“Perkembangan chipset mobile semakin menjanjikan seiring dengan peningkatan penggunaan smartphone. Intel yang merupakan produsen chipset kelas atas untuk PC, dipaksa ikut bertarung di pasar kelas bawah chipset mobile. Namun faktor harga masih menjadi tantangan berat untuk Intel”

 – catatan editor –

Artikel asli dalam Bahasa Inggris oleh: Dana Levine

Ditranslasikan ke dalam Bahasa Indonesia oleh: Taufik Al

Dicek dan ditinjau ulang oleh: Reopan editor


Intel baru-baru ini mengumumkan bahwa prosesor tipe Core M terbaru mereka lebih cepat 2-3 kali lipat dari chipset kelas atas Qualcomm Snapdragon 801 dan 805. Hal ini tentunya patut kita apresiasi, namun Intel punya satu masalah yang cukup serius, yaitu harga. Chipset Core-M dihargai sekitar 281 dolar Amerika Serikat per pembelian 1000 unit , sementara Snapdragon 801 dihargai 41 dolar. Snapdragon 805 dijual dengan harga yang cukup premium, namun itupun masih ada di kisaran harga 100 dolar, harganya masih 1/3 dari harga chipset Core M. Dalam beberapa tahun kedepan, chipset berbasis ARM akan mengejar perbedaan tersebut (atau paling tidak mendekati) – Snapdragon 801 dan 805 sebenarnya dirilis hanya sebagai pembaharuan kecil sampai chipset 64-bit tersedia di pasaran awal tahun depan. Dan generasi terbaru dari chipset ARM akan dibuat dengan proses pabrifikasi 20nm, lebih kencang dan lebih hemat daya dari desain yang ada saat ini.

intelsnapdragon_green

Disinilah letak masalah Intel. Intel telah terbiasa menjual prosesor untuk PC dengan harga yang mahal. Sementara Qualcomm dikenal menjual prosesor untuk smartphone dan tablet dengan harga yang terjangkau. Harus kita akui bahwa pasar telah bergeser ke bawah, Intel harus menerima kenyataan bahwa pasar kelas atas untuk prosesor dengan harga premium mulai menurun. Selama ini, Intel bahkan tidak masuk dalam pasar ponsel murah – Hal ini biasa dilakukan oleh pemain kelas atas yang mulai terusik dari bawah. “Smarpthone” pertama masih dianggap mainan, dan tablet pun belum ditemukan.

Sejarah Komputasi Mobile

Saya masih ingat dengan Palm Pilot milik saya yang dirilis sekitar tahun 2001 dengan prosesor Motorola Dragonball 33 mhz – kemampuannya masih terbatas (saat itu saya memakainya untuk melihat jadwal dan main game Bejeweled). Saat itu Komputer pribadi saya menggunakan prosesor 733 mhz, dan menjalankan Windows XP. Waktu itu ponsel saya adalah Motorola Startac, fungsi utamanya hanya untuk menelpon (tidak ada fitur internet atau kamera, dan tidak ada aplikasi lainnya). Jika saya ingin benar-benar melakukan “sesuatu”, saya akan menyalakan komputer desktop saya (komputer yang cukup besar dengan monitor Trinitron CRT 19 inci).

Namun perlahan tapi pasti chipset mobile terus berkembang, dan orang-orang mulai bisa menggunakannya untuk banyak hal. Sekian lama hal ini hanya jadi semacam gurauan, namun ketika ARM11 dirilis (chipset yang dipakai iPhone generasi pertama dan perangkat-perangkat Android), Intel mulai menyadari bahwa para pemain baru ini semakin mendekat dan berpotensi mengancam posisi mereka. Sekitar lima tahun yang lalu, Intel merilis Chipset hemat daya Atom, yang memulai debut yang buruk di ranah netbook (lagi-lagi, respon dari pemain kelas atas yaitu dengan merilis versi yang lebih rendah dari teknologi yang mereka miliki). Atom terbukti cukup mumpuni untuk tablet berbasis Windows, dan berakhir sebagai platform untuk tablet kelas atas/ laptop kelas bawah (bukan hal yang paling menarik di pasaran, namun cukup baik menurut Intel). Atom kemudian berkembang menjadi lebih kecil setara prosesor berbasis ARM dan perlahan mulai mengejar, terus naik dari smartphone dengan resolusi rendah sampai tablet dengan resolusi tinggi. Saat ini, performa Snapdragon 801 dan 805 (tanpa menyebutkan Apple A7/A8) setara dengan prosesor Atom paling kencang. Bahkan, Chipset dari Qualcomm dirasa sudah cukup mumpuni untuk menjalankan aplikasi pada resolusi tinggi – banyak dari smartphone dan tablet terbaru menjalankan resolusi 1080p atau 2560×1440 (2K), setara dengan resolusi tertinggi yang didukung oleh layar komputer desktop saat ini.

Sebagai respon, Intel merilis prosesor mobile kelas atas terbarunya (Broadwell) prosesor ini menggunakan daya yang lebih sedikit dengan tetap menghadirkan performa yang baik. Hematnya penggunaan daya pada prosesor ini memungkinkannya berjalan tanpa kipas serta dapat digunakan pada perangkat super tipis (seperti tablet). Intel mengungkapkan bahwa Core M dapat berjalan di perangkat tablet kelas atas, dengan kisaran harga 700 dolar keatas (strategi ini serupa dengan strategi mereka dengan Atom). Hal ini tentu sangat baik, namun satahu saya, pasar untuk tablet dengan harga 700 US Dollar keatas saat ini cukup terbatas, dengan iPad sebagai pengecualian. Pasar yang sebenarnya adalah untuk smartphone dan tablet terjangkau. Dan mustahil untuk memakai chipset seharga 300 dolar untuk perangkat dengan harga 4-500 dolar. Jadi, apa yang digembar-gemborkan oleh Intel sebagai suatu “kemenangan” atas chipset berbasis ARM sebenarnya adalah pengakuan bahwa para kompetitor mereka terlalu nyaman bermain di pasar dominan.

Jalan yang Menanti di Depan

Saat ini, Intel punya dua pilihan. Yang pertama ialah berfokus membuat prosesor yang lebih baik dengan biaya yang rendah, daripada terus memperbaharui desain yang sama dari tahun ke tahun. Permasalahannya adalah mereka tidak benar-benar ingin melakukan hal ini – jika mereka membuat chipset murah dengan performa yang lebih baik, maka mereka akan kesulitan menjual chipset kelas atas. Jadi, pertaruhan terbaik Intel disini ialah dengan terus bergerak cepat untuk mengembangkan “state of the art” pada prosesor berbiaya rendah untuk menghadang laju pesaing-pesaing mereka. Bagaimanapun, karena fokus mereka adalah membuat prosesor kelas atas, maka hal ini akan selalu menjadi tujuan kedua, dan pada akhirnya mereka akan kalah dari pesaing-pesaing mereka yang memiliki “state of the art” pada produksi chipset berbiaya rendah.

Pilihan kedua untuk Intel ialah berhenti memproduksi prosesor kelas bawah dan berfokus hanya pada prosesor kelas atas. Perkiraan saya pada akhirnya mereka akan melakukan hal ini, entah sebagai pilihan ataupun karena terpaksa (ketika desain berbasis ARM membuat mereka mustahil untuk bersaing). Masalahnya, hal ini akan memunculkan gangguan dari bawah. Chipset “kelas bawah” akan terus meningkat performanya dan harganya semakin murah, hingga mereka mampu memenuhi kebutuhan hampir seluruh konsumen. Hanya tinggal menunggu waktu sebelum Apple merilis laptop berbasis prosesor seri-A mereka (paling cepat tahun depan, namun baru secara pasti pada tahun 2017), dan pada saat itu, keseluruhan dari pasar PC perlahan akan mengikuti. Pada akhirnya, Intel akan kehilangan pasar, dan akan berfokus pada server kelas atas (dimana mereka akan terus mendominasi untuk waktu yang cukup lama).

Sebagai catatan kaki, saya rasa AMD sudah berada pada jalur yang benar dengan melakukan transisi ke arsitektur berbasis ARM (jika tidak bisa menggungguli mereka, bergabunglah dengan mereka). Pertanyaan yang mencuat ialah seberapa cepat mereka akan berubah pikiran dan kemudian membuat produk-produk untuk melayani pasar baru mereka (tablet, ponsel dan perangkat pintar), daripada hanya berfokus pada server berbasis ARM. Namun yang pasti, persaingan chipset smartphone akan membawa pengguna kepada pilihan yang lebih banyak dan dengan pilihan harga yang menarik.

 

Print Friendly, PDF & Email