“Dari dalam bukunya, Mark Zachary Taylor memiliki pandangan bahwa negara-negara dengan ancaman politik luar negeri yang lebih besar memiliki potensi inovasi yang lebih baik, meskipun ada juga faktor-faktor lain yang mempengaruhinya. Salah satu sudut pandang ini mungkin bisa menjelaskan mengapa suatu negara bisa berhasil dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di dalam negeri mereka”

 – catatan editor –

Artikel asli dalam Bahasa Inggris oleh: Elizabeth Redden

Ditranslasikan ke dalam Bahasa Indonesia oleh: Edy Kesuma

Dicek dan ditinjau ulang oleh: Reopan editor


Judul dari buku yang dikarang oleh Mark Zachary Taylor, yaitu “The Politics of Innovation” (terbitan Oxford University Press), mempertanyakan mengapa ada negara-negara yang memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang lebih baik dibandingkan dengan negara lain. Dia berpendapat bahwa jawabannya terletak pada situasi politik dan mengajukan sebuah teori “Ketidakamanan Kreatif,” dimana tingkat inovasi harusnya lebih tinggi di negara-negara yang memiliki ancaman luar lebih besar dibandingkan dengan ketegangan di dalam negeri.

kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi

“Ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) menciptakan para pemenang dan pecundang, dan para pecundang seringkali beralih ke politik untuk menghambat inovasi,” kata Taylor, seorang Profesor Ilmu Politik di Georgia Institute of Technology, yang tertulis dalam pembukaan buku.“ Namun demikian, adanya ancaman luar membuat dukungan politik untuk ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi meningkat, dan menetralkan perlawanan politik dalam negeri pada inovasi.”

Taylor menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang bukunya melalui rangkuman email dibawah ini:

Q: Tampaknya ada dua pertanyaan utama dalam buku anda, yaitu bagaimana suatu negara bisa menjadi pemimpin di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi? Mari mulai dari pertanyaan bagaimana. Dan yang kedua adalah apa komposisi penting untuk bisa mendorong inovasi?

A: Inovasi diganggu oleh apa yang para ekonom sebut dengan kegagalan pasar. Kegagalan pasar adalah ketika pasar bebas harus memimpin orang-orang untuk berinovasi, tetapi gagal melakukannya. Misalnya, perusahaan swasta cenderung berinvestasi sangat seditkit di bidang penelitian dan pengembangan, karena takut hasilnya dapat dengan mudah ditiru oleh pesaing mereka. Demikian pula, perusahaan tidak akan berinvestasi banyak dalam pendidikan (ilmu pengetahuan, teknologi, teknik dan matematika) karena perusahaan hanya bisa memperoleh sebagian kecil keuntungan dari investasi tersebut. Mereka hanya melihatnya sebagai sesuatu yang sia-sia. Ada segudang contoh lain yang bisa saya eksplorasi dalam buku ini. Ketika pasar gagal, solusinya biasanya mengambil bentuk kebijakan lembaga pemerintah, seperti hak kekayaan intelektual, subsidi penelitian, pendidikan publik, riset universitas dan kebijakan perdagangan. Bahkan, saya menyebutnya sebagai Lima Pilar Inovasi di dalam buku ini. Mereka bisa berjalan karena mereka menciptakan atau menyehatkan pasar untuk ilmu pengetahuan dan teknologi. Tapi saya menemukan bahwa kebijakan pemerintah, seperti Lima Pilar, hanya membawa kita ke bagian kecil untuk memahami bagaimana negara berinovasi. Mereka meninggalkan sejumlah besar pertanyaan yang belum terjawab tentang bagaimana keberhasilan dan kegagalan tejadi.

Saya juga melihat contoh lembaga besar seperti demokrasi, kapitalisme dan desentralisasi politik. Mereka seharusnya membantu inovasi dengan memanfaatkan persaingan, mobilitas dan kebebasan. Memang, beberapa ekonom terkemuka berpendapat bahwa ketika lembaga-lembaga tertentu yang hilang atau rusak, maka bisa dijelaskan “Mengapa Negara Bisa Gagal.” Sekali lagi, saya menemukan bahwa mereka hanya menjadikan kita sebagai bagian dari keberhasilan dan kegagalan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Mereka masih meninggalkan banyak aksi-aksi yang belum dapat dijelaskan.

Artinya, ada banyak negara dengan kebijakan dan lembaga yang “baik” namun gagal untuk berinovasi banyak (misalnya, Norwegia, Austria, Italia). Juga, ada banyak negara dengan kebijakan dan lembaga yang “buruk” atau “tidak memilikinya” namun berinovasi dengan sangat baik (misalnya, Taiwan, Israel, Korea Selatan). Dan belum ada yang bisa mengidentifikasi dengan tepat mana lembaga atau kebijakan yang “benar.” Tentu, ada banyak teori yang menekankan betapa pentingnya ini atau lembaga atau kebijakan tersebut (misalnya, hak paten, pendidikan sains, subdisi penelitian dan pengembangan, riset universitas, dll). Tapi, dalam buku ini, saya menunjukkan bahwa meskipun institusi atau kebijakan X dapat menjelaskan keberhasilan di negara Y pada titik tertentu dalam suatu waktu, namun bisa juga mengalami kegagalan ketika diterapkan di negara lain atau bahkan di negara yang sama selama periode waktu yang berbeda.

Jadi, saya mencoba melakukan pendekatan yang berbeda. Saya menyelidiki beberapa kasus keberhasilan dan kegagalan negara dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan bertanya apa yang pemerintah berhasil lakukan (atau hindari) agar kegagalan tidak terjadi? Dua kejutan muncul dari penyelidikan ini. Pertama, saya menemukan bahwa tidak ada lembaga atau kebijakan terbaik yang harus dijalankan negara untuk bisa mencapai pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berdaya saing nasional. Berbagai negara telah berhasil dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menggunakan lembaga dan kebijakan yang sangat jauh berbeda. Oleh karena itu pemerintah memiliki lebih banyak kebebasan untuk memilih dan menyesuaikan strategi kebijakan mereka. Kedua, memecahkan masalah kegagalan pasar saja tidak cukup. Kebanyakan kisah sukses pengembangan IPTEK suatu negara juga melibatkan penggunaan jaringan sosial untuk mempersingkat akses mendapatkan tenaga kerja ilmu sains kualitas tinggi, pengetahuan teknis, modal investasi dan bahkan ahli-ahli pemasaran. Jaringan sosial memberikan informasi penting yang pasar bebas atau lembaga pemerintah tidak mudah tangkap, dimana jaringan-jaringan ini sering diabaikan karena kita lebih sibuk dengan lembaga dan kebijakan dalam negeri. Dan juga, karena informasi asing seringkali menjadi sumber pengetahuan yang paling sulit untuk ditangkap, jaringan internasional memainkan peran penting dalam kinerja ilmu pengetahuan dan teknologi suatu negara. Jadi menjelaskan inovasi bukan hanya cerita dalam negeri, namun juga memiliki sisi internasional.

Tentu saja, memahami bagaimana bangsa berinovasi tidak menjelaskan mengapa beberapa negara merancang dan menggunakan institusinya, kebijakan, dan jaringan untuk mendorong inovasi, sementara yang lain memilih untuk tidak. Artinya, tidak hanya lembaga atau kebijakan menyebabkan negara untuk berinovasi. Mereka hanyalah alat yang negara gunakan untuk bisa menjadi lebih inovatif. Tetapi bahkan alat yang tepat akan gagal untuk menghasilkan hasil ketika ditempatkan ke tangan yang salah, atau ke tangan orang yang pada dasarnya tidak termotivasi untuk menggunakannya dengan benar. Oleh karena itu dalam rangka menjelaskan mengapa beberapa negara memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi yang lebih baik, kita perlu mendapat penjelasan mengapa beberapa negara mengadopsi lembaga, kebijakan dan jaringan yang “benar” dan kemudian menggunakannya dengan benar dari waktu ke waktu, sementara yang lainnya tidak.

Q: Merujuk kepada pertanyaan mengapa, anda mengajukan teori “Ketidakamanan Kreatif,” yang mengatakan bahwa negara-negara umumnya memiliki tingkat inovasi yang lebih tinggi ketika ancaman eksternal yang mereka hadapi melebihi ketegangan politik atau ekonomi dalam negeri. Mengapa ketidakseimbangan ini penting? Apakah hal ini pararel dengan pemikiran “Momen Sputnik,” gagasan populer yang pernah muncul akibat adanya ketakutan tertinggal dibelakang negara asing lainnya yang kemudian merangsang konsensus kebutuhan investasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi dan pendidikan?

A: Keseimbangan antara ketegangan dalam negeri dan ancaman eksternal penting karena menentukan dukungan politik secara keseluruhan untuk semua lembaga-lembaga, kebijakan dan jaringan relasi. Inovasi adalah sesuatu yang mahal. Memiliki risiko. Dan juga yang menciptakan banyak “pecundang” dalam perekonomian, seperti: hilangnya pekerjaan, industri kuno mulai berguguran dan setiap uang yang dihabiskan untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bukanlah uang yang digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan, mensubsidi pertanian, pemotongan pajak, infrastruktur, gaji militer atau lapisan kantong elit. Jadi inovasi adalah sesuatu yang tidak masuk akal bagi pemerintah. Biasanya ada banyak tekanan untuk tidak menghabiskan uang atau mengambil risiko, kecuali ada perasaan meyakinkan tentang ancaman dari luar atau eksternal.

Sputnik adalah contoh yang bagus untuk Amerika. Tapi mengapa hanya terjadi satu kali saat itu? Dalam buku ini, saya bertanya apakah kita melihat dinamika yang sama di negara lain. Saya menemukan bahwa, di Israel, kebijakan politik yang sangat mirip digulingkan setelah Perang Enam Hari (1967) diikuti oleh Yom Kippur (1973), dan dikombinasikan dengan penurunan cepat dalam penerimaan devisa berharga. Tiba-tiba, Israel terancam secara militer dan ekonomi dengan cara yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Dan ini terjadi saat perpecahan politik yang begitu sengit di dalam negeri mengalami penurunan. Sebagai hasilnya, rakyat Israel mendukung terjadinya perubahan cepat dari poros ekonomi pertanian ke ekonomi berteknologi tinggi. Di Taiwan, perubahan dipicu oleh ancaman teknologi bom atom dan rudal dari China, pemangkasan bantuan keuangan dari Amerika, dan kemudian penghentian pengakuan dari Taiwan dan himbauan rekonsiliasi global dengan Cina. Sementara itu, konflik intens di dalam negeri antara pribumi Taiwan dengan penduduk yang direlokasi [anggota Partai Nasionalis China] telah berhasil ditenangkan. Para penduduk pulau tiba-tiba lebih bersatu, dan jauh lebih menentang adanya ancaman dari Cina daratan. Jadi dengan cepat Taiwan merestrukturisasi ekonomi dari yang sebelumnya berbasis sumber daya alam dan pertanian, menjadi ekonomi berteknologi tinggi.

Rasa takut tertinggal dibelakang dalam bidang militer atau ekonomi adalah motivator yang sangat kuat. Pemerintah, dan warga negara mereka, membutuhkan rasa persaingan. Karena tanpa itu, di dalam negeri sendiri mereka cenderung bertarung atau memperebutkan “barang-barang” hasil dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ada banyak kekuatan dalam negeri bekerja melawan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tanpa kekhawatiran atau rasa yang lebih mendesak akan adanya ancaman dari luar, hasilnya dari pemerintah adalah membiarkan saja atau bahkan mempersulit adanya kebijakan dan institusi yang bisa mendorong inovasi.

Q: Anda berpendapat bahwa ancaman terhadap keamanan ekonomi dan militer bangsa mempercepat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Di saat yang sama anda memperingatkan tentang risiko dari “kebijakan inovasi yang dikendalikan oleh konflik.” Apa manfaat dan risiko dalam menghubungkan kebijakan inovasi dengan kekhwatiran keamanan nasional terkait?

A: Manfaatnya adalah bahwa inovasi akan bisa berjalan. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat menciptakan ekonomi yang lebih kompetitif di pasar internasional. Inovasi dapat meningkatkan ekspor, sehingga menambah pendapatan devisa untuk bisa menjalankan impor strategis, seperti energi, pangan, bahan baku atau peralatan militer. Juga, sektor teknologi tinggi global yang kompetitif dapat memberikan dasar untuk industri pertahanan dalam negeri. Hal ini dapat mengurangi ketergantungan bangsa pada impor persenjataan asing. Di sektor sipil, pengembangan kemampuan teknologi tinggi lokal dapat mengaktifkan industri dalam negeri untuk memproduksi barang-barang strategis dengan kualitas baik dibandingkan membeli dengan harga yang mahal dari luar negeri, dari pemasok asing yang tidak dapat diandalkan atau bahkan rentan terhadap larangan permusuhan. Kompetitifnya IPTEK berbasis industri juga dapat menarik modal dari investor di negeri sendiri dan memikat investasi dari luar negeri. Sektor berteknologi tinggi juga menyediakan lapangan kerja bagi pekerja dan jalur karir yang menarik bagi kaum muda, sementara mereka bisa menambah keterampilan mereka.

Risikonya adalah bahwa gerakan dukungan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi akan menciptakan ketakutan bagi negara-negara asing saingannya. Dengan adanya ancaman eksternal yang berfungsi sebagai ancaman tetap, risiko dan biaya inovasi tanpa batas dapat dibenarkan. Jalur ini sebenarya tidak diinginkan diikuti oleh Amerika Serikat sejak Perang Dunia II. Awalnya, lembaga pertahanan di AS sebagian besar difokuskan pada penelitian sistem senjata dan obat-obatan medan perang. Namun seiring waktu, perlahan-lahan penelitian di bidang teknologi informasi, telekomunikasi, infrastruktur, sebagai kebijakan pendidikan juga, dan yang baru-baru ini investasi di bidang energi dan kesehatan umum mulai mengalami kemajuan. Jepang turut mengikuti jalan yang sama pada paruh pertama abad kedua puluh. Dan China tampaknya saat ini mulai mengejar itu.

Namun, dalam dunia yang ditandai dengan meningkatnya kebebasan informasi dan menyampaikan pendapat, strategi inovasi ini tidak dapat dibenarkan. Dalam masyarakat terbuka, peringatan palsu tentang ancaman dari negara lain bisa dengan segera diketahui kebenarannya. Dan juga, tanpa adanya ancaman kompetitif yang nyata, lembaga dan kebijakan IPTEK yang sudah dibuat akan berpotensi menjadi korup dan salah urus. Lebih parah lagi, di negara-negara yang menerapkan pembatasan informasi dan pendapat, strategi seperti ini sangat merusak. Musuh khayalan bisa saja menjadi nyata, mempertaruhkan konflik yang tidak perlu dan membuat kerusakan yang lebih parah. Dalam kedua kasus ini, inovasi menjadi mengarah ke sektor pertahanan dan militer di mana semua anggaran belanja dipertanyakan kecuali yang mengarah bidang pertahanan. Langkah yang jauh lebih cerdas adalah dengan menekankan kompetisi jangka panjang yang nyata dan ancaman keamanan, seperti efisiensi energi, perubahan iklim, penuaan dan penyakit. Dalam buku ini berpendapat bahwa perang dan negara militer tidak diperlukan dalam kepemimpinan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Q: Apa batasan dari pendapat anda dalam menjelaskan tingkat inovasi nasional? Apakah ada pengecualian yang anda identifikasi, negara-negara di mana teori “ketidakamanan kreatif” tampaknya tidak cocok digunakan untuk menjelaskan kemajuan inovasi? Apa lagi yang dibutuhkan dalam riset inovasi untuk membantu pemahaman mengapa beberapa negara memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi dari yang lebih baik dari negara lain?

A: Teori ketidakamanan kreatif tidak berusaha untuk menjadi teori universal dari segala hal. Teori ini memiliki beberapa keterbatasan yang perlu dipikirkan serius jika ingin semua potensinya bisa direalisasikan. Pertama, maksudnya menjadi probabilistik, bukan deterministik. Artinya, ketidakamanan kreatif menjelaskan dan memprediksi banyak variasi dalam tingkat inovasi nasional dari waktu ke waktu, namun tidak selalu bisa menjelaskan masing-masing atau setiap kasus yang terjadi sepanjang sejarah. Sebaliknya, klaim dalam buku ini adalah bahwa ketidakamanan kreatif memberikan kita penjelasan yang lebih baik untuk memahami tingkat inovasi nasional. Teori ini lebih pas dengan data, menjelaskan lebih banyak data yang ada dan menjelaskan lebih banyak faktor-faktor luar dan hasil yang tidak diharapkan dimana teori-teori lain gagal untuk menjelaskannya.

Kedua, teori ketidakamanan kreatif tidak mengesampingkan faktor-faktor penyebab penting lainnya. Inovasi memiliki banyak kekuatan pendorong yang kuat; Saya menyatakan bahwa, pada tingkatan Negara-Bangsa, rasa tidak aman kreatif adalah salah satu bagian dari mereka, tetapi belum tentu satu-satunya. Secara pribadi, saya berspekulasi bahwa budaya, ideologi, kepemimpinan individu, iklim dan bahkan psikologi sosial juga mungkin memainkan peran sebab-akibat yang penting dalam menjelaskan perbedaan tingkat inovasi nasional. Masing-masing faktor masih belum dipelajari dengan mendalam dan layak mendapat perhatian lebih dari para sarjana inovasi.

Ketiga, teori ketidakamanan kreatif memperkirakan adanya ketertinggalan dalam waktu dan dalam masyarakatnya. Artinya, teori ini tidak memprediksi perubahan yang terjadi seketika pada dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi ketika negara menghadapi perubahan keseimbangan antara ancaman eksternal dengan persaingan domestik. Dan juga tidak bisa memprediksi adanya kesepakatan yang berdampak luas pada dukungan atau perlawanan pada pengembangan IPTEK. Beberapa kepentingan individu dan kelompok akan mengubah pikiran mereka lebih cepat daripada yang lain. Beberapa mungkin tidak akan pernah berubah. Beberapa bahkan mungkin mendukung atau menentang ilmu pengetahuan dan teknologi di luar dari kebiasaannya, atau ideologi, atau kesetiaan dengan jaringan sosial mereka. Tapi rasa tidak aman yang kreatif tidak memprediksi bahwa rata-rata, perubahan keseimbangan persaingan domestik terhadap ancaman eksternal akan memicu perubahan pada dukungan politik untuk bidang IPTEK dari waktu ke waktu, dan dengan demikian mempengaruhi tingkat inovasi nasional.

Adalah hal yang penting juga untuk menekankan apa saja yang tidak diperdebatkan dalam teori ketidakamanan kreatif. Teori ini bukan berpendapat bahwa negara hanya akan berinovasi ketika terancam pada invasi asing. Jika memang seperti itu, maka Belgia, negara-negara Balkan, Irak dan Afghanistan harusnya menjadi negara-negara paling inovatif di dunia, sementara Amerika harus terjebak di era pra-industri. Ketidakamanan kreatif juga tidak berpendapat bahwa anggaran pertahanan dan pengadaan militer adalah tindakan yang sangat penting dalam pengembangan teknologi. Jelas, negara-negara penting seperti Jepang, Jerman dan Swiss (masing-masing negara dengan anggaran militer rendah) dan Arab Saudi (salah satu negara dengan anggaran militer paling besar) membuat adanya kekusutan dari pernyataan ini.