“Ibarat pisau yang memiliki dua sisi, sisi baik adalah sisi yang diharapkan dapat dimanfaatkan banyak orang. Begitu juga paten, memiliki tujuan baik dimana diharapkan membantu perkembangan inovasi dan melindungi penciptanya. Bukan sebaliknya dimana saat ini banyak disalahgunakan untuk menghambat inovasi”

– catatan editor –

Artikel asli dalam Bahasa Inggris oleh: Vivex Wadhwa

Ditranslasikan ke dalam Bahasa Indonesia oleh: Edy Kesuma

Dicek dan ditinjau ulang oleh: Reopan editor


Sebelumnya, Apple menderita kekalahan resmi dalam perang paten nya dengan Samsung. Adalah hal yang baik karena Apple mengklaim sesuatu yang remeh. Paten yang diperdebatkan dan diajukan ke dalam proses pengadilan untuk menunda kompetitor lain menimbulkan contoh buruk pada industri ini.

Karena masalah perang paten ini dan rembetannya, perusahaan-perusahaan teknologi dipaksa menghabiskan banyak sumber daya untuk mempertahankan diri mereka dibandingkan dengan memajukan inovasi yang mereka miliki. Hal ini sebanding dengan jenis perlombaan menciptakan senjata nuklir dan menciptakan situasi yang malah saling merugikan.

Apple dan Samsung telah menjalani perang paten dalam waktu yang cukup lama. Pada ronde terakhir di 2014, hakim memutuskan agar Samsung membayar Apple sebanyak $119,6 juta akibat kerugian melanggar tiga paten dari Apple. Ketiganya bukan merupakan hal yang bisa mengubah inovasi, mereka hanya sebuah fitur umum dan sederhana yang ada dalam smartphone.

perang paten

Perang Paten

Satu paten dideskripsikan seperti bagaimana mengubah sebuah nomor telepon menjadi sebuah tautan yang bisa di klik, lalu yang lain fitur “slide to unlock,” dan yang terakhir adalah sebuah cara yang sedikit berbeda tentang bagaimana membenahi ejaan secara otomatis (autocorrect spellings).

Tiga hakim menyetujui banding yang diajukan Samsung dimana dua paten pertama merupakan penemuan substansial yang telah ada sebelumnya dan seharusnya tidak pernah diijinkan. Mereka juga menyimpulkan bahwa Samsung tidak melanggar paten pembenahan ejaan otomatis dari Apple.

Jika banding ini berhasil dimenangkan, keputusan hukum yang diperoleh akan bisa menghentikan perang paten smartphone untuk sementara.

Apa yang terbaik bagi inovasi adalah dengan mengembangkan ekosistem dimana masing-masing perusahaan membangun idenya dan secara terus-menerus menyempurnakannya, dibandingkan dengan menghambat perusahaan lain yang berada di arena yang sama.

Merupakan kabar yang cukup buruk ketika perusahaan-perusahaan besar dengan kantong uangnya yang melimpah bertarung sama lain. Namun bagi perusahaan muda yang baru berdiri, pelanggaran hukum adalah sesuatu yang fatal.

Para inovator baru yang bagaikan seperti burung yang baru menetas harus berjuang hidup dengan ketakutan akan ancaman paten dari perusahaan-perusahaan besar yang bisa membuat mereka bangkrut seketika. Bagi perusahaan startup, ini adalah masalah yang lebih besar dibandingkan dengan seseorang yang mencuri ide mereka.

Hal ini membuat timbulnya pertanyaan besar: apakah kita membutuhkan paten di era dimana teknologi maju dengan sangat pesat yang bisa membuat semua platform komputasi menjadi ketinggalan jaman dalam waktu singkat dibandingkan waktu yang diperlukan untuk memenangkan sebuah gugatan paten?

Rekan saya, seorang professor hukum dari Universitas Stanford, Mark Lemley mengatakan ketika digunakan dengan tepat, paten bisa menjadi bernilai karena mereka dihasilkan dari proses transer teknologi yang nyata.

Namun perkara paten, seperti yang Apple ajukan di pengadilan, jarang menghasilkan hal yang baik bagi dunia.

“Pada kasus ini, mereka menghabiskan waktu bertahun-tahun, proses peradilan yang tidak terhitung, dan secara harfiah hampir menghabiskan uang sekitar satu milyar dolar untuk biaya pengacara dan ahli untuk mendapatkan sebuah ganti rugi tuntutan senilai $154.400, dan ironisnya, hal ini dialami oleh Samsung,” kata Lemley.

Dia mencatat bahwa pada awal kasus, Apple memenangi tuntutan ganti rugi yang cukup besar yang mungkin atau tidak bisa dipertahankan pada ketentuan yang diberikan oleh Mahkamah Agung. “Selain itu, tidak banyak hal yang berubah dari hasil keputusan perkara hukum tersebut,” Lemley menyimpulkan.

Dalam sebuah jurnal baru berjudul “Patent Licensing, Technology Transfer, & Innovation”, yang Lemley tulis bersama Robin Feldmen dari Universitas Hasting California, didapatkan kunci kesimpulan bahwa paten hanya akan bisa bermanfaat ketika mereka mengantarkan inovasi-inovasi kepada pengguna.

Hal ini telah terjadi di industri farmasi ketika sebuah perusahaan diijinkan untuk melarang pesaingnya dalam jangka waktu yang sudah ditetapkan agar bisa menutup kerugian atau biaya yang diinvestasikan dalam penelitian tersebut. Suatu nilai juga diciptakan ketika sebuah universitas mengetahui berapa lama menggunakan sebuah paten dan kapan seseorang bisa menyalin paten dari pemilik aslinya.

Walau demikian, jika sebuah paten tidak membantu inovasi untuk sampai ke tangan pengguna, ini bukanlah hal yang bisa membantu masyarakat pada umumnya.

Lemley dan Feldman menemukan bahwa perkara paten dan kebutuhan perijinan akan sebuah paten hanya terjadi setelah pihak tergugat telah mengembangkan dan menerapkan teknologi tersebut, khususnya ketika provokasi paten ikut termasuk. Dan mereka mengutip beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa provokasi paten bertanggung jawab pada sebagian besar pelanggaran hukum paten yang terjadi.

Ini berarti dibandingkan dengan transfer teknologi dari universitas, hampir setiap inovasi diciptakan dari paten teknologi. Oleh karena itu, adalah hal yang terbaik untuk menghapuskannya, terutama paten software, yang mana telah lama tersumbat dan terkumpul di kantor paten.

Universitas-universitas sangat ketat dalam masalah paten. Mereka berpendapat bahwa mereka membutuhkannya untuk melindungi ide dan penemuan mereka. Hal ini mungkin benar, namun hal ini menimbulkan pertanyaan lain: perlukan universitas menghasilkan keuntungan dari pendapatan perijinan yang awalnya diperoleh dari penelitian yang didanai oleh umum?

Tanpa menghiraukan jawabannya, dalam dampaknya yang lebih luas dalam inovasi adalah hal yang jelas bahwa paten tersebut tidak digunakan sesuai tujuan dari apa yang diharapkan ketika mereka dibuat. Mempertahankan paten demi mendorong munculnya penemuan-penemuan baru tidak akan terjadi, dan tidak lagi berjalan berdasarkan realitanya.

Paten diciptakan oleh penemu dari Amerika Serikat untuk sebuah alasan: “untuk menyebarluaskan perkembangan ilmu pengetahuan dan seni yang bermanfaat bagi banyak orang, dengan melindungi penciptanya dalam jangka waktu tertentu dan memberikan hak eksklusif kepada para penemu terhadap penulisan dan hasil penemuannya masing-masing.”

Gagasan ini dan konsep yang ada dibelakangnya adalah hal yang sangat penting ketika teknologi bergerak sangat lambat dan membutuhkan jalan-jalan investasi dan perlindungan dimana penemuan dalam dunia medis dan farmasi telah lakukan.

Mungkin terdapat contoh yang jarang dimana algoritma software yang unik membutuhkan suatu perlindungan. Namun semua hal ini bisa diperoleh melalui hukum-hukum hak cipta dan rahasia dagang.

Di era dimana teknologi berkembang secara eksponensial, satu-satunya perlindungan yang memang diperlukan adalah perlindungan dari kecepatan pasar dan keusangan teknologi. Teknologi-teknologi di area utama berubah dengan sangat cepat, dan seiring berjalannya waktu sebuah paten yang kikir akan kehilangan nilai inovasinya. Perang paten sebisa mungkin harus dihindari demi perkembangan inovasi teknologi di masa depan.

 

Print Friendly, PDF & Email