“Para inovator tetap membenturkan kepalanya ke tembok sampai mereka  berhasil membuat pintu keluar. Mereka memiliki konsistensi akan apa yang mereka percayai”

– catatan editor –

Artikel asli dalam Bahasa Inggris oleh: Arik Gabbai

Ditranslasikan ke dalam Bahasa Indonesia oleh: Edy Kesuma

Dicek dan ditinjau ulang oleh: Reopan editor


 

Kevin Ashton adalah seorang inovator dan ahli analis konsumen yang mengenalkan istilah IoT atau “The Internet of Things” yang mendeskripsikan jaringan objek di dunia fisik yang terhubung ke dunia Internet. Dia memiliki sebuah buku baru berjudul, How to Fly a Horse: The Secret History of Creation, Invention, and Discovery, yang terbit pada 20 Januari nanti. Kami berbicara dengannya melalui email membahas tentang momen pencerahan, penemu yang kurang dihargai, kehidupan alien dan banyak lagi. Berikut petikan wawancara kami:

Anda menemukan istilah IoT atau “the Internet of Things” di tahun 1999, namun tetap terlihat sebagai konsep yang asing. Bagaimana anda menjelaskannya?

Di abad ke-20, komputer memiliki akal tanpa disertai perasaan, mereka hanya tahu apabila kita memberikan perintah. Terdapat batas besar, dimana informasi dunia bermilyar kali lebih banyak dari kemungkinan orang-orang mengetiknya melalui keyboard atau dari men-scan barcode. Di abad ke-21, karena faktor “internet of things” komputer dapat merasakan keadaan mereka sendiri.

 

IoT

IoT

Hanya perlu beberapa tahun, tapi kita telah menerapkan sensor jaringan sebagai jaminan. Salah satu contohnya adalah GPS – sensor berbasis lokasi. GPS bagi pengguna umum pertama kali disahkan melalui kongres tahun 2000 dan sistem GPS pada telepon seluler belum di uji coba sampai tahun 2004. Namun demikian sangat sulit dibayangkan jika dunia saat ini tanpa GPS. Teknologi ini membantu kita menemukan jalan-jalan di sekitar kita. Di masa depan yang mungkin terjadi sebentar lagi, teknologi ini akan memungkinkan hal seperti mobil yang dapat berjalan sendiri, dimana akan dapat mengembalikan 20 hari yang kita habiskan tanpa melakukan apa-apa kecuali mengemudi, akan dapat menghemat 40.000 kehidupan setiap tahun di U.S, akan mengurangi kemacetan dan polusi dan akan membuat kota berkembang tanpa perlu menyediakan banyak lahan untuk membuat jalan.

Kemampuan apa yang paling penting yang dapat dimiliki oleh seorang inovator?

Keuletan jauh lebih penting daripada bakat. Inovator tidak mengerjakan sesuatu yang belum pernah dicoba. Mereka mengerjakan sesuatu yang belum pernah diselesaikan. Perbedaan antara inovator yang sukses dengan yang tidak adalah inovator terus mengalami kegagalan sampai saat dimana mereka tidak mengalaminya lagi. Mereka memiliki gairah yang tidak masuk akal. Para inovator tetap membenturkan kepalanya ke tembok sampai mereka telah berhasil membuat pintu keluar.

Apakah anda percaya dengan “momen eureka” – suatu pencerahan atau momen datangnya wawasan dan inspirasi “brilliant”

Telah ada cukup banyak bukti bahwa “momen eureka” adalah hanya imajinasi dan kebenarannya masih diragukan. Saya menduga apa yang orang-orang persepsikan sebagai momen pencerahan hanyalah statistik yang pasti terjadi dalam beberapa kesempatan ketika sesuatu yang kreatif datang dengan cepat. Bayangkan ketika menembak bola basket jauh dari garis batas. Jika kamu melemparnya berkali-kali, salah satunya pasti akan masuk. Apakah itu momen pencerahan? Tidak: Bola harus mengarah ke suatu tempat. Namun menciptakannya adalah rentetan dari langkah-langkah yang penuh perhitungan, bukan hanya satu lemparan tinggi. Dalam pengalaman saya, orang yang paling produktif memiliki kepercayaan pada inspirasi. Hal itu bukan hanya kebetulan. Mereka tidak menunggu keajaiban datang. Mereka terus bekerja.

Siapa penemu yang paling kurang dihargai dalam sejarah?

Sejarah melebih-lebihkan peran dari individu, khususnya individu yang memiliki kekuatan. Sebagai hasilnya, penemu yang paling kurang dihargai adalah wanita, khususnya wanita bukan kulit putih. Dan penemu yang paling dilebih-lebihkan adalah pria, khususnya pria kulit putih. Salah satu contoh (sebenarnya ada banyak), Marietta Blau, wanita Yahudi, membuat kemajuan besar dalam bidang partikel fisika, sementara ada Cecil Powell, seorang pria Inggris, menerima hadiah Nobel hasil adaptasi dari karya Marietta Blau.

Apakah yang anda pikirkan tentang romantisasi terhadap daya cipta adalah kecenderungan modern?

Hampir semua mitologi tentang penciptaan sebagai salah satu praktek magis yang secera genetik hanya bisa dilakukan penyihir yang “diberkati” merupakan produk dari prasangka atau dugaan yang muncul di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Dari kebanyakan sejarah, penciptaan dilihat sebagai konsekuensi dari orang-orang biasa yang melakukan pekerjaan tidak biasa dan semua keberhasilan tersebut dialamatkan ke para raja dan para dewa. Penciptanya bahkan tidak diingat dan dibiarkan meromantisasinya sendiri.

Bagaimana bayangan anda pada kehidupan sosial manusia yang tentunya akan berbeda pada 100 tahun mendatang?

Nantinya kita pasti akan menemukan bentuk kehidupan di tempat lain di jagat raya, tidak hanya satu tapi bahkan banyak tempat. Penemuan itu akan memberi dampak yang sangat besar bagi kehidupan sosial. Saat ini, kita bersikap seperti Bumi adalah tujuan dari jagat raya dan kehidupan manusia adalah tujuan dari adanya Bumi, dan “bentuk kehidupan yang cerdas” hanyalah berarti sebagai alat untuk meningkatkan kualitas hidup, dan kita berada di puncak evolusi. 100 tahun dari sekarang kita akan menemukan bahwa kehidupan sangat berlimpah dan relung evolusioner yang kita tempati, dimana itu adalah “relung kreatif” yang berbahaya, dalam bagian tertentu karena konsekuensi tidak diinginkan seperti perubahan iklim dan hal itu hanya salah satu cara untuk bertahan hidup dan tentu saja bukan yang terbaik. Dampak sosial sangat sulit untuk diprediksi dan akan mengembangkan lebih banyak generasi dibandingkan dengan apa yang kita hasilkan pada 100 tahun mendatang. Namun tendensi yang kuat akan membawa lebih banyak keadilan dan kedamaian dari spesies kita dan dengan lebih rendah hati saling menghargai spesies lain dan tempat kita di alam semesta. Saya tahu hal itu terlihat tidak cocok, tapi saya merasa bergairah dan optimis. Masa depan kita nanti akan lebih cerah.


 

Print Friendly, PDF & Email