“Masyarakat yang baik ikut berperan serta membangun sebuah kota menjadi semakin pintar. Pintar bukan hanya dari sisi penggunaan teknologi, namun juga pintar dalam berinteraksi secara sosial, lingkungan dan pemerintahan. Salah satu unsur penting membangun gagasan Smart City atau Kota Pintar di masa depan”

 – catatan editor –

Artikel asli dalam Bahasa Inggris oleh: Diane Wang

Ditranslasikan ke dalam Bahasa Indonesia oleh: Edy Kesuma

Dicek dan ditinjau ulang oleh: Reopan editor


 

smart city kota pintar

Membangun Smart City

Telah ada banyak perbincangan yang membahas tentang gagasan Smart City atau Kota Pintar atau Kota Cerdas, dan bagaimana perwujudannya akan merepresentasikan masa depan kita. Sebutan tersebut telah meresap ke dalam perencanaan perkotaan, kebijakan pemerintah dan munculnya ruang bagi teknologi. (Kota-kota percontohan seperti Barcelona, Vienna, Vancouver dan lainnya memunculkan trend topik #smartcities challenge). Bagi sebagian besar orang, istilah “Smart City” bersinonim dengan “Kota Masa Depan.”

Ada beberapa orang ketika berbicara tentang Smart City maka mereka berpikir tentang penerapan salah satu teknologi angkut masal terbaru seperti Hyperloop yang diperkenalkan oleh Tesla. Sebuah khayalan dari Jetson. Bersih, estetika yang minimalis. Mobil bertenaga listrik, yang bisa menyetir sendiri. Dan teknologi-teknologi lain yang serba otomatis yang bisa memasak, membersihkan dan mengorganisir hidup saya untuk saya. Beberapa bentuk pertanian vertikal. Dan yang cukup lucu, kita telah hidup di masa depan yang AT&T bayangkan saat tahun 1994 lalu.

Sejujurnya, kota yang kita diami telah menjadi semakin pintar dan lebih pintar lagi sejak orang-orang mulai tinggal pertama kali. Kita telah melalui jalan yang panjang dari mulai membangun susunan tubuh pemerintahan, infrastruktur umum seperti sanitasi, pelayanan darurat, perlindungan kesehatan dan kita juga telah menemukan bagaimana cara mensuplai energi beserta kebutuhan lainnya seperti air, dan sumber panas untuk populasi yang besar dan padat. Alur ini secara alami menuntun kita ke arah Smart City seiring dengan bagaimana kita terus mengembangkan teknologi yang baru dan yang lebih baik lagi dalam kehidupan kita.

Namun adalah hal yang penting untuk mengingat bahwa mendesain sebuah Smart City bukan hanya tentang mendesain teknologi agar cocok diterapkan. Sebuah kota itu sendiri, melebihi teknologi yang berada di dalamnya. Ini disusun dari berbagai campuran berbagai faktor: pasokan energi, prosedur sanitasi, departemen kepolisian, departemen pemadam kebakaran, proyek perumahan, ruang publik, kebijakan dan pekerjaan umum.

Teknologi adalah apa yang membuat kita bisa membangun dengan lebih pintar, dengan proses yang lebih efisien dalam aspek perencanaan pembangunan kota. Apa yang kita perlu kita lakukan adalah mendesain infrastruktur perkotaan pada skala dan perkembangan sebagaimana sebuah kota lakukan. Saat ini, bukan hanya tentang membangun sebuah kota pintar, namun sebagaimana para penggerak Startup posisikan, yaitu membangun sebuah kota yang lebih baik lagi. Pada akhirnya, untuk siapa pendesaianan kota ini? Bagi orang-orang yang ada di dalamnya.

Terdapat dua cara untuk menjadi lebih pintar dan lebih baik dalam suatu hal.

  • Menganalisa bagaimana biasanya anda melakukan sesuatu untuk mengidentifikasi ketidakefisiensian, tahapan merugikan, dan peningkatan pada suatu hal untuk membuat prosesnya menjadi lebih pintar, lebih efisien dan lebih lancar.
  • Mengembangkan sebuah proses baru. Hal ini membutuhkan banyak persiapan pengedukasian dan pengimplementasian sebuah proses baru dimana prosedur resmi telah ada sebelumnya, namun dengan sistem yang tua dan tidak efisien dimana telah menjadi kebiasaan orang-orang yang berkecimpung di dalamnya.

Namun pertama…

Sebelum kita menciptakan sesuatu, kita perlu menentukan apa yang akan kita optimalkan. Apa ukuran sukses dari sebuah kota? Kebahagiaan penduduknya? Kesehatan ekonominya? GDP? Rata-rata kualitas kehidupan?

Mari kita melihat tingkat kebahagian orang-orang di dunia sebentar. Laporan dari Badan Kebahagiaan Dunia (The World Happiness Report) menunjukkan negara Denmark sebagai yang terdepan, dengan 7 ukuran karakteristik yaitu: GDP per kapita, dukungan sosial, tingkat harapan hidup, kebebasan untuk menentukan pilihan, keberagaman, persepsi tentang korupsi dan distopia. (Fakta menarik: Hong Kong berada pada rangking ke-75, dibelakang Kazakhastan, Colombia dan Libya). Jeffrey Sachs, dari Earth Institute Columbia, juga merilis sebuah laporan tentang kebahagiaan yang dia identifikasikan secara umum, dimana kesehatan jiwa adalah faktor terbesar yang menentukan kebahagiaan. Dan pada turunannya, kesehatan jiwa dipengaruhi oleh: pekerjaan, penghargaan diri, kepercayaan dan keamanan, standar kehidupan, rasa persamaan, dan keterlibatan sosial.

Lalu seberapa penting keberadaan teknologi Hyperloop nantinya bisa membantu penghargaan diri, kepercayaan, atau bahkan keamanan di dalam kota? Bukan bermaksud mengatakan bahwa keajaiban dalam mobilitas tidak secara langsung meningkatkan standar hidup dalam jumlah populasi yang besar. Namun sebagaimana yang Sachs katakan,

“Ekonomi ada untuk melayani orang-orang, bukan sebaliknya.”

Bukan hanya ekonomi, namun juga infrastruktur umum, kebijakan dan teknologi yang ada untuk melayani orang-orang di dalam sebuah kota yang berkonsep Smart City.

Apa yang kita lihat sementara ini adalah tantangan modern dalam infrastruktur perkotaan yang berpusat pada bidang-bidang berikut ini:

  • Mobilitas
  • Energi
  • Konektifitas
  • Pertumbuhan dan kepadatan populasi

Tantangan sosial juga harus bisa kita atasi pada saat bersamaan dimana hasil yang diharapkan adalah:

  • Persamaan atau keberagaman
  • Keterlibatan sosial atau akses (komunitas)
  • Sebuah standar kehidupan

Smart Cities 3.0

Acara Earth Overshoot Day dilaksanakan pada bulan Agustus tahun ini, dan hanya menjadi semakin menyeramkan dari sejak acara ini pertama kali diadakan. Jika kita melihat grafik yang disertakan dibawah, bisa dilihat betapa menyeramkannya berapa banyak bumi yang kita butuhkan untuk tetap hidup dengan cara yang kita lakukan sekarang. Pantas saja kita terus-menerus menggembor-gemborkan istilah “Sharing Economy” dan “Collaborative Consumption.” Di permukaan, hal ini memberikan kita cara untuk mengurangi jejak keburukan yang telah kita lakukan dan banyaknya “sesuatu” yang pernah kita gunakan dalam hidup. Sebagai contoh, kepemilikan mobil, mungkin saja menjadi sesuatu yang akan dikenang di masa yang akan datang.

Smart cities 3.0, sebagaimana yang dijelaskan oleh Boyd Cohen, adalah tentang bagaimana dukungan kreasi nyata dari penduduknya. Vienna sebagai contoh utama dari hal ini, dimana para penduduknya menjadi investor dalam rencana penerapan tenaga matahari lokal, secara aktif berkontribusi untuk tujuan sebuah kota 2050 dengan energi terbaharukan. Disini di Vienna, mereka dengan rapi menanggulangi dua isu pada saat bersamaan. Satunya adalah dengan menjadi sumber energi infrastruktur, dan kedua tentang keterlibatan sosial. Keikutsertaan sosial menuntun terbentuknya komunitas dengan level yang lebih tinggi dan mengijinkan terjadinya penyebaran aktifitas-aktifitas saling berbagi, seperti sarana perpustakaan penyewaan, berbagi penggunaan sepeda, berbagi ruang kamar untuk menginap ketika traveling dan lainnya untuk bisa diterapkan dengan sukses. Berbagai hal yang dapat berkontribusi dalam peningkatan kualitas hidup dan nantinya akan menuntun kepada lebih banyak kepuasan bagi para penduduk di kota Vienna.

Namun jika kita benar-benar melangkah maju ke bentuk ekonomi saling berbagi, dan pengurangan ketidakefisienan, bukankah itu berarti kita membutuhkan level kepercayaan yang lebih tinggi dan kolaborasi yang lebih sering dalam komunitas? Ekonomi saling berbagi, meskipun menguntungkan, hal ini tidak benar-benar bisa diterapkan di semua tempat. Dalam sebuah diskusi panel yang diadakan dengan Microsoft, telah diperlihatkan bahwa partisipasi ekonomi berbagi sulit diterapkan untuk populasi penduduk yang belum mendapatkan sarana pelayanan. Khususnya karena mereka tidak memiliki sumber daya yang bisa mereka bagi dan juga tidak dapat menghindari biaya untuk berbagi tersebut. Lalu bagaimana kita bisa memecahkan masalah perbedaan dalam gagasan Smart City ini?

Melihat Kedepan Tentang Gagasan Smart City

Pertanyaannya bukanlah bagaimana kita bisa hidup di masa depan, namun bagaimana seharusnya kita hidup. Dan yang paling penting, bersama-sama dengan orang lain. Smart City, automisasi, teknologi baru, semua hal yang baik dan bagus untuk meningkatkan standar kehidupan tidaklah selalu mengarah pada isu-isu sosial yang penting. Bahkan di masa Yunani kuno, Hippodamus, orang yang pertama kali melakukan perencanaan perkotaan, juga memahami bahwa diatas perencanaan infrastruktur, sebuah perencanaan kota seharusnya mempertimbangkan juga bagaimana cara menjelaskan tatanan sosial. Kota-kota ita dibangun untuk berbagai macam orang. Mereka yang kita ajak berkumpul bersama-sama, bekerja bersama-sama, bermain bersama-sama dan hidup bersama-sama. Apa yang membuat kota hidup adalah populasi yang mendiaminya. Dan alternatif sebaliknya adalah sebuah kota hantu, kota tanpa kehidupan.

Jadi mari fokus tentang bagaimana membangun sebuah kota yang lebih baik lagi dan menggunakan teknologi dan kebijakan untuk memecahkan berbagai masalah sosial dengan tidak hanya untuk demi kenyamanan kita sendiri. Pada kenyataannya, sebuah kota berkonsep Smart City juga merupakan sebuah tantangan dalam bidang politik.

 

Print Friendly, PDF & Email