“Xiaomi memang salah satu brand pembuat smartphone dari China. Meskipun masih baru dan belum begitu populer di Indonesia, produk dan dukungan layanannya diakui banyak penggunanya memiliki kesamaan yang mencolok dengan produk premium dari Apple”

– catatan editor –

Artikel asli dalam Bahasa Inggris oleh: Adriana Lee

Ditranslasikan ke dalam Bahasa Indonesia oleh: Edy Kesuma

Dicek dan ditinjau ulang oleh: Reopan editor


 

Lima tahun lalu, perusahaan elektronik Xiaomi bahkan tidak memiliki produk smartphone. Namun sekarang, perusahaan startup ini memiliki nilai hampir $45 milyar dan telah menjadi salah satu dari tiga perusahaan besar pembuat ponsel di dunia.

Jika anda mengikuti berita dari para eksekutif dunia teknologi, mungkin terlintas dalam ingatan anda kepada Xiaomi dimana Wakil Presiden Google Hugo Barra meninggalkan pekerjaannya yang nyaman satu setengah tahun lalu dan kemudian bergabung dengan perusahaan teknologi besar dari China. Saat ini pembuat smartphone ini seringkali disebut sebagai Apple-nya China. Xiaomi memperkenalkan berbagai produk terbaru mereka, termasuk phablet baru Mi Note yang memiliki spesifikasi kelas atas (namun dengan harga yang lebih murah) yang tampaknya ditujukan untuk menandingi iPhone 6 Plus.

Smartphone xiaomi logo

Logo Smartphone Xiaomi

Smartphone Xiaomi berkembang secepat kilat di negaranya sendiri dan berada di jalur persaingan yang sama dengan Apple, dimana pasar China adalah pasar dengan kepentingan yang besar. Pesaing ini secara jelas mengabaikan pasar Amerika, namun bukan berarti mereka tidak akan menjadi penguasa baru di negeri ini suatu saat nanti. Dimana faktanya, berbagai perencanaan mungkin sedang dalam proses menuju penginvasian teknologi di Amerika.

Jadi jika anda belum begitu akrab dengan perusahaan ini, berikut ini adalah hal-hal dasar dari perusahaan Xiaomi yang bisa menambah pengetahuan anda yang suatu saat nanti bisa merasuk ke dalam kehidupan digital.

Bagaimana Mengeja “Xiaomi”

Sesuai penjelasan dari Hugo Barra, penyebutannya hampir sama dengan “show me,” namun bagian awalnya tidak terdengar seperti huruf “o”. Coba pikirkan “shout me,” tanpa “t.” Bahkan terdapat perbedaan yang lebah jelas yang bisa terdengar baik dalam bahasa China, namun bagi orang-orang yang bukan orang asli China, hal ini cukup bagus untuk diterapkan.

Apa Arti Dari Kata “Xiaomi”

Xiaomi berarti “little rice” atau beras kecil dalam bahasa China, yang mana terdengar menawan dan seperti memungkiri tujuan besar yang ingin dicapai perusahaan ini.

Bagaimana Perusahaan Ini Bisa Berkembang

Perusahaan membuat smartphone untuk negara China, Taiwan, Singapore dan negara-negara Asia Tenggara, namun dengan penekanan yang lebih rendah – perangkat mereka dijual secara eksklusif secara online – sehingga bisa memberikan penawaran harga yang lebih baik. Mereka juga menggunakan komponen-komponen dari jajaran vendor luar dibandingkan membuatnya sendiri (atau berpura-pura melakukannya), sehingga mereka tidak harus berkompromi dengan spesifikasi hardware seperti yang perusahaan-perusahaan smartphone besar lainnya sering lakukan.

Para penggemar smartphone Xiaomi juga mengganggap bahwa mereka adalah brand lokal yang keren. Perkenalan produknya dihadirkan dalam acara seperti konser band rock, dan memiliki interaksi yang sangat aktif di media sosial. Dan juga, mereka mampu menyampaikan imej brand yang rendah hati dan peduli akan pengalaman penggunaan dari konsumen. Hal ini sangat membantu ketika terjadi kejadian buruk yang terjadi beberapa waktu lalu, dimana diketahui smartphone Xiaomi mengumpulkan daftar kontak yang dimiliki pengguna tanpa ijin pemiliknya. Xiaomi tidak berdalih, namun mengajukan permintaan maaf dan melakukan perubahan pada pengaturan dasar ponselnya. Negara Taiwan menyelidiki masalah tersebut dan pada akhirnya mengabaikannya.

Pandangan sinis lainnya dari sisi bisnis mengatakan: Xiaomi mendapatkan kesuksesan karena merebut produk orang lain. (Penjelasannya bisa dibaca dibawah).

Mengapa Smartphone Xiaomi Dipertimbangkan Sebagai Apple-nya China

Meskipun CEO dari Xiaomi Lei Jun membenci perbandingan tersebut, hal ini ada karena terdapat beberapa kemiripan yang mencolok antara produk dari iPhone dengan perangkat dari Xiaomi. Secara mudahnya, tablet terbaru Mi Pad tampak seperti lonceng kematian bagi iPad mini, dan beberapa orang mengatakan phablet Mi Note terbaru mereka mengambil contoh dari Apple iPhone 6 Plus. Apalagi tampilan sistem operasi yang menyerupai iOS, lengkap dengan warna yang cerah dan desain yang flat.

Dari keseluruhannya, apa yang menjadi kekurangan itu menjadi perhatian dari para konsumen. Dengan harga yang jauh lebih murah dari apa yang Apple dan saingannya yaitu Samsung berikan pada produk-produk kelas atasnya, salah satunya yaitu model iPhone 6 Plus dihargai hampir setara $1000 di China, konsumen bisa mendapatkan smartphone Mi Note dengan harga $370 untuk model standar dan $520 untuk model pro.

Phablet dengan layar 5,7 inci ini memiliki ketipisan hingga 6.95 mm dan dilengkapi dengan baterai 3200 mAh, layar lengkung Corning Gorilla Glass 3, dan kamera beresolusi tinggi dimana bagian depan memiliki kemampuan 4 MP dan belakang 13 MP, dengan optik dan apertura lebar beserta fitur image stabilisazer. Konsumen juga dapat menentukan pilihan menggunakan prosesor Snapdragon dengan RAM 3GB atau 4GB dan kapasitas penyimpanan dari 16GB atau 64GB, dan layar 1080 pixel atau 1440 pixel.

Model pro mungkin merupakan smartphone terbaik yang disukai di pasaran. Spesifikasi hardwarenya terlihat lebih bagus dibandingkan dengan iPhone 6 Plus, dimana kemampuan pengambilan gambarnya sebagus HTC One dan kemampuan idaman lainnya seperti audio kualitas tinggi, dukungan LTE yang super cepat dan dukungan dual SIM dalam nano SIM dan micro SIM untuk menjangkau lebih banyak jaringan.

Mengapa Mi Note Tidak Dijual Di Amerika

Mi Note diluncurkan di Taiwan pada kuarter keempat tahun kemarin, setelah itu, akan diberangkatkan juga ke pasar-pasar selain Amerika. Meskipun demikian, Xiaomi sebenarnya ingin meraih pasar Amerika, dan tahun ini, akan dimulai pengerjaan dan proses pengurusan pita jaringan LTE untuk produk yang akan dikeluarkan nantinya.

Xiaomi berhadapan dengan beberapa tantangan yang siginifikan untuk melakukan hal tersebut. Tidak sedikit dari kenyataan bahwa komponen-komponen smartphone dan desainnya sangat sulit dipatenkan, dan Xiaomi sendiri tidak memegang banyak paten untuk perangkatnya. Ini berarti akan memerlukan biaya yang sangat besar untuk melisensikannya sebelum dapat dijual di Amerika Serikat atau di benua Eropa. Bagi perusahaan yang kebanyakan menjual produknya hampir sama dengan biaya pembuatannya, ini adalah hambatan yang besar.

Smartphone, meskipun begitu, tampak seperti salah satu potongan dari Puzzle Xiaomi yang lebih besar. Perusahaan memiliki ambisi yang besar dan telah memberikan pondasi konsep rumah pintar (smart home) pada tempatnya. Perusahaan menjual perangkat-perangkat elektronik yang saling terhubung melalui situs Mi.com dan semuanya terhubung menggunakan software Xiaomi, sebuah varian dari Android yang disebut Miui. Terdapat catatan dari Stratechery Ben Thompson, seorang penulis dan konsultan teknologi yang berbasis di Taiwan, yang berkata:

… anda dapat berpendapat bahwa Xiaomi adalah perusahaan pertama “Internet of Things”: tidak seperti Google (Nest), Apple (HomeKit), atau bahkan Samsung (SmartThings), dan semua pihak yang menawarkan kecanggihan dimana semua perangkat terikat dan terhubung bersama-sama … Xiaomi mengintegrasikan semuanya dan menjual semua yang dibutuhkan melalui Mi.com kepada basis pelanggan untuk menyesuaikan dengan kebutuhan rumah mereka untuk pertama kalinya. Ini benar-benar sebuah strategi vertikal – akhirnya perusahaan ini memang menyerupai Apple – hanya saja produk yang mereka tawarkan memiliki jangkauan yang lebih luas dari apa yang dapat kita bayangkan.

Produk-produk mereka memiliki keterbatasan jangkauan, sehingga mereka hanya bisa berada di pasar Asia (dimana penegakan aturan paten masih kurang tegas dijalankan). Setidaknya untuk saat ini.

 

Print Friendly, PDF & Email