“Privasi dalam dunia maya mulai semakin disadari sebagai hal yang sangat penting, terutama bagi para remaja. Hal ini tidak lepas dari perkembangan internet yang awalnya hanya sekedar digunakan mencari informasi, berubah menjadi sarana berinteraksi yang bahkan tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari seseorang”

– catatan editor –

Oleh: Elizabeth Segran

Sudahkah Anda melihat studi tentang Privasi di era digital?
Jika anda bertanya-bertanya, adakah alasan bagus mengapa dilakukan studi tentang privasi di era digital, maka anda bisa melihat bahwa setiap beberapa bulan, sebuah hasil studi baru mengguncang pers tentang bagaimana generasi yang berbeda berhubungan dengan masalah privasi.

Tahun lalu, USC Annenberg Center of Digital Future merilis hasil penelitian yang menunjukan bahwa pengguna internet muda lebih nyaman berbagi data pribadinya daripada rekan-rekannya yang lebih tua. Menanggapi hal tersebut, Jeffery Cole direktur USC Annenberg Center of Digital Future menyatakan “privasi online sudah mati.” Namun beberapa bulan kemudian data baru menunjukan hasil yang sangat berbeda: Harris Interactive menemukan bahwa 78% dari pengguna internet muda menginginkan adanya privasi, dibandingkan 59% dari pengguna internet yang lebih tua. Pewinternet.org juga menemukan bahwa pengguna internet umur 18 sampai 29 tahun cenderung menghapus jejak browsing mereka, menonaktifkan cookies, dan memilih menggunakan nama samaran pada websitenya.

Jadi penjelasan mana yang benar?

Sebagian besar dari masalah di sini adalah sulitnya menjabarkan definisi “privasi”. Dalam banyak studi, responden tidak ditanya kepada siapa mereka khawatir menyembunyikan informasi pribadinya. Apakah mereka lebih khawatir pada pemerintah? Perusahaan? Atau orang yang mereka kenal dalam kehidupan nyata. Ian Miller, yang sedang melakukan penelitian doktor tentang psikologi dalam konteks sharing-online di Universitas Toronto, menyatakan tambahan informasi ini akan memberikan konteks berharga karena setiap generasi memiliki masalah privasi yang berbeda. “Dibandingkan dengan orang dewasa, remaja menganggap hal yang berbeda menjadi privasi. Mereka tidak meluangkan waktu untuk membuat rincian seperti usia, agama atau lokasi pribadi di Facebook meskipun mereka tahu bagaimana caranya.” Sementara menurut Pew, sebagian besar remaja mempublikasi nama asli mereka, di mana mereka tinggal, dan sekolah yang mereka hadiri pada jejaring sosialnnya.

Tapi Miller mengatakan bahwa remaja juga sangat cerdas dalam menyembunyikan kehidupannya yang sebenarnya, terutama dari orang tuanya. “Jenis privasi yang remaja inginkan adalah jenis privasi yang sama dengan yang mereka selalu inginkan,” katanya. “Dibandingkan melawan pemerintahan atau perusahaan, mereka cenderung melawan orang tuanya. Remaja tidak peduli jika Facebook tahu agama mereka, tapi mereka peduli jika orang tua mereka mengetahui tentang kehidupan sex-nya. “Seiring banyaknya pengguna Facebook yang cenderung sudah cukup tua, bahkan nenek pun sekarang bergabung dengan Facebook, remaja telah menjadi sangat terampil menyembunyikan bukti yang memberatkan fakta bahwa mereka pergi ke bar pada malam minggu, mengenakan kostum minim untuk pesta Hallowen, atau menghisap marijuana.

Danah Body, seorang professor di Pusat Internet dan Masyarakat Universitas Harvad , berpendapat bahwa remaja mencermati apa yang mereka bagikan secara online, karena itu merupakan cara mereka bernegosiasi dengan perubahan identitasnya. Di bukunya, It’s Complicated: The Social Lives of Networked Teens (Begitu Rumit: Kehidupan Jaringan Sosial Remaja), dia menjelaskan bagaimana remaja dengan seksama mengatur apa yang mereka bagikan berdasarkan perhatian orang-orang yang mereka inginkan.

Ini adalah kesempatan mereka – misalnya – untuk membuat kesan positif pada anak-anak keren di sekolah atau menyorot selera mereka dalam musik Indie untuk mengesankan orang yang sedang mereka taksir. Dengan kata lain, tekanan untuk menciptakan identitas unik mendorong remaja untuk mengungkapkan hal-hal secara umum, yang mungkin orang dewasa memilih untuk tidak melakukannya.

Jika dibandingkan dengan orang dewasa, remaja lebih peduli terhadap pengaturan privasi onlinenya, alasannya sederhana mereka lebih sering menggunakanya. “ Untuk orang dewasa, konsep privasi terkesan lebih abstrak; mungkin harus dijelaskan menggunakan prinsip-prinsip umum tentang hubungan seseorang dengan pemerintahan atau perusahaan,” kata Miller. Tetapi remaja mengerti bahwa privasi adalah sesuatu yang sangat asli dan nyata. Mereka tahu dengan jelas mengapa mereka perlu membatasi privasinya karena mereka tidak ingin satu temannya tahu hal ini ataupun hal itu. “Dari pengetahuan dan keahlian ini maka muncul-lah tingkat pengaturan kekuasaan. Ketika pengguna yang lebih tua menganggap berbagi informasi pribadinya sebagai sebuah kecemasan karena tidak bisa mereka kontrol sepenuhnya, remaja dengan cepat belajar menggunakan pengaturan privasi untuk keuntungannya.”

Pengguna internet yang lebih muda cenderung kurang memikirkan saat memberikan data mereka kepada pengiklan dan brand. Di Pusat Penelitian Annanberg, peneliti menemukan bahwa generasi milennia bersedia memberikan data pribadinya kepada brand jika mereka menerima keuntungan sebagai imbalannya. Sebagai contoh, 56 % generasi ini bersedia membagi informasi lokasinya demi mendapat kupon dari bisnis terdekat, dibandingkan dengan 42% dari pengguna usia 35 ke atas. Seperempat millenia bersedia menerima iklan bertarget, dibandingkan kurang dari seperlima pengguna yang lebih tua. Di sisi lain, kebanyakan pengguna yang lebih tua dihantui rasa curiga dengan membiarkan perusahaan menggunakan data mereka. Di awal tahun ini ketika Facebook mengumumkan akan menargetkan iklan berdasarkan kebiasaan browsing web pengguna, hal itu menerima kritikan dari organisasi seperti Pusat Elektronik Informasi Privasi.

Tapi sekarang, untuk remaja berbagi data dengan suatu perusahaan telah menjadi sesuatu yang lebih dari sebuah cara sederhana bertukar nilai. Orang muda tidak hanya setuju memberikan data mereka kepada perusahaan, mereka juga aktif menginformasikan brand apa yang mereka sukai. Sebagai contohnya, brand fashion Madewell membuat sebuah tas selempang kulit populer, yang telah memiliki pengikut setia kaum wanita di seluruh dunia dimana akan mengambil foto mereka sedang membawa tas tersebut dengan hastag #Totewell, berharap Madewell akan mempostingnya di situsnya.

Perusahaan ThisMoment, berspesialisasi dalam membantu mengatur konten yang membanjiri Twitter, Vine, Facebook dan Instagram, membuat sebuah dashboard untuk brand seperti Levi’s, Sephora, dan Cola-cola untuk melihat apa yang sedang diposting oleh pengguna ; jika sebuah brand melihat sebuah gambar yang bagus, brand bisa meminta ijin kepada pengguna untuk menggunakannya dalam pemasaran brand tersebut. Sejauh ini, ThisMoment telah mendapat 70% angka persetujuan dari pengguna. “Para millennia dan Gen Z ( mereka yang berumur dibawah 19) sedang berbagi konten dengan brand dalam jumlah yang besar, dan ini adalah perubahan dalam industri periklanan.” Kata Vince Broady, pendiri dan CEO ThisMoment .”Konten dari seorang teman dekat atau seseorang diluar sana, menjadi cara yang semakin penting agar pengguna merasa terhubung dengan brand.”

Broady percaya bahwa brand menjadi bagian penting dalam pencarian jati diri seorang remaja. : “Ketika anda mengkaitkannya dengan umur, daya tarik terhadap brand sangat terikat tehadap nilai, kepribaduan, dan pengekspresian diri.” Jelasnya. “Ketika orang muda membuat sesuatu yang menghubungkan mereka dengan brand, itu merupakan perwujudan dari apa yang mereka perjuangkan, tentu saja itu masuk akal bahwa mereka ingin membuatnya senyata mungkin.

Hal ini memiliki mentalitas yang berbeda jika menganggap suatu perusahaan yang jahat sedang berusaha mencuri data kita. Untuk remaja yang sudah menghabiskan hidup mereka membuat data online yang sama bernilainya dengan kehidupan asli mereka, ada sebuah hadiah psikologis yang menghubungkan mereka dengan brand. Konsep ini mungkin terdengar asing dengan generasi sebelumnya yang menggunakan sosial media bukan untuk membuat identitasnya, tapi hanya sebagai alat berkomunikasi.

Ketika perhatian pada privasi remaja semakin dekat membahas tentang bagaimana mereka menghubungkan brand dengan orang lain, para ahli kurang mengerti sepenuhnya bagaimana perasaan remaja saat pemerintah menggunakan data mereka. Ini mungkin dikarenakan situasi yang terus berubah-ubah. “ Hal ini masih belum jelas, bagaimana masalah ini akan mempengaruhi kebiasaan dan pilihan mereka di masa depan, tapi saya menjamin hal tersebut pasti terjadi.” Miller mengatakan “ Mereka tenggelam dalam pengetahuan ini dan hidup di dalamnya dengan cara yang sangat berbeda dari generasi sebelumnya.”

Remaja telah bermigrasi dari sosial media Facebook dan Twitter selama beberapa tahun terakhir, ke situs seperti Snapchat, Whisper, Klik, dan Secret yang lebih menyediakan privasi. Hal ini bisa menjelaskan bahwa sosial media yang sudah cukup tua, berhenti menjadi keren ketika orang tua bergabung dengannya, atau mungkin remaja memilih hidup di era Snowden dimana dengan sederhana mereka mengerti arti dari ke-anoniman (tidak diketahui siapapun). Untuk remaja tidaklah penting platform atau sarana yang digunakan, yang terpenting adalah mana yang bekerja terbaik sesuai kebutuhannnya.

Print Friendly, PDF & Email