kapasitas kantor tersebut, sehingga harus pindah lagi ke sebuah bangunan yang mencolok di kawasan perkantoran beberapa mil dari jalan raya dekat Mountain View.

Di luar bangunan terdapat banyak lahan parkir yang sudh diaspal, pita kuning polisi ditandai dalam area dimana Page, Brin dan para karyawan Google lainnya – mereka menyebut diri mereka sendiri dengan sebutan Googlers – memainkan olahraga hockey. Permainan tersebut penuh dengan kontak tubuh. Para karyawan mengenakan bantalan dan akan kembali kedalam kantor dalam kondisi lepek penuh keringat dan kadang dengan beberapa luka dan memar. “Tidak ada seorangpun yang menahan diri ketika melawan para founder merebut keping bola hockey,” tulis Douglas Edwards. “Semakin keras anda bermain, semakin banyak respek yang anda dapatkan.”

Di dalam bangunan yang berwarna krem, permainan ini dua kali lebih sulit. Benar didalamnya terdapat makanan gratis bagi seluruh karyawan dan seorang terapis pijat. Dan dengan bola latihan berwarna cerah dan pelatih dimana-mana, tempat tersebut tampak seperti taman bermain yang digabungkan dengan asrama mahasiswa baru.

Namun bagi para karyawan, bekerja di Google lebih seperti uji defense tesis yang tidak pernah berakhir. Kemanapun anda melihat, mereka semua sudah tahu dan siap untuk meneteskan air mata bahagia kepada anda. Page awalnya terikat dengan Brin dari suatu perdebatan sengit yang hampir menghabiskan waktu seharian, dan itulah bagaimana hubungan mereka tumbuh. Perdebatan mereka bukanlah pertandingan adu teriakan. Di satu sisi terdapat serangkaian perdebatan blak-blakan, dan kemudian di sisi lain mereka saling mengata-ngatai. Page akan menyebut ide Brin bodoh. Dan Brin akan mengatakan ide Page adalah naif. Mereka saling mengatakan bajingan (b*stard) satu sama lain.

Page tidak pernah merasa pertemanannya dengan Brin menjadi memburuk setelah perdebatan, jadi dia menggunakan gaya berinteraksi yang sama dengan para Googlers. Page pernah suatu kali berkata dalam sebuah ruangan yang penuh dengan karyawan Google bagian marketing bahwa profesi mereka dibentuk oleh kemampuan untuk berbohong.

Page memiliki kecenderungan berkomunikasi dengan bahasa tubuh yang tegas. Dia akan mengangkat alisnya dalam suatu cara yang membuat anda tahu bahwa dia berpikir ide yang anda miliki itu adalah bodoh. Jika anda mengatakan sesuatu yang membuatnya marah atau tidak nyaman, dia akan merespon dengan nada yang datar, dan tidak akan mau melihat pandangan anda.

Dia menjadi terkenal buruk karena kekurangannya pada sopan santun bersosialisasi. Jika ada sebuah aplikasi yang prosesnya sangat lambat selama waktu pendemoan akan membuatnya memulai berhitung dengan suara keras.

“Satu seperseribu.”

“Dua seperseribu.”

Page mendorong para eksekutif seniornya berusaha dengan cara yang sama seperti yang dia dan Brin lakukan. Dalam rapat perekrutan baru, satu dari dua co-founder akan sering memprovokasi pendapat di dalam bisnis atau memutuskan suatu produk. Kemudian mereka akan duduk kembali, sambil melihat diam-diam para pemimpin tersebut saling memotong pembicaraan. Segera ketika argumen yang terjadi tampak berputar-putar saja, Page akan berkata,”Saya tidak ingin membicarakan hal ini lagi. Langsung jalankan saja.”

Bukan berarti dia seseorang yang kejam. Hanya saja dia terhubung dengan orang-orang melalui ide mereka, bukan perasaan mereka.

Sebelumnya kepala SDM Google Heather Cairn mengingat pernah suatu kali menyaksikan Page berbicara serius dengan pekerja janitor Google setelah jam kerja.

Dia kemudian bertanya pada Page apa yang mereka bicarakan dengan serius sebelumnya.

“Saya ingin tahu bagaimana setiap orang melakukan pekerjaannya,” jawabnya, pergi mencari penjabaran rinci tentang metode janitor dimana dia menempatkan kantong plastik sampah kosong di masing-masing bawah tong sehingga dia dapat dengan mudah menggantinya.

“Itu sangat efisien,” Page mengakuinya, “dan dia bisa menghemat waktu ketika mengerjakannya dan saya belajar dari hal itu.”

Page bukanlah tipe anak yang suka bersosialisasi. Namun di kampus dan setelah lulus, dia mampu menjalin hubungan dengan orang-orang melalui abstraksi eksternal, yaitu: pandangan tentang masa depan, teknologi-teknologinya yang mengagumkan. Di Google, dia tetap berinteraksi dengan para karyawan pada level ini. Dia menjalankannya tanpa penghargaan terhadap perasaan.

Saat ditanya tentang pendekatannya menjalankan perusahaan, Page suatu kali pernah memberitahu para Googler metode tentang bagaimana menyelesaikan masalah kompleks dengan menguranginya menjadi dua buah, kemudian sederhananya memilih opsi yang terbaik. Apapun kerugiannya dia memandangnya sebagai resiko tambahan yang mampu dia tanggung sepenuhnya.

Ketika Page datang ke Stanford, setelah mengambil gelar sarjananya di departemen komputer sains Universitas Michigan, dia memperkirakan bahwa dia harus memilih antara menjadi seorang akademisi atau membangun sebuah perusahaan. Memilih menjadi pendiri perusahaan berarti melepaskan kesempatan untuk menjadi penemu suatu aplikasi yang bisa digunakan secara luas. Namun membangun sebuah perusahaan akan memaksanya berurusan dengan orang-orang dalam bentuk yang tidak dia sukai. Di awal-awal tahun Google, dia mendapatkan kedua pilihan terbaiknya: Dia telah membuat sebuah produk yang digunakan oleh banyak orang, dan dia menciptakan budaya antarpribadi yang sangat berfokus pada ide dan hasil daripada basa-basi emosional.

Selama bertahun-tahun, Google berkembang dengan manajemen jenis ini.

Bagi para karyawan, suasana pertarungan seperti ini adalah harga yang masuk akal dibayar untuk bisa bekerja pada perusahaan dengan tujuan jelas dan nyata.

Bahkan dalam lingkungan yang meninggalkan jejak memar, ide yang solid menjadi pemenangnya. Di buku “In The Plex,” Steven Levy menceritakan kisah bagaimana di tahun 2000, Google merekrut manajer produk asosiasi bernama Wesley Chan dan menugaskannya membangun sesuatu yang disebut dengan Google Toolbar, sebuah cara bagi pengguna mencari sesuatu tanpa perlu membuka Microsoft Explorer. Chan memperkirakan tidak ada seorangpun yang menggunakannya karena tidak memberikan sesuatu yang spesial bagi pengguna. Dia memutuskan berfungsi ganda sebagai pemblokir pop-up iklan.

Dia mengajukan ide tersebut kepada Page dalam sebuah rapat.

“Itu adalah hal terbodoh yang pernah saya dengar!” reaksi Page. “Darimana kami menemukan anda?”

Chan pantang mundur, namun begitu, segera setelah itu, dia diam-diam memasang Toolbar yang telah diperbaharui dalam komputer Page. Ketika Page kemudian menyinggung dia melihat lebih sedikit pop-up iklan dalam sebuah ruangan yang penuh dengan orang-orang, Chan memberitahunya mengapa. Program Toolbar sedang digunakan.

Page akhirnya menulis beberapa peraturan dalam manajemen:

  • Jangan melimpahkan pekerjaan : Lakukan semua yang bisa anda lakukan sendiri untuk membuatnya menjadi lebih cepat.
  • Jangan menghalangi jalan jika anda tidak memberikan manfaat. Biarkan orang-orang melakukan pekerjaan dan pembicaraan satu sama lain dimana anda bisa pergi melakukan hal yang lain.
  • Jangan menjadi seorang birokrat.
  • Ide lebih penting daripada umur. Hanya karena seseorang adalah seorang pemula tidak berarti mereka tidak berhak mendapatkan penghargaan dan kerjasama.
  • Hal terburuk yang bisa anda lakukan adalah menghentikan seseorang melakukan sesuatu dengan mengatakan, “Tidak ada waktu.” Jika anda mengatakan tidak, anda harus membantu mereka menemukan jalan yang lebih baik untuk menyelesaikannya.

Basa-basi interaksi sosial bukan hanya peraturan yang suka dilanggar oleh Page.

Di tahun 1999, sebagai contoh, penambahan ruang server oleh perusahaan Web besar seperti eBay, Yahoo dan Google menjadi sesuatu yang hampir rutin. Mereka membeli server dan memasangnya di dalam ruang penyimpanan seperti kandang raksasa yang dimiliki oleh vendor pihak ketiga. Perusahaan penyimpanan akan membayarkan biaya listrik untuk menjaga server tetap hidup dan pendingin udara untuk menjaganya tetap dingin, dan para pemilik website akan membayar ruang berdasarkan meter persegi. Page memperkirakan jika Google diharuskan membayar per meter persegi, dia harus menempatkan sebanyak mungkin server dalam ruang tersebut. Dia mulai memisahkan server dan mulai mencari cara untuk menciutkannya. Hal pertama yang dilakukan? Cabut semua perangkat saklar listrik.

“Mengapa anda perlu mematikan sebuah server?” Pertanyaan yang pernah dia sampaikan.

Melucuti komponen yang tidak berguna dan mengepaskannya dengan papan gabus untuk menjaga kabel saling menyilang, Google mengembangkan server baru super ramping. Mereka tampak jelek. Namun sebelumnya, Google harus membayar dengan harga yang sama untuk menempatkan 1500 host server dimana rival awal mereka Inktomi hanya bisa menempatkan 50 host server. Sebagai hasilnya, pencarian Google berjalan lebih cepat, dan Inktomi, bersama banyak rival Google lainnya, hilang dalam debu.

Dibalik semua kesuksesan mengagumkannya menjalankan Google selama dua tahun pertamanya, Larry Page hampir kehilangan pekerjaannya.

 

Dalam Padang Tandus

Di paruh pertama tahun 1999, Google mengalami lonjakan popularitas yang sangat besar. Pemakaian layanan Google yang membludak mengharuskan tambahan modal baru untuk investasi server dan pertumbuhan karyawan. Namun Google masih belum mampu menghasilkan uang.

Sejalan dengan pencarian investor baru, Page mengajukan satu syarat utama: Dia dan Brin tetap menguasai sebagian besar saham dan secara penuh memegang kendali Google.

Awalnya, para kapitalis pemberi modal Silicon Valley mentertawakan gagasan tersebut.

Google terus berkembang dan tertawaan tersebut pun hilang. Lama sebelumnya, dua perusahaan pemberi modal terkenal – Kleiner Perkins dan Sequoia Capital – Setuju menggabungkan investasi dengan nilai $25 juta sesuai syarat yang diinginkan Page.

Namun para investor memiliki syarat sendiri. Sebagai timbal balik memperbolehkan Page dan Brin mempertahankan kepemilikan mayoritas atas Google, mereka ingin agar Page (26 tahun) mundur sebagai CEO. Mereka ingin agar dia merekrut pemimpin yang lebih dewasa.
Seperti yang dilaporkan oleh Steven Levy, John Doerr, mitra dari Kleiner Perkins, memberitahu Page bahwa CEO kelas dunia akan mengerjakan pekerjaan yang lebih baik dalam membangun tim manajemen kelas dunia.

Page menyetujuinya. Google sedang membutuhkan uang saat itu.

Beberapa bulan setelah kesepakatan terjadi, dimana tidak ada jalan bagi para investor menariknya kembali, Page memanggil Doerr dan memberitahukan para pemberi modal bahwa dia dan Brin mengalami perubahan pikiran.

“Kami sebenarnya berpikir bahwa kami bisa menjalankan perusahaan dengan dua orang dari kami,” kata Page.

Mungkin awalnya Page memang setuju dengan Doerr bahwa Google memerlukan seorang CEO kelas dunia, hanya agar dia bisa mengubah keyakinannya. Tapi mungkin tidak.

Page memang tipe orang yang ingin mengendalikan sesuatu sendiri. Seorang teman kampus memberitahu Levy bahkan ketika di Universitas Michigan, Page adalah seorang yang “paranoid dan suka mengendalikan,” karena dia ingin “segalanya berjalan dengan baik dan benar.”

Di tahun 1988, Page dan Brin memutuskan mengajak delapan karyawan Google saat itu dalam acara perlajanan ski ke danau Tahoe. Ketika mereka menyewa sebuah mobil van, mereka mengetahui bahwa mereka bisa menghemat $2,5 per hari jika mereka menunjuk seorang sopir. Page mengajukan dirinya sendiri. Dia mengendarai mobil sepanjang hari dimana yang lainnya bermain permainan matematika di belakang kursi penumpang.

Itu adalah pemberian, tulis Douglas Edwards. “Larry tidak ingin menempatkan hidupnya di tangan orang lain.”

Kebenarannya adalah, Page tidak berpikir bahwa dia membutuhkan bantuan untuk menjalankan Google – setidaknya tidak melampuai bantuan yang bisa diberikan oleh Brin – dan dia menjelaskan hal tersebut kepada para investor baru.

Perkiraan Doerr salah. Sangat jelas baginya bahwa Page masih belum siap untuk memimpin perusahaan besar, dan cara dia menyakinkan pandangannya pada masalah tersebut tidak memberikan kenyamanan.

Dia menyarankan Page untuk bertemu dengan beberapa CEO perusahaan teknologi besar – Steve Jobs dari Apple, Andy Grove dari Intel, Jeff Bezos dari Amazon – dan bertanya langsung tentang bagaimana mereka bekerja. Doerr pikir Page akan bisa diyakinkan dan membantunya.

Page langsung setuju.

Setelah semua pertemuan tersebut, dia memanggil Doerr dan memberikan beberapa informasi yang mengejutkan. Page sudah diyakinkan bahwa Google bisa saja merekrut CEO. Namun hanya apabila CEO tersebut adalah Steve Jobs.

Tentu saja hal itu tidak akan terjadi – namun Doerr lega mendengar bahwa Page percaya ada seseorang di dunia ini yang bisa memberi bantuan. Bersama-sama, mereka mulai melakukan wawancara para kandidat lain. Doerr memperkenalkan Page dan Brin kepada CEO dari Novell, Eric Schmidt.

Page menyukai Schmidt. Tidak seperti kebanyakan eksekutif, Schmidt sebelumnya adalah programmer. Dan faktanya, beberapa tahun lalu dia menulis kode untuk sebuah program pendukung yang masih Google pergunakan. Brin menyukai Schmidt karena dia adalah seorang “Burner,” sebutan untuk peserta yang menghadiri festival tahunan Burning Man yang diadakan di gurun Nevada.

Google merekrut Schmidt. Dia bergabung sebagai chairman di bulan Maret 2001 dan menjadi CEO di bulan Agustus.

Page mengikuti perubahan yang terjadi namun tidak terlalu senang dengannya. Dia resah tentang kedudukannya dalam susunan yang baru – jabatannya akan menjadi presiden produk – dan bahkan mulai bertanya-tanya apakah dia menjadi tidak diperlukan di perusahaan yang dia dirikan.

Itu adalah masa yang tidak pasti, ketika Page membawa Google kedalam perombakan organisasinya yang salah arah, dan dengan cepat membuktikan bahwa apa yang telah Doerr lakukan merupakan hal yang benar.

Page mungkin memiliki keinginan tertentu dalam perubahan tersebut: yaitu menyingkirkan manajer yang mungkin memberi laporan langsung kepada Schmidt, sebagai suatu upaya agar Page bisa tetap memiliki kendalinya.

“Saya tidak dapat memikirkan apapun, dimana orang-orang yang ada di Google begitu kecewa tentang hal itu – setidaknya para teknisi,” mantan teknisi Google dan perancang Gmail Paul Buchheit memberitahukan Edwards. “Orang-orang memiliki perasaan saling memiliki perusahaan yang membuatnya menjadi keluarga besar yang bahagia. Anda merasa, “Bukan hal seperti ini yang kami pikirkan. Saya pikir kami semua berada bersama-sama di dalamnya.”

Google telah menempuh perjalanan yang cukup lama bersama Page yang menjalankannya seperti permainan hockey yang disilangkan dengan defense tesis. Tetapi diam-diam, para karyawan Google merasa bergairah memiliki pemimpin yang lebih tangkas. Sentuhan empatik mulai berjalan saat ini.

 

Untuk Itulah Schmidt Ada

Dalam beberapa tahun berikutnya, Google tumbuh menjadi sebuah bisnis global yang masif.

Selalu berkonsultasi dengan Page dan Brin, Schmidt menjaga segalanya tetap dalam jalur dan bahkan melunasinya. Dia merekrut sebuah tim eksekutif, membangun kekuatan pemasaran dan membawa Google menjadi perusahaan publik.

eric schmidt

eric schmidt

Semua orang di dalam Google masih tetap menghormati Larry Page sebagai bos tertinggi mereka. Dia menyetujui semua perekrutan, dan adalah tanda tangannya yang dicantumkan dalam hari ketika Google memulai penawaran publiknya (IPO), pada 19 Agustus 2004, yang membuat ratusan orang menjadi jutawan – dan Page sendiri menjadi milyuner.

Namun secara bertahap Page menjadi semakin jauh, menjadi figur boneka. Menggunakan peribahasa saat awal-awal Google berjalan, Page tidak lagi mengemudikan mobil van. Dia memperkerjakan seorang sopir dan tidur dibelakang kursi penumpang.

Itu adalah pengunduran diri yang pelan-pelan. Selama tahun pertamanya, Page mempererat perannya di divisi pengembangan produk Google.

Salah satu usaha Schmidt setelah bergabung sebagai CEO di bulan Agustus 2001 adalah menyakinkan Page bahwa Google perlu merekrut seorang wakil presiden manajemen pengembangan produk. Page berpikir bahwa peran tersebut tidak dibutuhkan.

Meskipun demikian, Schmidt terus membujuknya agar merekrut Jonathan Rosenberg untuk pekerjaan tersebut. Rosenberg berasal dari [email protected], startup terkenal yang didanai besar-besaran dan gagal di akhir tahun 1990-an.

Namun meskipun Rosenberg mendapat pekerjaan dan jabatan tersebut, bukan berarti Page akan memberinya ruang di Google.

“Saya akan datang ke rapat staff dengan agenda yang sudah terstruktur, penelitian pasar yang perlu kami lakukan, satu-dua tahun gambaran arah yang perlu kami bangun, dan Larry pada dasarnya akan mencemooh mereka dan saya,” kata Rosenberg kepada seorang wartawan.

Rosenberg juga mengalami kesulitan merekrut manajer produk. Dia terus membawa para lulusan S2 terbaik dari Harvard dan Stanford, dan Page selalu menolak mereka.

Rosenberg seringkali memberitahu Page bahwa apa yang dia lakukan adalah salah.

Page memberitahunya agar berhenti menyuruh para teknisi apa yang harus dilakukan – dan berhenti mencoba merekrut orang yang bukan teknisi untuk mengerjakannya.

Salah satu wanita kepercayaan Page di Google, seorang eksekutif yang tengah menanjak bernama Marissa Mayer, akhirnya memberi petunjuk kepada Rosenberg, sama seperti yang diberitahu Levy. Dia harus berhenti mencoba merekrut lulusan S2 sebagai manajer produk dan mulai mencoba merekrut lulusan komputer sains dengan ketertarikan dalam bisnis.

Satu-satunya cara agar Page melonggarkan ketentuannya dan mengijinkan adanya lapisan manajemen antara dia dan para teknisi Google adalah jika lapisan tersebut diisi oleh para teknisi lainnya.

Rosenberg menerima saran tersebut dan hasilnya diterima. Segera Google akhirnya memiliki pasukan tempur manajer produk. Page mengambil satu langkah mundur.

Beberapa tahun dari karir Rosenberg di Google, dia bertemu dengan ibu Larry Page. Anaknya sedang mengantarkan ibunya melihat-melihat di dalam kampus.

“Apa yang dia kerjakan?” tanya ibu Page tentang Rosenberg.

“Jadi, pada awalnya aku sendiri tidak yakin,” Page memberitahunya. “Namun aku memutuskan bahwa dia adalah alasanku kadang memiliki waktu luang.”

 

Kehadiran yang Memudar

Tidak ada satupun diantara ini yang mengatakan Page pernah berhenti memberi pertimbangan, persetujuan, dan kontribusi pada produk Google yang dikirimkan.

Bersama dengan Brin, Page mengendalikan sebagian besar pembagian saham perusahaan. Pada dasarnya, dia yang memiliki perusahaan. Dia melakukan pekerjaan pada produk yang menarik baginya dengan cara yang orang-orang tidak sukai. Dan sebagai tambahan, dia memang ahli dalam hal ini.

Sebelum Google meluncurkan Gmail di 2004, pembuatnya, Paul Buchheit, membawanya ke ruangan kubus untuk ditinjau.

Ketika Buccheit menjalankan program tersebut di komputer Page, wajah bosnya menyiratkan sesuatu.

“Itu terlalu lambat,” kata Page

Buccheit tidak setuju. Hanya waktu normal dalam proses, katanya.

Tidak, Page tetap bersikeras. Membutuhkan waktu sampai 600 milisecond agar halaman tersebut tampil.

“Anda tidak dapat mengetahuinya dengan pasti,” kata Buchheit. Namun ketika dia kembali ke kantornya, dia melihat lagi catatan log dalam server. Memang tepat membutuhkan 600 milisecond bagi Gmail untuk menampilkan halaman.

Page masih turut memberi keputusan dalam strategi besar langkah awal seperti penawaran multimilyar-dolar Google untuk pembelian frekuensi spectrum wireless dan $1.65 milyar dalam proses akusisi situs bagi video Youtube di tahun 2006.

Namun bagi para Googlers, Page terlihat seperti tidak banyak terlibat dalam harian kerja manajemen perusahaan.

Ketika Eric Schmidt mengadakan rapat besar dengan laporan langsungnya, sebuah grup yang disebut Komite Operasi atau OC, Page akan hadir namun dia akan berada di depan laptop sepanjang waktu. Brin juga akan melakukan hal yang sama.

Keduanya tidak akan ikut berpartisipasi dalam rapat sampai Schmidt berkata, “Boys, saya perlu perhatian kalian sekarang.” Lalu Page dan Brin akan melihat dan menawarkan opini yang tajam pada masalah yang sedang dihadapi. Secara karakteristik, Page akan menawarkan perumpamaan dua pilihannya sambil memandang ke pojok kosong di dalam ruangan.

Pada beberapa kesempatan, Page akan terlalu bersemangat, dan Schmidt dengan hati-hati mengingatkannya agar tidak melanjutkannya dan berkata, “Kami mendengar anda Larry. Terima kasih.”

Pada beberapa masalah, pendapat Page sering diabaikan begitu saja. Sebagai contoh, setelah Google menjadi bisnis periklanan internet paling sukses, Page memutuskan perusahaan harus menghilangkan agen industri periklanan. Pada pemikirannya, periklanan jelas merupakan sistem yang sangat tidak efisien yang dapat dihapus dengan bantuan teknologi. Tidak hanya tidak mengambil opsi ini dalam pertarungan terbuka, bahkan Schmidt dan para top eksekutif periklanan, Tim Armstrong dan Sherly Sandberg, melakukan usaha sebaik-baiknya untuk memastikan tidak ada seorangpun dari banyak klien agensi iklan penting Google mendengar hembusan kabar angin ide Page mengenai topik tersebut.

Seiring waktu, Page mulai banyak menghargai usaha Schmidt. Tujuan Page sendiri adalah untuk menemukan sesuatu yang membuat dunia menjadi lebih baik dan melihatnya bisa dikomersialisasikan dengan tepat. Pencarian Google telah dilakukan seperti yang diinginkan dahulu sebelumnya, dan Schmidt telah memainkan peran yang besar membangun jenis perusahaan yang mampu mengambil keuntungan finansial dari pandangan Page. Dia tidak seperti penjahat yang membuat hidup Nikola Tesla menderita.

Sebanding dengan semakin nyamannya dengan Schmidt, posisi Page semakin menyurut lebih jauh.

Di tahun 2007, dia memutuskan bahwa dia terlalu banyak menghadiri rapat. Dia cenderung menolak permintaan tersebut, namun para eksekutif Google yang menginginkan masukan darinya menemukan sebuah solusi – mengirimkan undangan rapat langsung kepada asistennya, yang akan patuh mengisinya dalam jadwal kalender. Jadi Page menyingkirkan asistennya. Ini memaksa orang-orang yang ingin bertemu dengan Page harus menguntitnya di dalam kantor Google. Pada situasi ini, kekurangannya bersosialisasi bisa dimanfaatkan dengan baik. Dia pandai dalam melewatkan bertemu orang-orang dengan anggukan ramah diatas bahu sementara dia terus berjalan.

Dia juga menjadi bosan memberikan wawancara dalam perekrutan. Di tahun 2008, Page memberi tahu tim komunikasi Google bahwa mereka dapat menggunakan total delapan jam waktunya di tahun itu. Mengapa dia harus berbicara dengan dunia luar?

Untuk itulah Schmdt diperlukan.

 

Mungkin Masih Ada yang Bisa Kita Lakukan

Suatu hari di akhir tahun 1998, kepala SDM Google pertama, Heather Cairns, berjalan masuk ke garasi kantor dan menemukan Larry Page dan Sergey Brin bermain Lego.

“Hal aneh apa yang sedang kalian lakukan?” tanya Cairns, sedikit kurang ajar namun dalam cara yang menyenangkan. Alat aneh yang ada di meja di depan Page memiliki lengan robot dengan roda karet dibawahnya.

“Kami sedang membayangkan bagaimana membalik sebuah halaman dalam buku tanpa tangan manusia,” Jelas Page. “Suatu saat kami akan menyebarkannya kepada seluruh dunia di internet sehingga setiap orang bisa menggunakannya.”

“Tentu,” kata Cairns. “Tentu.”

Tidak lama setelah itu, Page menghabiskan sepanjang waktu berkendara dengan mobil mengelilingi Palo Alto dengan alat pemegang kamera kecil. Dia berkendara beberapa meter, dan kemudian berhenti untuk mengambil beberapa foto. Kemudian dia berjalan beberapa meter lagi dan melakukannya lagi. Dia kemudian pulang dan mengunggah semua gambar ke dalam komputernya. Apa yang dia lihat menyakinkan dirinya bahwa ide besarnya bisa diwujudkan. Google dapat menempatkan beberapa kamera dalam beberapa mobil dan kemudian berkendara ke setiap jalan di seluruh dunia, mengabadikan semua jalan dalam foto. Hasilnya berupa bentuk digital, gambaran pencarian dari seluruh dunia fisik – atau bagian paling relevan dari hal itu – yang tersedia secara online.

Selama tahun kepemimpinan Schmidt, baik proyek buku dan foto akan menjadi produk Google yang populer. Google Books, diluncurkan di tahun 2003, telah mencakup 20 juta volume dan semakin terus bertambah. Google Street diluncurkan di tahun 2007 dan tahun 2014, membuat setiap jalan besar di 50 negara bisa dilihat dari hampir semua perambah Web di planet ini.

Bahkan pada awal-awal berdiri, Page selalu ingin agar perusahaan tidak hanya bisa melakukan pencarian Web dasar. Sejak dia masih kecil, dia telah memimpikan rencana perubahan pada dunia. Sebagai lulusan dari Universitas Michigan, dia mengajukan saran agar sekolah mengganti sistem busnya dengan sesuatu yang dia sebut sistem PRT (Personal Rapid Transit) – yang esensinya sebuah monorail tanpa sopir dengan mobil terpisah untuk setiap pengendara. Kelak, di Stanford, dia menghujani pembimbingnya, Terry Winograd, dengan ide tesis yang terdengar seperti beberapa rencana yang dimiliki oleh Tesla. Salah satu ide termasuk membangun sebuah tali yang sangat panjang yang mengelilingi permukaan bumi sampai ke orbit, membuatnya lebih murah untuk menempatkan suatu objek di ruang angkasa. Proposal lainnya menyebutkan layang-layang solar yang mendapatkan energi dari ruang angkasa.

Dengan Google yang saat ini esensinya mencetak uang dari iklan dan Schmidt mengatur kestabilan pertumbuhannya, Page mulai menyadari bahwa dia akhirnya dalam posisi bisa mewujudkan visinya.

Di 2015, salah satu bayangan Page adalah membuat komputer yang bisa mengakses Google yang bisa dibawa kemana saja dengan tangan dalam setiap kantong orang-orang yang ada di planet ini. Jadi, pada tahun itu, Page meminta pengembang Google korporat membeli sebuah startup kecil dengan ambisi besar yang sama menggelikannya. Startup ini adalah Android. CEO dan co-foundernya adalah Andy Rubin, seorang mantan eksekutif Apple yang juga mengembangkan telepon populer yang terkoneksi dengan internet namun gagal yang disebut dengan Sidekick.

Akusisi Android adalah hasil kerja dari Larry Page. Page tidak memberitahu Schmidt tentang perjanjian transaksi ini sampai semuanya selesai yang dalam prosesnya menghabiskan uang perusahaan sekitar $50 juta. Brin mengetahui semua hal itu, namun ketertarikannya tidak terlalu banyak.

Page mengembangkan Android sebagai entitas yang terpisah, satu-satunya yang secara namanya saja sebagai bagian dari Google, dan membuat Rubin leluasa menjalankannya tanpa gangguan dari induk perusahaan. Android bahkan memiliki bangunannya sendiri, dimana karyawan Google reguler sendiri tidak bisa memasukinya walaupun sudah menggunakan tanda pengenal. Schmidt sendiri bersikap seperti entitas ini tidak ada, sebagian besar dikarenakan $50 juta bukanlah tumpukan uang yang cukup banyak yang perlu dikhawatirkannya jika digunakan dengan baik.

Dilihat dari sisinya, Page menjadikan Android sebagai proyek passionnya. Dia menghabiskan banyak waktu dengan Rubin, begitu banyaknya sehingga membuat dia merasa bersalah karena dia tidak mengawasi Google dengan lebih dekat. Tapi kembali lagi, untuk itulah Schmidt ada di Google.

Selama dua tahun berikutnya, Rubin mengembangkan apa yang dia pikir akan menjadi bentuk sesungguhnya sistem operasi mobile.

Lalu, dalam perjalanannya di tahun 2007 ke Las Vegas, Rubin membuka laptopnya di dalam taxi untuk menyaksikan presentasi Steve Jobs tentang ponsel internet versi Apple.

Itu adalah iPhone, dan sungguh sangat mengagumkan.

Benar-benar celaka, pikir Rubin. Kami harus membuat ulang ponsel kami.

Rubin meminta sopir taxi untuk segera kembali agar dia bisa menyaksikan sisa presentasi yang dilakukan Steve Jobs.

Setahun kemudian, di bulan September 2008, T-Mobile meluncurkan G1, ponsel yang pertama kali menggunakan software yang dikembangkan oleh tim Rubin. Sistem operasinya terlihat dan berjalan seperti turunan iPhone. Namun produk turunan yang bagus, dan gratis bagi para pembuat ponsel yang ingin memasangnya.

Penyebaran sistem operasi ini seperti perlombaan manufaktur yang berupaya mengejar Apple dan mencoba tetap bisa bersaing dengan operatornya AT&T, satu-satunya penyedia jaringan bagi iPhone. Pada kuarter kedua tahun 2009, ponsel Android mampu mengambil 1.8% seluruh penjualan dunia. Pada kuarter yang sama di tahun 2010, penjualan Android mencapai 17.2% target pasar, melebihi Apple yang hanya mencapai 14% untuk pertama kalinya. Segera setelah itu, Android menjadi sistem operasi paling populer di seluruh dunia.

Di 2010, Page telah menjadi pemain kunci dalam menciptakan dua bentuk teknologi yang penggunaanya ada dimana-mana dan bisa dikatakan telah meningkatkan kualitas kehidupan orang-orang di seluruh dunia. Google, yang dimulai sebagai proyek tesis, telah membantu menjadikan internet sebagai alat yang luar biasa bermanfaat setiap saat bagi penggunanya. Lalu, tanpa adanya pengawasan orang dewasa, Page membesarkan pengembangan Android. Dan saat ini, Android telah membuat smartphone menjadi komoditas murah yang mana hanya masalah waktu sampai semua orang di planet ini memiliki sebuah komputer mini yang terkoneksi dengan internet.

Berhasil mencapai sesuatu yang terdengar seperti kesuksesan kedua (sebagai seorang manajer saat itu) memberikan Page kepercayaan diri pada kemampuan kepemimpinannya sendiri. Page cukup sadar diri mengetahui ketika di awal karirnya dia kurang bagus memberi keputusan. Dia bersyukur mampu menjalankannya bersama Rubin.

Page selalu memiliki masalah dalam mempercayai orang-orang. Namun hal itu telah berubah. Mungkin karena saat ini dia telah memiliki keluarga. Di bulan Mei 2009 pada acara penyerahan ijazah Universtias Michigan, Page berbicara tentang ayahnya, ibunya, istrinya yang baru dinikahinya Lucy Southworth, dan anak mereka. “Sama seperti saya, keluarga anda membawa anda ke tempat ini, dan anda membawa mereka ke tempat ini, “Ingatlah agar tetap dekat dan mengingat mereka: Mereka adalah hal yang berharga dalam hidup ini.”

Disaat Android mulai mem-booming dan Page semakin dewasa, bisnis inti Google dalam pencarian dan periklanan semakin mekar dalam manajemen Schmidt. Di 2010, Google telah memiliki $180 milyar pasar dan 24.000 karyawan. Ini adalah perusahaan yang besar.

Dan hal ini juga membuat mereka memiliki beberapa masalah yang hanya dimiliki oleh perusahaan besar. Wartawan New York Times Claire Cain Miller memberikan jabaran beberapa diantaranya dalam artikel bulan November 2010 yang berjudul “Google Grows, and Works to Retain Nimble Minds” atau “Pertumbuhan Google dan Tugas Untuk Mempertahankan Kegesitannya.”

Dalam kisahnya, Miller mengutip beberapa pendapat karyawan dan mantan karyawan Google yang mengatakan bahwa perusahaan menjadi terlalu birokratis dan membengkak. Dia menulis bahwa Google membatasi jumlah grup teknisi yang bekerja dalam proyek menjadi 10, namun angka tersebut membengkak menjadi 20 atau bahkan 40 dalam tahun-tahun ini. Lebih parah lagi, dia melaporkan, “Para teknisi mengatakan didorong untuk membangun sedikit produk baru dan fokus kepada peningkatan produk yang sudah ada.”

Salah satu manajer proyek memberitahu kepadanya bahwa mungkin ini adalah waktu untuk berhenti dari Google karena semua orang yang dia kenal menyalin semua emailnya. Dia berkata, “saya kira terdapat golongan orang-orang yang mampu berjalan lama dengan kemudahan ini, dan dengan penghasilan yang tetap karena mereka begitu puas dengan proses yang ada dalam perusahaan besar.”

Manajer produk lainnya memberitahu Miller dia sedang mempertimbangkan pengunduran diri karena bekerja di Google berarti bekerja pada produk yang mendapat sedikit perhatian publik.

Miller bahkan mengutip perkataan Schmidt yang berkata dia mengkhawatirkan situasi ini.

“Terdapat waktu ketika tiga orang di Google bisa membangun produk kelas dunia dan mewujudkannya, dan lalu hilang begitu saja,” kata Schmidt dalam kisahnya.

Ketika artikel Miller dipublikasikan, Schmidt sangat marah. Seorang pembicara Google meminta artikel tersebut ditarik dan meminta Miller menghapusnya (dia tidak melakukannya).

Disamping birokrasi, Schmidt juga harus berurusan dengan masalah perusahaan besar lainnya di tahun 2010. Mereka bukanlah kekuatan besar baru lagi di Silicon Valley. Facebooklah yang menjadi kekuatan baru tersebut.

Di 2007, seorang manajer produk bernama Justin Rosenstein berhenti dari Google agar dapat bekerja di Facebook. Dia kemudian menulis memo kepada temannya yang pernah bekerja di Google yang mengibaratkan Facebook sebagai “Google pada era terdahulu … bahwa perusahaan tersebut dalam puncak perjalanan memberikan “Perubahan Pada Dunia,” yang masih cukup kecil dimana masing-masing karyawan memiliki dampak yang besar dalam organisasi.”

Di 2010, 142 dari 1.700 karyawan Facebook adalah pengungsi dari Google.

Diantara para senior eksekutif Google lainnya, perusahaan mengalami kemunduran dalam bentuk lain. Schmidt tidak pernah merombak perdebatan secara menyeluruh, cara panas diantara para jajaran pemimpin atas untuk menghasilkan keputusan dari era Page. Selama satu dekade berjalan, perselisihan terus terjadi membuat para eksekutif menjadi rival yang menolak untuk bekerja satu sama lain.

Di musim gugur 2010, Page merasakan semua kelemahan baru di Google. Dia juga merasakan masalah lain yang dia temukan lebih mengkhawatirkan: Di bawah kesuksesan kepemimpinan Schmidt, perusahaan mengalami kemunduran ambisi.

Di 2009, Google berhasil mendapatkan keuntungan $6.5 milyar dan memiliki 20.000 karyawan. Page melihat angka-angka tersebut dan berpikir, kita memiliki semua uang ini, kita memiliki semua orang-orang ini; mengapa kita tidak membuat hal lainnya lagi?

Dia tidak dapat mengerti bagaimana satu-satunya hal besar yang Google kerjakan belakangan ini adalah Android, yang mana hal yang tidak terlalu diperhatikan oleh Schmidt.

Page telah memiliki pernikahan yang bahagia dan kurang lebih di mata umum, sedang menikmati hidupnya sebagai seorang visioner dibelakang layar panggung Google. Namun dia mulai bertanya-tanya apakah Schmidt adalah orang yang tepat memimpin perusahaan di masa depan.

Belakangan di tahun itu, Page duduk untuk sebuah wawancara bersama Steven Levy yang nanti akan dijadikan buku karanngan Levy, “In The Plex.” Levy bertanya pada Page apakah dia berharap dapat menjadi CEO kembali. Page memberikan jawaban datar. “Saya benar-benar menikmati apa yang saya kerjakan,” katanya. “Saya kira saya mampu memberi dampak positif bagi banyak hal, yang mana membuat saya merasa lebih baik dan saya tidak melihat perubahan dalam hal itu.”

Kemudian dia berdiri dan meninggalkan ruangan. Wawancara telah berakhir.

Satu menit kemudian, Page kembali lagi. Dia berkata kepada Levy, “Saya hanya merasa orang-orang tidak bekerja cukup memuaskan pada hal-hal yang memberikan dampak.” Dia berkata bahwa Google “belum menjalankan tugasnya dengan baik dalam mendapatkan berbagai jenis hal yang kami coba lakukan dan bisa mewujudkannya dengan cepat pada suatu skala tertentu.”

Page menyadari bahwa bisnis iklan pencarian Google, dengan keuntungannya yang luar biasa besar dan tumbuh berkelanjutan, merupakan mesin pencetak uang yang harusnya dimanfaatkan oleh pahlawannya Nikola Tesla untuk mendanai mimpi gilanya. Dan sekarang, dia memiliki kesempatan melakukan hal yang berbeda. Melihat Google mengerjakan apapun yang begitu ambisius bahkan cukup gila membuatnya menjadi sedikit kurang waras.

Kefrustasiannya dapat terdengar dari suara Page ketika dia memberikan sambutan pada upacara penyerahan ijazah Universitas Michigan di tahun 2009. Dia memberitahu para lulusan tentang bagaimana dia dan istrinya pergi ke India beberapa tahun yang lalu. Mereka mengunjungi desa miskin dimana air limbah turun ke jalan. Air limbahnya, kata Page, telah terinfeksi polio – penyakit yang sama yang membuat ayahnya meninggal.

“Dia menjadi sangat kecewa karena polio masih terus ada, meskipun kita sudah memiliki vaksinnya,” kata Page. “Dunia saat ini sudah berada di ambang pintu untuk menghilangkan penyakit polio, dimana sebanyak 328 orang terinfeksi pada tahun ini. Mari kita tuntaskan segera masalah ini.”

Di musim gugur tahun 2010, rasa frustasi Page meledak dalam rapat peninjauan produk. Eric Schmidt, Brin, Page dan para top eksekutif produk juga ada disana bersama senior staffnya masing-masing. Page seperti biasa, duduk diam melihat kedalam ponselnya. Di depannya, seorang eksekutif mempresentasikan sebuah produk baru yang membantu pengguna untuk menemukan toko offline yang tepat untuk kebutuhan berbelanja mereka.

Eksekutif tersebut dengan baik menjelaskannya, ketika tiba-tiba, Page menginterupsinya.

“Tidak,” kata Page dengan empatik. “Kita tidak mengerjakan hal ini.”

Seluruh ruangan menjadi terdiam.

“Kita membuat produk dengan pengaruh teknologi untuk mengatasi masalah besar yang dihadapi oleh ratusan juga manusia.”

Dia menambahkan. “Lihatlah Android. Lihatlah Gmail. Lihatlah Google Maps. Lihatlah Google Search. Itulah yang kita lakukan. Kita membangun produk yang anda tidak bisa hidup dengannya.”

“Ini tidak seperti itu.”

Page tidak berteriak. Dia tidak perlu melakukannya. Pesannya sangat dalam dan jelas.

Pada bulan Desember itu, Page, Brin dan Scmidt bertemu untuk mendiskusikan hal tersebut.

Dalam pengumuman pendapatan Google di tanggal 20 Januari 2011, Schmidt mengumumkan bahwa dia sudah selesai sebagai CEO. Pekerjaan itu sekali lagi dipegang oleh Larry Page.

Schmidt, yang nantinya menjadi chairman eksekutif, mengirimkan sebuah tweet pada hari itu: “Pengawasan orang dewasa sudah tidak lagi diperlukan.”

 

Larry Page yang Berbeda

Page mengambil pekerjaan sebagai CEO dengan determinasi gerak cepat.

Pertama, dia mengorganisasi ulang manajemen senior perusahaan. Dia mengambil sejumlah kecil divisi produk perusahaan paling penting, termasuk YouTube, Ads, dan Search, dan menempatkan seorang manajer yang seperti CEO pada masing-masing divisi. Page ingin mengulangi kesuksesan yang telah dia lakukan bersama Rubin di Android.

Lalu, Page dan Google akhirnya memberikan respon pada ancaman Facebook dengan jaringan media sosialnya sendiri, Google+.

Di akhir musim panas itu, Google melakukan desain ulang semua produknya menjadi satu, menjadi tampilan yang lebih mudah dimengerti.

Di tahun 2012, Page menghabiskan $12.5 milyar untuk membeli Motorola, sebagian besar dikarenakan untuk mendapatkan paten-paten untuk melindungi Android dari tuntutan hukum Apple dan lainnya.

Google mulai menyusup ke bidang hardware atau perangkat keras, memperkenalkan Chromebook, sebuah laptop yang menjalankan sistem operasi Google, dan sebuah komputer futuristik dengan kemampuan Web dimana pengguna dapat menggunakannya seperti kacamata yang disebut dengan Google Glass.

Pada akhir tahun 2012, Google mulai memasang kabel jaringan internet fiber optik di kota Kansas, memberikan koneksi gratis kepada setiap orang di kota tersebut dengan kecepatan 100 kali lebih cepat dibandingkan broadband.

Langkah ini mengejutkan banyak dunia namun tidak bagi yang mengenal Page. Sejak kecil, dia merupakan seorang lelaki dengan mimpi besar yang terdengar mustahil dan melakukan apapun yang dia bisa agar membuatnya terwujud secepat yang dia bisa.

Tidak terlalu lama, walaupun begitu, menjadi cukup jelas bagi orang-orang yang pernah bekerja dekat dengan Page betapa dia telah banyak berubah dalam beberapa tahun hidupnya jauh dari sikapnya yang kaku.

Di Februari 2013, para senior eksekutif Google terbang dari segala penjuru dunia untuk bertemu di Carneros Inn, sebuah resort sederhana di kebun anggur perbukitan Napa Valley. Ini adalah acara tahunan dua hari Google, pertemuan paling rahasia para senior eksekutif.

Diantara peserta yang hadir adalah Susan Wojkicki, yang bertanggung jawab pada bisnis periklanan masif Google, Andy Rubin, kepala divisi Android; Salar Kamangar, CEO YouTube; Sundar Pichai, pemimpin divisi Google Chrome; dan Vic Gundotra, bos Google+. Masing-masing membawa anggota senior staff mereka.

Di hari pertama acara tersebut, semua orang berkumpul di Ballroom Napa dalam Carneros Inn untuk mendengar sambutan dari Page.

pendiri Google Larry Page

Larry Page

Dari suara seraknya, Page memberitahu semua orang yang ada di dalam ruangan bahwa Google memiliki ambisi yang luar biasa tinggi, namun itu tidak akan tercapai jika semua orang yang hadir tidak berhenti berselisih satu sama lain. Mulai saat ini, Google tidak akan memberikan toleransi pada perselisihan. Page mengakui bahwa organisasi di awal-awal kepemimpinannya, menuntut agar pemimpinnya menjadi agresif satu dengan yang lainnya. Dia sendiri mungkin yang paling agresif diantara semuanya.

Namun itu adalah ketika masalah Google adalah masalah yang linier. Sebagai contoh, mereka perlu meningkatkan jangkauan pasar semua produk dari nol hingga dapat bersaing dan memenangkannya. Sekarang, dimana Google telah menjadi pemimpin di sebagian besar kategori produk yang dikompetisikan, perusahaan menghadapi apa yang Page sebut dengan masalah n-kuadrat. Google perlu tumbuh berkembang “10X.” Diperlukan suatu pasar baru untuk mengatasi masalah dengan cara yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Untuk memecahkan masalah n-kuadrat, para eksekutif Google harus belajar bagaimana bekerja sama.

Pidato tersebut mengejutkan para eksekutif Google, khususnya para karyawan veteran. Sejak saat Page dan Brin menyebut setiap ide yang mereka tidak suka dengan sebutan “bodoh” – jika tidak “iblis” – berselisih adalah cara agar sesuatu bisa dituntaskan di Google.

Beberapa dari mereka mengingat hari itu di bulan Juli 2001 ketika Page menghina dan memecat sejumlah kecil manajer proyek di depan rekan-rekan mereka. Namun ketika orang-orang di Ballroom Carneros Inn melihat Page saat itu, mereka melihat seseorang yang tampak sangat berbeda dari seorang anak yang membangun rak server pertama Google di ruangan asramanya. Rambut Page telah berubah menjadi beruban. Dia tampak seperti seorang pria paruh baya dengan beban pada pinggang dan wajahnya. Sebagai hasil dari kelumpuhan pita suara, suaranya menjadi berubah serak dan rendah.

 

Memahami Setiap Keinginan dan Kebutuhan

Di tanggal 19 Maret, 2014, salah satu pendiri Google Larry Page memberikan wawancara dalam konferensi TED di Vancouver, Kanada. Dalam penyampaian pemikirannya, Page dan pewancaranya, Charlie Rose, duduk di kursi panjang di depan panggung dengan sebuah meja diantara mereka.

Wawancara tersebut pada dasarnya sudah dirancang sesuai naskah. Page, kepala eksekutif PR Rachel Whetstone, dan CMO Google Lorraine Twohill, menghabiskan satu hari sebelumnya di kamar hotel Vancouver untuk mempersiapkan presentasi.

Dan sekarang, Page dan Rose mengalihkan pandangan dari para audien ke layar raksasa yang berada diatas mereka tepat di belakang panggung. Di tampilan layar, terdapat sebuah permainan video-game tinju. Salah satu petinju telah memojokkan petinju lainnya ke sudut arena dan tanpa ampun memukul lawannya.

Petinju yang menang dikendalikan dengan program kecerdasan buatan yang diciptakan Google.

Melalui hal ini, Page menjelaskan kepada Rose, bagaimana masa depan Google. Page memperlihatkan bahwa semua kecerdasan buatan Google dapat “melihat” titik pixel yang sama dengan yang dilihat oleh pemain manusia. Mereka bisa mempelajari bagaimana permainan itu berjalan dengan sendirinya. Lihat bagaimana baiknya hal ini berjalan, kata Page. Bayangkan jika jenis kecerdasan ini diterapkan pada kegiatan anda.

Rose, mendengar dengan antusias tapi sedikit bingung, tertawa kecil. Demikian juga, orang-orang yang menyaksikan tidak memahami apa yang Page maksudkan. Persiapan gladi yang dilakukan tidak bekerja baik. Dan tidak ada antara Whetstone ataupun Twohill yang perlu dipersalahkan.

Dalam kemampuannya berinteraksi dengan orang lain, Larry Page telah menempuh jalan yang panjang sejak hari yang canggung di bulan Juli 2001. Namun dia masih kurang begitu bagus sebagai pembicara publik. Semua isi pemikirannya ada disana, namun terkubur dalam ketercampuradukan dari kalimat yang setengah selesai dan penyimpangan penyampaian. Larry Page bukanlah Steve Jobs. Dia bahkan bukan Mark Zuckerberg. Dan sebagai hasilnya, orang-orang tidak menyadari tentang apa, tepatnya, Google dan Larry Page kerjakan saat itu.

Memasuki tahun keempatnya memimpin Google, perusahaan berada pada kondisi yang fantastis. Harga sahamnya berada diatas $700 per-lembar, dan tidak sulit membayangkan bahwa suatu hari pendapatan Google akan melewati $100 milyar per-tahun.

Dan lagi, Page percaya bahwa perusahaan berhadapan dengan pertanyaan yang eksistensial: Dapatkah Google datang dengan bisnis luar biasa lainnya setelah bidang pencarian?

Antara Google Search dan Android, Larry Page dan Google dapat mengambil keuntungan dari penciptaan dua paltform teknologi yang digunakan secara luas oleh milyaran orang-orang di seluruh dunia.

Namun Google memberikan Android secara gratis. Kontribusi Android pada bisnis inti Google adalah menempatkan Google Search dan iklan Google Search dalam setiap kantong dari jutaan orang yang ada di dunia. Jika dirasakan, itu bukanlah bisnis baru yang besar bagi Google, itu hanya perpanjangan dari bisnis primer Google. Google masih memperoleh 90% pendapatannya dari iklan, dimana 70% dari total pendapatan Google datang dari iklan pencarian.

Bagi Page, ini berarti saat ini dia menggunakan banyak waktunya bertanya pada dirinya sendiri seperti apa bentuk masa depan nantinya dan bagaimana Google menciptakannya.

Dia memiliki banyak ide, dan sekarang dia yang mengendalikan, dia memberitahu para teknisinya untuk mengeksplorasi berbagai hal itu.

Dia tidak pernah menyerah pada sistem transportasi yang dia ajukan ketika masih di Universitas Michigan, jadi sekarang dia telah memiliki para teknisi Gogole yang sedang mengerjakan mobil yang bisa berjalan sendiri.

Lalu ada kecerdasan buatan. Disamping mendominasi dalam permainan video-games, Google AI juga mampu melihat semua tayangan YouTube, belajar dari pengalaman dan menggambar sebuah gambar kucing.

Terdapat juga cabang Google yang disebut dengan Calico, yang sedang bekerja memecahkan masalah penuaan dan kematian.

Google memiliki cabang lain, yaitu Google Fiber Inc. yang mengkoneksikan rumah-rumah yang ada di kota Kansas: Austin, Texas: dan Provo, Utah dengan internet 100x lebih cepat dibandingkan jaringan broadband. Google Fiber mungkin akan segera memperluasnya ke sembilan kota lainnya, termasuk Phoenix, Arizona: Charlotte, North Caroline; dan Portland, Oregon.

Di 2013, Page memindahkan Andy Rubin dari jajaran atas Android dan memintanya mengerjakan proyek robot. Page membayangkan sebuah dunia dimana robot bisa melakukan hal seperti menjaga para manula dan mengisi mobil self-driving dengan bahan-bahan makanan dan kebutuhan sehari-hari ketika kita sedang sibuk bekerja. Di akhir tahun 2013, Google membeli sebuah perusahaan yang bernama dengan Boston Dynamic, yang membuat humanoid dan robot binatang – beberapa diantaranya untuk kebutuhan militer.

Dan di tahun 2013 juga, Page bertemu dengan mantan eksekutif Apple Tony Fadell – pria yang mendesain iPod – dan membujuknya menjual perusahaan barunya, Nest, kepada Google senilai $3,2 miyar. Nest membuat thermostat yang terkoneksi dengan internet. Dan baru di bulan ini, Google membeli Titan Aeorspace, sebuah perusahaan yang memproduksi drone.

Di Google, mereka menyebutnya ide besar pelayaran ke bulan. Terdapat banyak lagi diantaranya, dari balon udara gas panas yang memancarkan spektrum internet – menyediakan akses ke wilayah dimana tidak bisa dijangkau – sampai rencana untuk membuat jam tangan yang dibangun dengan sistem Android.

Page mengakui keragaman dan jumlah ide yang sangat banyak meninggalkan keraguan bagi para investor perusahaan. Mereka khawatir: Bisakah Google tetap fokus? Atau mengikuti jejak dari berbagai raksasa teknologi sebelumnya, yang terlalu melebarkan dirinya, mengejar terlalu banyak ide gila? Dan sungguh, siapa yang membutuhkan komputer yang bisa mengalahkan manusia dalam permainan video-game?

Page menjawab kekhawatiran itu dua kali lipat. Pertama, dia percaya akan lebih mudah bagi Google bekerja pada ide besar dibandingkan dengan produk biasa lainnya. Logikanya: Ada sedikit persaingan disana. Juga, orang-orang terbaik akan bekerja di Google karena orang-orang terbaik suka bekerja pada proyek yang ambisius.

Kedua, Page berpendapat bahwa semua rencana ini adalah bagian dari membuat dunia pencarian menjadi lebih baik.

Page memiliki, lebih dari beberapa tahun, dengan sebuah definisi luas seperti apa yang seharusnya Google lakukan.

Di 2012, dia memberitahu wartawan bahwa “mesin pencari yang sempurna akan memahami apapun yang anda inginkan. Mereka akan memahami apapun di dunia ini dengan mendalam dan memberikan kembali kepada anda apa tepatnya yang anda butuhkan.”

Sebagai pembicara kunci dalam konferensi Google di 2013, Page berkata bahwa dalam jangka panjang – “anda tahu, 50 tahun dari sekarang atau sejenisnya” – dia berharap program Google akan mampu “memahami apa yang anda pahami, apa yang tidak, dan bagaimana mengatur dunia sehingga dunia bisa memecahkan masalah-masalah penting yang ada.”

Jadi, dalam bayangan Page, jika anda berjalan di dalam rumah dan merasa kedinginan, gelang Google anda akan menjalankan pencarian untuk memahami perasaan itu. Hasil pencariannya akan berupa thermostat Google anda akan menyalakan pemanas ruangan secara otomatis.

Demikian juga, jika anda kehabisan susu dan lemari es Google anda memberitahukan mobil Google anda untuk pergi mengambilnya dari robot Google yang ada di toko bahan makanan lokal (jelas pembayaran akan bisa melalui Google Wallet), ini semua akan berjalan seperti fungsi pencarian.

Kunci untuk memahami keragaman dalam ide besar yang dimiliki Google adalah dengan memahami pandangan Page pada “pencarian sempurna” hanya bisa bekerja jika semua produk yang anda gunakan saling bisa menyesuaikan satu sama lain.

Sebagai contoh, produk pencarian Google yang paling maju saat ini, Google Now, mampu melakukan hal-hal seperti memperingati pengguna Android bahwa mereka harus pergi sekarang jika tidak ingin terkena macet dan dapat terbang dengan pesawat tepat waktu. Namun ini hanya bisa terjadi dengan mengakses inbox email Android, Google Maps, Google Flight Search, Google Calender, dan tentu saja smartphone pengguna.

Jadi ketika hal ini masih tampak tidak jelas bagi Google untuk masuk ke dalam bisnis yang beragam seperti mobil, thermostat, robotik, dan TV, terdapat sebuah tujuan utama dibelakang semua hal itu: Page membayangkan sebuah dunia dimana semua yang kita sentuh saling terkoneksi dengan pemahaman kecerdasan buatan komputer yang bisa memahami pola dari aktifitas kita dan belajar untuk mengantisipasi kebutuhan kita sebelum kita tahu kita membutuhkannya. Suatu waktu, Page sering berkata beberapa kali, kecerdasan buatan ini akan melekat langsung dengan otak kita – mungkin melalui sebuah implan.

Beberapa dari ide ini akan membuat orang-orang takut jika Page hanya pintar berbicara saja. Bagaimanapun juga dia mengarahkan milyaran dolar uang setiap tahunnya agar bisa mewujudkan ide-ide ini menjadi kenyataan secepat mungkin. Dia sering berkata beberapa kali bahwa Google seharusnya memperkerjakan 1 juta orang teknisi. Dengan semua uang yang dimiliki Google, hal itu mungkin saja.

Berita baiknya bagi dunia tentang tujuan Page mengembangkan kecerdasan buatan dengan keterkoneksiannya yang tersebar yang mampu memahami dan menyediakan segala kebutuhan adalah bukan tentang mengambil keuntungan dari kita.

Dia, pada dasarnya adalah seorang utopian yang bersemangat – seseorang yang percaya bahwa teknologi sangat berpengaruh dalam membuat kehidupan menjadi lebih baik bagi manusia dan akan terus berlanjut sampai seterusnya.

Di sebuah sesi tanya jawab pada konferensi Google 2013, Page memberitahu para peserta yang hadir bahwa di masa depan, orang-orang akan melihat kebelakang tentang bagaimana manusia hidup saat ini dengan cara yang sama bagaimana kita melihat masa lalu leluhur kita yang menghabiskan waktunya berburu dan bertani, seperti “orang gila.”

Di 2014, Page hidup dengan akhir cerita yang berbeda dari buku Biografi Nikola Tesla yang membuatnya menangis ketika dia berumur 12 tahun.

Dibanding membuat hidupnya menjadi melarat dan terabaikan, Page, baru berumur 41 tahun, akan menggunakan setengah kehidupannya menuangkan uang jutaan dolar dan waktu yang tidak terhitung untuk bayangannya yang paling liar.

“Apapun yang anda bayangkan mungkin bisa terlaksana,” kata Page kepada investor Google di tahun 2012. “Anda hanya harus membayangkannya dan juga mengerjakannya.”

 

Catatan Dari Sumber:

Kisah ini berhutang budi dari hasil karya dua penulis buku tentang sejarah Google: Steven Levy dan Douglas Edwards. Buku hasil karya Levy, “In The Plex: How Google Thinks, Works, And Shapes Our Lives,” adalah poin yang krusial dan dilaporkan secara mendalam dan harus dibaca bagi siapa saja yang ingin menyelami pekerjaan di Google lebih dalam melebihi dengan yang ada dalam kisah ini. Para pegawai Google yang pernah bekerja di awal masa pendiriannya, bertanggung jawab tentang cara anda berpikir tentang perusahaan seperti Douglass Edwards, yang selama setahun menulis seluruh kata yang pernah muncul di Google.com. Setelah dia selesai bekerja di perusahaan tersebut, Edwards menulis sebuah buku yang sangat menarik tentang pengalamannya yang berjudul “I’M Feeling Lucky: The Confession of Google Employee Numver 59.” Buku yang harus dibaca bagi siapapun yang penasaran tentang bagaimana rasanya bergabung dengan startup kecil aneh dan berjalan bersamanya sampai ke puncak keberhasilan.

Kisah ini juga berdasarkan wawancara dengan beberapa karyawan dan mantan karyawan Google, orang-orang dari masa lalu Larry Page, dan lainnya dari informasi tangan pertama yang menjelaskan beberapa peristiwa.

Print Friendly, PDF & Email