“Tidak ada yang menyangka ketika kita memberikan tanda like di Facebook ternyata dapat digunakan untuk menggambarkan kepribadian kita. Jika dipikirkan dengan lebih logis, hal ini adalah masuk akal karena segala aktifitas like tersebut biasanya berkaitan dengan hal-hal kita sukai”

Artikel asli dalam Bahasa Inggris oleh: Issei Lapowsky

Ditranslasikan ke dalam Bahasa Indonesia oleh: Peraitha

Dicek dan ditinjau ulang oleh: Reopan editor


Dalam film “Her”, karakter Joaquin Phoenix jatuh cinta kepada sistem operasi komputernya, yang mana seperti mesin ajaib yang dapat belajar sendiri (dalam Hollywood) akhirnya Joaquin mengetahui bahwa komputernya memahami dirinya lebih baik dari siapapun. Ini merupakan bentuk kritik futuristik terhadap ketergantungan manusia pada teknologi. Namun sesuai dengan studi baru saat ini, masa depan mungkin tidak jauh berbeda.

Minggu ini, peneliti dari Universitas Cambridge dan Unversitas Stanford mengeluarkan sebuah hasil penelitian yang mengindikasikan bahwa Facebook mungkin lebih baik dalam menilai kepribadian seseorang dari pada teman terdekat, suami atau istri, dan dalam beberapa kasus, bahkan lebih baik dari dirinya sendiri. Penelitian membandingkan aktifitas “Like” Facebook seseorang dengan jawaban yang mereka berikan dalam kuisioner pribadinya, sama seperti jawaban yang diberikan oleh teman dekat dan keluarganya, dan menemukan bahwa Facebook lebih unggul dalam menilai orang tidak peduli apapun hubungannya dengan subjek.

Para peneliti mengatakan bahwa hal tersebut merupakan penemuan penting, secara khusus yang memberikan fakta bahwa sebenarnya manusia mengalami evolusi dan terancang untuk memiliki penilaian kepribadian yang bagus. Itulah yang menjaga kita jauh dari bahaya dan pengaruh di dalam setiap hubungan kita. Namun secara nyata, mungkin, komputer yang dirancang untuk membuat keputusan lebih baik dari manusia, dapat membantu menyelesaikan suatu permasalahan bias yang terjadi pada interaksi antar manusia. Kita sedang menjalankan mesin prediksi kepribadian” kata Michal Kosinski, seorang professor ilmu komputer di Stanford, “namun komputer melawan kita dalam permainan kita sendiri”

“Likes” Memprediksikan Apa yang Anda Sukai

Peneliti memulai penelitiannya dengan 100 kuesioner kepribadian yang menjadi viral setelah David Stillwell, seorang professor psychometric di Cambrige, mempostnya di Facebook pada tahun 2007 silam. Responden menjawab pertanyaan-pertanyaan yang akhirnya mengeluarkan lima kunci ciri kepribadian : keterbukaan, kehati-hatian, kepentingan, kepersetujuan, dan kegelisahan. Berdasarkan survey, peneliti memberikan nilai atas setiap jawaban responden. Peneliti menghitung seberapa besar kaitan jawaban responden dengan 5 ciri kepribadian tersebut.

Kemudian, peneliti membuat sebuah alogritma dan mengisinya dengan setiap nilai kepribadian responden, sesuai dengan data ”Likes” Facebook yang dengan sukarela diberikan oleh responden. Peneliti hanya menggunakan “Likes” yang dibagikan kepada setidaknya 20 responden. Hal tersebut memungkinkan model untuk menghubungan beberapa “Likes” ke beberapa ciri kepribadian. Jika misalnya, beberapa orang yang menyukai Snooki di Facebook memiliki nilai tinggi dalam kategori ramah, maka sistem akan mempelajari bahwa penyuka Snooki adalah orang yang ramah. Semakin banyak “Likes” yang sistem ketahui semakin bagus hasil penilaiannya.

Pada akhirnya, peneliti menemukan bahwa dengan setidaknya 10 informasi “Like”, hasil dari alogritma lebih akurat daripada penilaian yang diberikan oleh teman kuliah seseorang. Dengan 150 “Likes” penilaian akan lebih baik dari pada penilaian yang diberikan oleh keluarganya, dan dengan 300 “Likes” penilaian akan lebih baik dari suami/istrinya. Woww!!!

Apalagi pada beberapa kasus, model penelitian ini menemukan bahwa Facebook mampu mengetahui tentang anda lebih baik dibanding diri anda sendiri. Sebagai bagian dari penelitian, peneliti meminta responden untuk menjawab beberapa pertanyaan kongkret seperti berapa banyak alkohol yang anda minum dalam seminggu atau tipe karir seperti apa yang telah Anda pilih. Kemudian, mereka mencoba melihat apakah mereka mampu memprediksi seberapa banyak minuman yang seseorang bisa miliki dalam seminggu berdasarkan jawaban mereka dalam tes personaliti.

Sekali lagi, peneliti menemukan bahwa ‘Likes” Facebook adalah indikator yang lebih baik untuk memprediksikan kepribadian seseorang dibandingkan kuisioner. “Ketika seseorang mengambil kuisioner, mereka cenderung memproyeksikan dirinya lebih baik dari yang sebenarnya,” jelas Konsinski. “Ini adalah tekanan yang membuat penilaian komputer lebih objektif”.

Komputer Tidak Menyukai Siapapun Dari Kita

Ketika peneliti menyepakati bahwa hasil dari penelitian sangat mengejutkan, mereka mengatakan ada sebuah alasan bagus untuk itu. Permulaannya, komputer tidaklah pelupa. Ketika seseorang menilai orang lain mereka cenderung mengingat kejadian atau kebiasaan seseorang – atau hal paling dramatis – dalam interaksi yang pernah mereka miliki dengannya, sementara komputer memberikan semua jejak historis dalam penilaian yang sama. Komputer juga tidak memiliki pengalaman atau opini. Mereka tidak terbatasi dari referensi, dan mereka tidak menemukan kepribadiaan, kesukaan, ketertarikan seseorang dalam kata baik atau buruk. “Komputer tidak memahami bahwa kepribadian seseorang sebenarnya adalah secara lebih sosial ingin untuk lebih diinginkan/diperlukan” jelas Kosinski. “Komputer tidak menyukai siapaun dari kita”

Hal itu menjelaskan, bahwa komputer memiliki batas atas apa yang mereka bisa pahami. Mereka tidak bisa membaca ekpresi wajah atau isyarat seperti manusia. Dan Kosinski menyetujui bahwa penelitian seperti ini lebih efektif dilakukan diantara orang-orang yang muda, yang lebih suka berbagi informasi pribadinya di Facebook.

Tetap, Kosinski menolak ide yang menyatakan bahwa “Likes Facebook” hanya menunjukan aspek luar dari kepribadian seseorang. “Saya pikir itu merupakan hal yang berbeda” katanya. “Saya pikir komputer bisa melihat semua prasangka yang kita miliki”.

Hal itu, katanya bisa memiliki implikasi jauh melebihi Facebook. Tentu, data kepribadian ini bisa mengubah Facebook menjadi lebih dari sebuah rumah periklanan yang kuat dari yang sebelumnya. Tapi lebih penting lagi, Konskiski mengatakan, Facebook bisa membantu kita jauh dari prasangka buruk atau pengkategorian buruk orang lain. “Komputer tidak peduli jika anda seorang laik-laki, perempuan, tua, muda, hitam, putih” kata Kosinski. “ Ini memberi kita sebuah kemudahan untuk menilai kepribadian jutaan orang dengan sekali tekan”.

Print Friendly, PDF & Email