“Bagaimanapun juga, media sosial hanyalah sarana dalam menjalin hubungan. Sebuah jembatan yang disediakan ketika waktu dan jarak menjadi kendala ketika kita ingin mempererat jalinan relasi, baik itu pertemanan, kekeluargaan atau kekerabatan. Mengabaikan nilai dari sebuah relasi dan terlalu bergantung pada kehidupan maya malah memunculkan potensi bahaya media sosial baik bagi diri sendiri maupun kearifan bersosialiasi di masa depan”

 – catatan editor –

Artikel asli dalam Bahasa Inggris oleh: Neal Samudre

Ditranslasikan ke dalam Bahasa Indonesia oleh: Edy Kesuma

Dicek dan ditinjau ulang oleh: Reopan editor


Ketika saya memposting tentang kemungkinan meninggalkan media sosial, saya mendapat respon yang cukup mengejutkan. Orang-orang mengatakan itu berisiko, bahkan berbahaya. Mereka mengatakan saya tidak harus meninggalkan atau berubah haluan dari media sosial karena takut akan rasa kehilangan. Cukup aneh mengetahui seberapa cepat media sosial telah berasimilasi begitu dalam ke DNA jalinan relasi kita. Ketika pada awalnya kita mempertanyakan bagaimana cara kita hidup dengan hal itu, kita sekarang mempertanyakan bagaimana kita bisa hidup tanpanya. Dan seiring waktu melahirkan potensi bahaya media sosial dalam kehidupan kita.

Pada tingkatan tertentu, ini menjadi meresahkan karena kita tahu terdapat banyak kelemahan ketika menjalani relasi kehidupan di media sosial. Namun sayangnya, kita terlalu takut untuk memotong rantainya. Kita telah tumbuh terlalu melekat pada realitas media sosial.

bahaya media sosial media

Setelah banyak pembahasan, saya memutuskan untuk tidak meninggalkan media sosial (yaitu, Facebook). Tapi seluruh diskusi tentang potensi bahaya media sosial ini membuat saya benar-benar melakukan analisis mengenai apa saja yang menjadi unsur pro dan kontra dari media sosial.

Saya menemukan bahwa ternyata banyak orang sebenarnya menutup mata pada kekurangan-kekurangan dari media sosial karena mereka tahu mereka tidak bisa hidup tanpanya. Tapi mungkin inilah saatnya untuk menyadari bahaya yang awalnya tidak ingin kita sadari, karena inilah satu-satunya cara agar membuat pengalaman ber-online kita menjadi sehat.

Daftar di bawah ini bukanlah usaha saya untuk meyakinkan anda untuk menjauhi media sosial. Ini upaya saya untuk menentukan tingkatan penggunaannya dan membantu anda menyadari ada banyak bahaya jika terlalu mengandalkan media sosial dan menjadi alasan untuk bisa mengurangi atau meninggalkannya.

Berikut adalah beberapa potensi bahaya media sosial:

1. Validasi

Pada dasarnya kita selalu ingin diterima. Dan sosial media semakin memperburuk keinginan ini dalam bentuk pemberian tanggapan suka atau retweet. Mencari validasi online memiliki potensi bahaya karena mendorong kita untuk menegaskan diri kita sendiri bahkan melebihi dari kondisi yang sebenarnya. Saat ini bahkan semakin banyak orang yang mencari pengakuan eksternal untuk menilai diri kita sendiri.

Ketika kita mencari validasi, kita mencoba untuk menjelaskan siapa kita secara online, bukan tentang membesar-besarkan dari siapa kita sebenarnya. Jadi mengapa kita tidak menghilangkan semua validasi ini dari akarnya dan kembali menjadi diri kita yang asli.

 

2. Perbandingan

Ketika kita melihat pencapaian orang lain, berapa banyak dari kita yang iri pada mereka? Berapa banyak dari kita melihatnya sebagai media memperbandingkan diri, daripada terhubung membangun relasi? Seperti validasi, kita selalu melakukannya pada kenalan-kerabat kita. Namun dengan kemampuan media sosial yang mampu mengubah citra di mata orang lain, membuat kita semakin sering melakukannya. Ini saatnya bagi kita untuk berhenti membandingkan diri dengan orang lain dan menempatkan kembali kekuasaan di tangan kita sendiri, tentang bagaimana seharusnya kita menilai kelayakan kita sendiri di mata orang lain.

 

3. Kepahitan

Saya sering mendapatkan rasa pahit ketika seseorang menyukai status orang lain, namun bukan milik saya, atau ketika seseorang berbagi sesuatu dengan teman lain dan bukan dengan saya. Hal ini mungkin sepenuhnya masalah di hati saya sendiri. Tapi berapa banyak dari anda yang juga merasakan kepahitan dari apa yang anda lihat di media sosial? Mungkin obat terbaiknya adalah dengan mundur dari platform aplikasi yang hanya akan memberikan rasa pahit bagi hati anda.

 

4. Peduli Pada Hal Yang Salah

Saya terbiasa untuk lebih peduli pada hal-hal nyata, hal-hal seperti hubungan nyata saya dengan orang lain. Namun saat ini kita terbiasa disiram dengan kepedulian yang ada di dunia virtual – tentang bagaimana gambar yang harus saya perlihatkan di media sosial atau berapa banyak “suka” di foto Instagram saya. Berikan prioritas dari apa yang terjadi di saat ini dan bisa terlihat, bukan apa yang terjadi di dunia maya.

 

5. Kebisingan Pemberitahuan Media Sosial

Sebelumnya, saya biasanya meluangkan waktu untuk mencerna suatu konten. Saya akan membaca paragraf demi paragraf online lebih lama dan benar-benar menikmatinya. Tapi sekarang, saya hanya membaca daftar onlinenya saja. Kekacauan dan rentetan suara pemberitahuan yang begitu banyak membuat saya hanya melihat sekilas kepingan-kepingan informasi. Memang dengan cara ini, saya bisa membaca segala sesuatu yang diberikan kepada saya.

Namun kenyataannya, bagaimanapun anda menyaring suara ribut tersebut di dalam tumpukan informasi penting, anda hanya melihat informasi penting yang menguntungkan. Sayangnya hal ini menjadi semakin sulit dimana media sosial membagikan segalanya.

 

6. Kenyamanan Persahabatan

Kita tidak memiliki banyak resiko dengan relasi yang kita miliki saat ini. Sekarang menjadi lebih sulit untuk menelepon seseorang karena ada keterlibatan langsung diri kita sendiri. Daripada mengambil resiko, lebih mudah untuk melirik profil seseorang untuk mengetahui tentang dunianya. Sayangnya, walaupun memberikan kenyamanan dan kemudahan, tindakan ini membuat fondasi persahabatan yang kekal malah menjadi terancam. Dari interaksi langsunglah keakraban dalam persahabatan bisa terjalin dalam waktu yang lama. Berbeda dengan persahatan di dunia maya, anda bisa saja lupa kapan dan kenapa seseorang bisa muncul di dinding berita Facebook anda.

 

7. Membuang-Buang Waktu

Waktu adalah hal yang sangat berharga, yang berarti kita tidak boleh menyia-nyiakannya dengan orang-orang ataupun iklan yang tidak memberi umpan balik yang positif dari perhatian kita. Sosial media memaksa kita untuk membuang-buang waktu dengan hal semacam ini. Akan lebih baik menginvestasikan waktu berharga kita pada sesuatu yang membuat dunia dan d kita menjadi lebih bernilai.

 

8. Mengisolasi Diri

Di media sosial, kita berada di sebuah dunia yang di dalamnya terdapat dunia lain. Sangat mudah untuk menutup diri dari interaksi karena kita percaya interaksi online yang sudah kita lakukan sudah cukup pada suatu waktu tertentu. Sangat mudah untuk tidak melihat orang-orang sepanjang hari, namun tidak jika melihat mereka secara online.

Jauhkan diri anda dari kecenderungan untuk mengisolasi. Buat media sosial sebagai pendorong agar anda menjadi seseorang yang lebih baik di dunia nyata, bukan malah membuat anda jauh dari dunia anda yang sebenarnya.

 

Semua hal-hal yang saya sebutkan diatas memiliki potensi bahaya yang sama, baik jika anda tetap menggunakan media sosial ataupun meninggalkannya. Yang mana berarti kita bebas untuk memilih. Kita bebas memilih dan mengatur masalah yang kita inginkan. Kita bisa memutuskan bagaimana cara kita meningkatkan pengalaman di dunia maya. Dan dari semuanya, kita bisa memilih langkah-langkah terbaik bagaimana kita hidup saling menghormati dan hidup dengan lebih baik lagi. Pilihan ada di tangan anda sendiri. Pikirkan dan tentukanlah dengan bijak agar anda dan orang-orang terdekat anda terhindar dari bahaya media sosial.